Penulis: Masrul Fajrin
TVRINews, Surabaya
Merebaknya isu super flu belakangan ini sempat menimbulkan kekhawatiran di masyarakat. Namun, Kementerian Kesehatan RI menegaskan bahwa super flu bukan virus baru, melainkan jenis influenza yang sudah dikenal lama.
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menekankan bahwa masyarakat tidak perlu panik berlebihan. “Tidak perlu khawatir berlebihan. Ini bukan seperti COVID-19. Ini adalah Influenza A (H3N2) yang sudah lama dikenal, namun kita harus tetap waspada dan selalu menjaga kebersihan serta pola hidup sehat,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Meski Jawa Timur tercatat sebagai wilayah dengan kasus super flu terbanyak, kondisi masih terkendali. Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Surabaya memastikan tidak terjadi lonjakan signifikan pada pelaku perjalanan, terutama saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Berdasarkan data klinik pos kesehatan Nataru di wilayah kerja BBKK Surabaya meliputi Bandara Juanda, Bandara Dhoho, Pelabuhan Tanjung Perak, Gresik, Tuban, dan Kalianget dari 533 kunjungan, hanya 20 orang yang mengeluhkan gejala ISPA. Padahal, jumlah pelaku perjalanan mencapai 990.043 orang.
Sementara itu, dari Pelaku Perjalanan Luar Negeri (PPLN) melalui Bandara Juanda pada Desember 2025, hanya 0,18 persen atau 194 orang dari 106.327 penumpang yang melaporkan keluhan ISPA.
“Dari data surveillance, keluhan ISPA tidak menunjukkan lonjakan signifikan. Kondisi masih aman terkendali dan sesuai pola flu musiman saat mobilitas masyarakat meningkat,” jelas Kepala BBKK Surabaya, Rosidi Roslan.
BBKK Surabaya memiliki prosedur pengawasan kesehatan di pintu masuk negara melalui Thermal Scanner dan Surveillance Sentinel Influenza-Like Illness (ILI). Swab hanya dilakukan jika penumpang memenuhi kriteria, misalnya suhu di atas 38 derajat dan batuk kurang dari 10 hari. Hingga saat ini, belum ada pelaku perjalanan yang memenuhi kriteria tersebut.
“Petugas kami selalu bersiaga setiap hari, bukan hanya saat isu penyakit menular ramai. Bila ditemukan kondisi yang memenuhi kriteria, kami akan melakukan pemeriksaan lanjutan termasuk swab. Sampai sekarang belum ada yang perlu diswab,” tegasnya.
Secara umum, super flu memiliki gejala mirip flu biasa, seperti demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala, dan lemas. Kasus terbanyak terjadi pada anak usia 1–10 tahun, dan sejauh ini tidak ditemukan peningkatan risiko komplikasi berat.
Editor: Redaktur TVRINews





