Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri menyambangi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk mendiskusikan insentif rencana merger tiga anak usaha.
Simon, saat ditemui di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat, mengatakan pertemuannya dengan Menteri Purbaya akan membahas beberapa poin terkait rencana merger PT Pertamina Patra Niaga, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan PT Pertamina International Shipping (PIS).
“Rencana integrasi bisnis hilir kami integrasi. Jadi, kami akan menggabungkan Kilang Pertamina Indonesia (internasional), Pertamina Patra Niaga, dan Pertamina International Shipping,” kata Simon.
Ketika dikonfirmasi, Simon membenarkan bahwa insentif akan menjadi salah satu topik pembahasan rapatnya bersama Purbaya. Tetapi, dia tidak mengelaborasi lebih lanjut soal rencana bentuk insentif yang akan diambil untuk memberikan keringanan proses merger.
“Termasuk (insentif),” jawabnya.
Baca juga: Pertamina NRE pertegas komitmen hadirkan energi bersih yang berdampak
Pertamina mulanya menargetkan penggabungan tiga anak usaha itu bakal rampung pada 1 Januari 2026. Namun, rencana aksi korporasi itu masih belum dapat diselesaikan.
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono, pada Rabu (19/11/2025), menyampaikan perseroan mendapat pengawalan dari Danantara Indonesia untuk melakukan integrasi di bisnis hilir, yang terdiri dari sektor comercial and trading, refinery dan kilang, serta logistik.
Agung memaparkan, proses streamlining atau strategi menyederhanakan operasional bisnis ini merupakan arahan dari Presiden RI Prabowo Subianto untuk mencapai swasembada energi dan mengurangi kompleksitas operasional.
Tujuan utama dari program streamlining ini adalah untuk dapat fokus kepada core business atau bisnis inti dari Pertamina, yaitu dalam bidang minyak dan gas, pengolahan hingga distribusi energi, serta energi baru terbarukan.
Baca juga: Pertamina pertahankan peringkat ESG tertinggi subindustri migas global
Selain itu, strategi ini juga diharapkan dapat menambah daya saing perusahaan, dan lebih efisien dalam pengambilan keputusan.
"Tentunya ditargetkan bahwa nilai tambah yang lebih besar bagi pemegang saham atau unlock value dapat dilakukan," terangnya.
Simon, saat ditemui di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat, mengatakan pertemuannya dengan Menteri Purbaya akan membahas beberapa poin terkait rencana merger PT Pertamina Patra Niaga, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan PT Pertamina International Shipping (PIS).
“Rencana integrasi bisnis hilir kami integrasi. Jadi, kami akan menggabungkan Kilang Pertamina Indonesia (internasional), Pertamina Patra Niaga, dan Pertamina International Shipping,” kata Simon.
Ketika dikonfirmasi, Simon membenarkan bahwa insentif akan menjadi salah satu topik pembahasan rapatnya bersama Purbaya. Tetapi, dia tidak mengelaborasi lebih lanjut soal rencana bentuk insentif yang akan diambil untuk memberikan keringanan proses merger.
“Termasuk (insentif),” jawabnya.
Baca juga: Pertamina NRE pertegas komitmen hadirkan energi bersih yang berdampak
Pertamina mulanya menargetkan penggabungan tiga anak usaha itu bakal rampung pada 1 Januari 2026. Namun, rencana aksi korporasi itu masih belum dapat diselesaikan.
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono, pada Rabu (19/11/2025), menyampaikan perseroan mendapat pengawalan dari Danantara Indonesia untuk melakukan integrasi di bisnis hilir, yang terdiri dari sektor comercial and trading, refinery dan kilang, serta logistik.
Agung memaparkan, proses streamlining atau strategi menyederhanakan operasional bisnis ini merupakan arahan dari Presiden RI Prabowo Subianto untuk mencapai swasembada energi dan mengurangi kompleksitas operasional.
Tujuan utama dari program streamlining ini adalah untuk dapat fokus kepada core business atau bisnis inti dari Pertamina, yaitu dalam bidang minyak dan gas, pengolahan hingga distribusi energi, serta energi baru terbarukan.
Baca juga: Pertamina pertahankan peringkat ESG tertinggi subindustri migas global
Selain itu, strategi ini juga diharapkan dapat menambah daya saing perusahaan, dan lebih efisien dalam pengambilan keputusan.
"Tentunya ditargetkan bahwa nilai tambah yang lebih besar bagi pemegang saham atau unlock value dapat dilakukan," terangnya.





