Iran Memanas, Bentrokan Pecah, Internet Putus Total, Khamenei Tolak Mundur

bisnis.com
13 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah Iran memblokir seluruh akses internet menyusul meningkatnya aksi protes yang disertai bentrokan dengan aparat setempat. Hal ini membuat negara teokrasi yang tersisa itu terputus dari dunia internasional. Informasi tentang kondisi terbaru sangat minim. 

Laporan Reuters menunjukkan bahwa bentrokan terus berlangsung. Sejumlah video menunjukkan bangunan dan kendaraan terbakar dalam protes anti-pemerintah yang berkobar di jalan-jalan beberapa kota. Puluhan orang dilaporkan tewas.

Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei bersumpah tidak akan mundur. Dia bahkan menuduh para demonstran bertindak atas nama kelompok oposisi emigran dan Amerika Serikat (AS).

Meskipun protes awal berfokus pada ekonomi, dengan mata uang rial kehilangan setengah nilainya terhadap dolar tahun lalu dan inflasi mencapai lebih dari 40% pada bulan Desember, protes tersebut telah berubah memunculkan slogan-slogan anti-rezim Iran. 

googletag.cmd.push(function() { googletag.display("div-gpt-ad-parallax"); });

Adapun, pemadaman internet telah secara tajam mengurangi jumlah informasi yang keluar. Panggilan telepon ke Iran tidak dapat dilakukan. Setidaknya 17 penerbangan antara Dubai dan Iran dibatalkan, menurut situs web Bandara Dubai.

Aksi protes warga Iran sudah dimulai akhir bulan lalu yang dimulai dari para pemilik toko dan pedagang tetapi segera menyebar ke universitas dan kota-kota provinsi. Para pemuda bentrok dengan pasukan keamanan.

Baca Juga

  • AS Sita Kapal Minyak Berbendera Rusia di Perairan Atlantik Utara, Dibantu Militer Inggris
  • Venezuela Tolak Kehadiran Pasukan Asing Usai Diserang AS
  • Iran Luncurkan 3 Satelit ke Luar Angkasa dari Wilayah Rusia

Pemerintah menyalahkan kerusuhan tersebut pada Organisasi Mujahidin Rakyat, sebuah faksi oposisi yang bermarkas di luar negeri yang memisahkan diri setelah Revolusi Islam 1979 dan juga dikenal sebagai MKO.

Seorang jurnalis TV pemerintah yang berdiri di depan kobaran api di Jalan Shariati di pelabuhan Laut Kaspia Rasht mengatakan: "Ini tampak seperti zona perang - semua toko telah hancur."

Video yang diverifikasi oleh Reuters sebagai yang diambil di ibu kota Teheran menunjukkan ratusan orang berbaris. Dalam salah satu video, seorang wanita terdengar berteriak "Matilah Khamenei!"

Pelanggaran HAM

Sementara itu, kelompok hak asasi manusia Iran, Hengaw, melaporkan bahwa pawai protes setelah salat Jumat di Zahedan, tempat minoritas Baluch mendominasi, telah disambut dengan tembakan yang melukai beberapa orang.

Pihak berwenang telah mencoba pendekatan ganda - menggambarkan protes atas perekonomian sebagai hal yang sah sambil mengutuk apa yang mereka sebut sebagai perusuh yang melakukan kekerasan dan menindak dengan pasukan keamanan.

Pemimpin Tertinggi, otoritas tertinggi di Iran, di atas presiden terpilih dan parlemen, menggunakan bahasa yang keras dalam pidatonya.

"Republik Islam berkuasa melalui darah ratusan ribu orang terhormat. Republik Islam tidak akan mundur menghadapi para perusak," katanya, menuduh mereka yang terlibat dalam kerusuhan berusaha menyenangkan Presiden AS Donald Trump.

Di sisi lain, Kepala Kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei dikutip oleh media pemerintah mengatakan bahwa hukuman bagi para perusuh akan "tegas, maksimal, dan tanpa keringanan hukum".

Oposisi Terpecah

Faksi-faksi oposisi eksternal Iran yang terpecah-pecah menyerukan lebih banyak protes, dan para demonstran meneriakkan slogan-slogan termasuk "Matilah diktator!" dan memuji monarki yang digulingkan pada tahun 1979.

Reza Pahlavi, putra almarhum Shah yang diasingkan, mengatakan kepada warga Iran dalam sebuah unggahan media sosial: "Mata dunia tertuju pada Anda. Turunlah ke jalan."

Namun, sejauh mana dukungan di dalam Iran untuk monarki atau untuk MKO, kelompok oposisi emigran yang paling vokal, masih diperdebatkan.

Trump, yang membom Iran musim panas lalu dan memperingatkan Teheran pekan lalu bahwa AS dapat membantu para demonstran, mengatakan pada hari Jumat bahwa dia tidak akan bertemu Pahlavi dan "tidak yakin bahwa itu akan tepat" untuk mendukungnya.

Jerman mengutuk kekerasan terhadap para demonstran, mengatakan bahwa hak untuk berdemonstrasi dan berkumpul harus dijamin dan media di Iran harus dapat melaporkan secara bebas.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Diganjar Satya Lencana, Badikenita Tegaskan Perlindungan Petani Prioritas Negara
• 15 jam lalueranasional.com
thumb
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto Sebut RSUD Kota Bekasi Punya Utang Rp70 M
• 17 jam laluidntimes.com
thumb
HUT Ke-53 PDIP Digelar di Ancol, Sekjen: Rakernas Bahas Sikap Politik hingga Geopolitik
• 23 jam lalurctiplus.com
thumb
Klarifikasi Inara Rusli Usai Dituding Mantan Mertua Lakukan Kekerasan ke Anak
• 18 jam laluinsertlive.com
thumb
Jadi Tersangka Kasus Kuota Haji, Segini Kekayaan Mantan Menag Yaqut Cholil Qoumas
• 19 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.