Bisnis.com, JAKARTA – Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menilai opsi sumber pendanaan bagi emiten EBT di Tanah Air berpotensi semakin terbatas dan kompetisi untuk memperoleh pendanaan akan meningkat, terutama bagi perusahaan yang masih bergantung pada pembiayaan global.
Seperti diketahui, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi menarik diri dari 66 organisasi internasional, termasuk di bidang energi bersih. Absennya negara adikuasa ini dari komitmen transisi energi global dinilai akan mengancam pendanaan proyek energi baru terbarukan (EBT) emiten nasional.
"Risiko pendanaan global bisa meningkat, tetapi dampaknya tidak merata. Emiten dengan proyek berjalan dan kontrak jangka panjang relatif lebih aman dibanding emiten yang masih bergantung pada pendanaan global," ujarnya kepada Bisnis, Jumat (9/1/2026).
Dari sisi pasar saham, sentimen global tersebut tercermin pada pergerakan saham emiten EBT. Sehari setelah Presiden Trump mengumumkan pengunduran diri AS dari sejumlah organisasi internasional, saham-saham EBT seperti PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO), PT Maharaksa Biru Energi Tbk. (OASA), PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA), hingga PT Barito Renewable Energy Tbk. (BREN) kompak ditutup melemah pada perdagangan Kamis (8/1/2026).
Namun, pada penutupan perdagangan Jumat (9/1/2026), sejumlah saham EBT mulai menunjukkan penguatan. Saham PGEO naik 1,27% ke level Rp 1.195, OASA menguat 2,15% ke Rp 380, dan TOBA naik 1,16% ke Rp 870. Adapun saham BREN masih melanjutkan koreksi sebesar 0,79% ke Rp 9.475.
"Koreksi tersebut belum mencerminkan pelemahan fundamental. Investor jangka panjang masih melihat EBT sebagai tema pertumbuhan struktural, seiring target RUPTL yang tetap berjalan. Komitmen pemerintah Indonesia tetap menjadi faktor utama bagi prospek EBT selama tidak ada perubahan kebijakan domestik," tandasnya.
Baca Juga
- Saham Energi Bersih Fluktuasi, Investor Cermati Dampak Kebijakan AS
- Profil Feisal Hamka, Putra Mahkota Raja Tol Jusuf Hamka yang Rajin Tambah Saham CMNP
- Aturan Baru Purbaya, APBD Pemda Maksimal Minus 2,5%
Pandangan senada disampaikan Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi. Ia menilai berkurangnya komitmen global berpotensi meningkatkan biaya pendanaan atau cost of fund emiten EBT, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kondisi fundamental keuangan perusahaan.
"Emiten EBT butuh pinjaman bunga rendah atau green financing untuk ekspansi. Kalau AS cabut, lembaga keuangan global mungkin akan lebih ketat atau menaikkan bunga pinjaman untuk proyek hijau karena risiko politik naik," kata Wafi.
Sementara itu, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi berpandangan, keluarnya AS dari organisasi energi bersih global tidak serta-merta mengganggu akses pendanaan emiten EBT di Indonesia. Menurut dia, sebagian besar pendanaan proyek EBT nasional berasal dari perbankan domestik, badan usaha milik negara, serta skema kerja sama jangka panjang dengan off-taker seperti PT PLN (Persero).
"Selama proyek memiliki kepastian kontrak dan arus kas, minat pendanaan tetap terjaga. Dengan demikian, isu global ini lebih berpengaruh pada sentimen jangka pendek, sementara fundamental emiten EBT Indonesia relatif tetap solid," tandasnya.
--
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.



