Pantau - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan melelang tiga Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) pada awal tahun 2026, termasuk WKP Gunung Ungaran yang sebelumnya dikelola oleh PT PLN (Persero).
Tiga WKP Siap Dilelang Awal 2026Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengungkapkan bahwa rencana lelang ini semula dijadwalkan pada tahun 2025, namun mengalami penundaan.
"Harusnya dua (dilelang) tahun lalu, terus ada arahan baru untuk ditambah satu. Kemarin Pak Menteri (ESDM Bahlil Lahadalia) minta itu nggak dikembalikan ke PLN, itu Ungaran," ungkapnya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (9 Januari 2026).
Tiga WKP yang akan dilelang antara lain Telaga Ranu di Maluku Utara, Songgoriti di Jawa Timur, dan Danau Ranau di Sumatera Selatan.
Masing-masing wilayah tersebut memiliki potensi listrik sebesar 40 megawatt (MW).
Gunung Ungaran menjadi wilayah tambahan yang akan dibuka untuk investor swasta setelah izinnya dicabut dari PLN pada kuartal II tahun 2025.
"Intinya itu salah satu yang kemarin diumumkan itu adalah dulunya PLN, tetapi sudah enggak digarap, akhirnya dicabut. Nah, keputusan Pak Menteri tidak akan dikembalikan lagi ke PLN, dibuka saja ke swasta agar lebih cepat," ia mengungkapkan.
Dorong Energi Terbarukan Lewat Keterlibatan SwastaPenundaan lelang dua WKP dari tahun sebelumnya disebabkan oleh banyaknya dokumen dan persyaratan administrasi yang harus dipenuhi.
Pemerintah berharap dengan membuka WKP ke pihak swasta, percepatan pengembangan energi panas bumi dapat tercapai.
Langkah ini juga sejalan dengan pencapaian bauran energi baru dan terbarukan (EBT) di sektor ketenagalistrikan yang telah mencapai 16,3 persen, melebihi target dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) sebesar 15,9 persen.
Namun jika dihitung secara keseluruhan termasuk biodiesel dan energi lainnya, bauran EBT tercatat sebesar 15,75 persen.
Angka tersebut meningkat 1,1 persen dibandingkan dengan bauran EBT tahun 2024 yang tercatat sebesar 14,65 persen.



