Penulis: Fityan
TVRINews-Rabat, Afrika Selatan
Brahim Diaz Cemerlang, Singa Atlas Singkirkan Kamerun dalam Laga Sengit
Tim nasional Maroko akhirnya menunjukkan performa kelas dunia yang dinanti-nantikan publik tuan rumah.
Dalam laga perempat final yang berlangsung tensi tinggi di Stadion Prince Moulay Abdallah jumat 9 Januari 2026, tim asuhan Walid Regragui sukses menumbangkan Kamerun untuk mengamankan tiket ke semifinal Piala Afrika (Afcon).
Kemenangan ini menjadi titik balik bagi Maroko setelah sempat tampil kurang meyakinkan di fase grup.
Tuan rumah yang memikul beban ekspektasi besar mengingat mereka belum pernah menjuarai turnamen ini dalam 50 tahun terakhir akhirnya tampil dengan intensitas yang mengingatkan publik pada kesuksesan mereka di semifinal Piala Dunia dua tahun lalu.
Dominasi Sejak Menit Awal
Didukung oleh atmosfer luar biasa dari suporter tuan rumah, Maroko langsung menekan sejak peluit pertama dibunyikan. Strategi pressing agresif yang diterapkan Regragui membuat Kamerun kesulitan mengembangkan permainan.
Gol pembuka lahir pada babak pertama melalui skema bola mati. Berawal dari sepak pojok keenam, Ayoub El Kaabi memenangi duel udara dan mengarahkan bola ke tiang jauh. Brahim Diaz yang berdiri bebas berhasil menyontek bola untuk mencetak gol kelimanya di turnamen ini.
Maroko menggandakan keunggulan pada menit ke-74. Berawal dari situasi tendangan bebas yang menciptakan kemelut di kotak penalti, Ismael Saibari melepaskan tembakan sudut sempit yang menghujam gawang Kamerun, sekaligus mengunci kemenangan bagi tuan rumah.
Pelatih Maroko, Walid Regragui, yang sebelumnya sempat mendapat kritik dan cemoohan dari sebagian suporter saat melawan Tanzania, menegaskan soliditas timnya usai laga.
Kamerun dan Polemik Internal
Di sisi lain, kekalahan ini mengakhiri perjalanan mengejutkan Kamerun. Tim tamu datang ke turnamen dengan persiapan yang kacau akibat konflik internal antara kementerian olahraga dan federasi sepak bola mereka.
Meski tampil jauh lebih koheren di bawah asuhan pelatih David Pagou, mereka tampak kewalahan menghadapi kecepatan dan agresi Maroko.
Meskipun terdapat protes terkait penunjukan wasit Dahane Beida dari Mauritania secara mendadak, pelatih Kamerun David Pagou menolak menyalahkan kepemimpinan wasit atas hasil tersebut, dan lebih memilih menyoroti kondisi pertandingan yang "menantang".
Kemenangan ini tidak hanya membawa Maroko ke semifinal, tetapi juga meredam tekanan politik dan sosial yang membayangi Regragui.
Dengan investasi besar pada infrastruktur sepak bola jelang menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2030, gelar juara Afcon menjadi harga mati bagi publik Maroko.
Dengan keseimbangan antara kreativitas lini depan dan ketenangan di lini pertahanan, Maroko kini terlihat sebagai kandidat kuat untuk mengangkat trofi dan mengakhiri penantian panjang mereka.
Editor: Redaktur TVRINews



