Khamenei Ancam Tindak Keras Demonstran Iran

tvrinews.com
19 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Fityan

TVRInews – Teheran, Iran

Rezim Teheran bersumpah tidak akan mundur di tengah gelombang protes yang kian meluas dan pemutusan akses internet.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mundur menghadapi gelombang protes yang kian meluas, sekaligus memberi sinyal akan adanya tindakan hukum dan keamanan yang lebih keras terhadap para demonstran.

Eskalasi ketegangan di Iran mencapai titik baru setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei bersumpah untuk menindak tegas gerakan protes yang terus berkembang. 

Dalam pidato pertamanya sejak demonstrasi pecah pada akhir Desember lalu, Khamenei melabeli para pengunjuk rasa sebagai "vandal" dan "sabotase." Jumat 9 Januari 2026.

Khamenei menuduh kekuatan asing berada di balik kerusuhan ini. Ia mengklaim para demonstran bekerja demi agenda luar negeri untuk melemahkan kedaulatan Iran. 

"Mereka merusak jalan-jalan mereka sendiri untuk menyenangkan presiden negara lain," ujar Khamenei, merujuk pada pernyataan dukungan dari pihak Amerika Serikat.

Krisis Ekonomi dan Tuntutan Reformasi

Gelombang protes kali ini dipicu oleh depresiasi tajam nilai mata uang nasional. Namun, aspirasi massa dengan cepat berubah menjadi tuntutan reformasi politik total dan pengakhiran kekuasaan rezim yang telah memimpin sejak 1979.

Di distrik Sadatabad, Teheran, saksi mata melaporkan massa melakukan aksi protes dengan memukul panci dan meneriakkan slogan anti-pemerintah. Sementara itu, laporan dari berbagai kota seperti Mashhad, Tabriz, dan Qom menunjukkan partisipasi massa yang masif, menyerupai skala gerakan "Woman, Life, Freedom" pada tahun 2022.

Tekanan internasional pun mulai berdatangan. Pemimpin Prancis, Jerman, dan Inggris dalam pernyataan bersama mendesak Teheran untuk menahan diri. "Kami sangat prihatin dengan laporan kekerasan oleh pasukan keamanan Iran dan mengutuk keras pembunuhan para pengunjuk rasa," bunyi pernyataan tersebut.

Pemutusan Akses Internet dan Korban Jiwa

Untuk meredam mobilisasi massa, otoritas Iran menerapkan pemadaman internet total sejak Kamis 8 januari 2026 malam. 

Kelompok hak asasi manusia, Amnesty International, menyatakan bahwa langkah ini merupakan upaya untuk menyembunyikan skala pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di lapangan.

Data dari organisasi Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia menyebutkan sedikitnya 51 demonstran, termasuk sembilan anak-anak, telah tewas akibat tindakan keras aparat keamanan. Selain itu, lebih dari 2.270 orang dilaporkan telah ditahan oleh pihak berwenang.

Seorang demonstran di Teheran, Maryam (25), menggambarkan situasi mencekam di lapangan. "Mereka membidik mata," ungkapnya melalui pesan singkat. "Pasukan Faraja, Basij, dan skuad berpakaian sipil menabrak kerumunan dengan sepeda motor. Kami tetap di jalanan meski dalam ketakutan."kutip The Guardian.

Respons Pemerintah dan Tuduhan Sabotase

Media pemerintah Iran mulai mengakui adanya protes tersebut namun membingkainya sebagai kerusuhan yang dihasut oleh "agen teroris" dari AS dan Israel. 

Televisi pemerintah bahkan mengeklaim telah menangkap sel mata-mata Mossad yang berencana melakukan operasi infiltrasi.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang berbicara dari Beirut, memperkuat narasi tersebut. "Protes ini berbeda karena adanya intervensi AS dan Israel. Anda bisa melihat pernyataan mereka untuk memahami tingkat campur tangan tersebut," tegasnya.

Di tengah kebuntuan ini, tokoh oposisi di pengasingan, Reza Pahlavi, terus menyerukan aksi protes lanjutan. 

Situasi di Iran kini berada pada titik kritis, di mana krisis ekonomi yang parah berpadu dengan ketidakpuasan politik yang mendalam, menguji ketahanan rezim Teheran di hadapan rakyatnya sendiri.

Editor: Redaktur TVRINews


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Darurat Sampah di Pasar Induk Kramat Jati: Tembok Jebol, Warga Sekitar Terganggu Bau Busuk
• 18 jam lalukompas.tv
thumb
Saat Gus Yaqut Tersangka Korupsi Kuota Haji: Siap Koperatif-Respons Gus Yahya
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Wali Kota – Sekda Makassar Tinjau Lokasi Banjir di Biringkanaya, Cari Solusi Permanen Sungai Biring Je’ne
• 8 jam laluharianfajar
thumb
Cuaca Ekstrem, Penyeberangan Jangkar–Sumenep dan Jangkar–Lembar Ditunda
• 14 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Skor 3-3, Wrexham Singkirkan Nottingham Forest Lewat Drama Adu Penalti
• 23 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.