Canberra (ANTARA) - Para ilmuwan telah mengidentifikasi mekanisme seluler di balik alasan wanita mengalami nyeri usus kronis yang lebih parah daripada pria, dan menghubungkan perbedaan jenis kelamin tersebut dengan estrogen.
Para peneliti di Australia dan Amerika Serikat melaporkan dalam jurnal Science bahwa estrogen adalah penyebab utamanya, demikian pernyataan dari South Australian Health and Medical Research Institute (SAHMRI) pada Jumat (9/1).
"Kami menemukan bahwa estrogen secara langsung memperkuat komunikasi antara dua jenis sel usus khusus, sehingga memicu peningkatan sensitivitas terhadap sinyal nyeri pada perempuan," kata profesor SAHMRI Stuart Brierley, yang melakukan penelitian ini bersama para ilmuwan dari Universitas California, San Francisco.
Estrogen mengaktifkan jalur kolon (usus besar) yang meningkatkan pelepasan hormon usus PYY, yang selanjutnya merangsang produksi serotonin dan membuat saraf penghantar nyeri menjadi sensitif, ujar Brierley, yang juga berasal dari Universitas Adelaide, Australia.
"Jika kami dapat menginterupsi jalur ini pada titik yang tepat, kami mungkin dapat mengurangi nyeri usus kronis tanpa memengaruhi fungsi pencernaan normal dari hormon-hormon tersebut," katanya.
Penemuan ini merupakan langkah besar menuju pengembangan terapi yang lebih personal untuk kondisi nyeri usus kronis seperti sindrom iritasi usus besar, serta gangguan nyeri viseral parah lainnya, seperti endometriosis, demikian sebut pernyataan itu.
Studi ini juga menunjukkan bahwa estrogen meningkatkan respons usus terhadap asam lemak rantai pendek yang dihasilkan ketika bakteri mengurai makanan, sehingga menjelaskan mengapa intervensi pola makan seperti diet rendah FODMAP dapat mengurangi gejala pada sebagian orang.
"Kami kini memahami bahwa makanan tertentu dapat memengaruhi jalur yang sensitif terhadap estrogen ini melalui metabolit yang dihasilkannya," kata Brierley.
Dia menambahkan bahwa temuan ini memberikan dasar biologis yang lebih jelas mengenai mengapa perubahan pola makan dapat membantu serta bagaimana hal tersebut dapat disempurnakan.
Para peneliti di Australia dan Amerika Serikat melaporkan dalam jurnal Science bahwa estrogen adalah penyebab utamanya, demikian pernyataan dari South Australian Health and Medical Research Institute (SAHMRI) pada Jumat (9/1).
"Kami menemukan bahwa estrogen secara langsung memperkuat komunikasi antara dua jenis sel usus khusus, sehingga memicu peningkatan sensitivitas terhadap sinyal nyeri pada perempuan," kata profesor SAHMRI Stuart Brierley, yang melakukan penelitian ini bersama para ilmuwan dari Universitas California, San Francisco.
Estrogen mengaktifkan jalur kolon (usus besar) yang meningkatkan pelepasan hormon usus PYY, yang selanjutnya merangsang produksi serotonin dan membuat saraf penghantar nyeri menjadi sensitif, ujar Brierley, yang juga berasal dari Universitas Adelaide, Australia.
"Jika kami dapat menginterupsi jalur ini pada titik yang tepat, kami mungkin dapat mengurangi nyeri usus kronis tanpa memengaruhi fungsi pencernaan normal dari hormon-hormon tersebut," katanya.
Penemuan ini merupakan langkah besar menuju pengembangan terapi yang lebih personal untuk kondisi nyeri usus kronis seperti sindrom iritasi usus besar, serta gangguan nyeri viseral parah lainnya, seperti endometriosis, demikian sebut pernyataan itu.
Studi ini juga menunjukkan bahwa estrogen meningkatkan respons usus terhadap asam lemak rantai pendek yang dihasilkan ketika bakteri mengurai makanan, sehingga menjelaskan mengapa intervensi pola makan seperti diet rendah FODMAP dapat mengurangi gejala pada sebagian orang.
"Kami kini memahami bahwa makanan tertentu dapat memengaruhi jalur yang sensitif terhadap estrogen ini melalui metabolit yang dihasilkannya," kata Brierley.
Dia menambahkan bahwa temuan ini memberikan dasar biologis yang lebih jelas mengenai mengapa perubahan pola makan dapat membantu serta bagaimana hal tersebut dapat disempurnakan.





