Sinyal strategis yang sedang dibaca Beijing—dan maknanya.
James Gorrie
Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggunakan kekuatan militer untuk menangkap pemimpin Venezuela Nicolás Maduro bukan sekadar upaya menjatuhkan satu lagi diktator bandar narkoba di Amerika Latin—ini adalah serangan strategis langsung terhadap pengaruh komunis Tiongkok di Benua Amerika.
Dan ini bukan yang pertama.
Salah Satu dari Banyak Pukulan bagi VenezuelaSudah saatnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Amerika Serikat benar-benar melancarkan perang nyata melawan narkoba ilegal yang menewaskan puluhan ribu warga Amerika setiap tahun. Namun perubahan kebijakan ini melampaui isu narkoba semata.
Strategi keamanan nasional baru ini bertujuan menata ulang peta geopolitik kawasan agar kembali selaras dengan kepentingan strategis Amerika Serikat.
Dalam konteks ini, “tumpangan helikopter gratis” Maduro keluar dari Caracas menuju New York hanyalah episode terbaru dari rangkaian perubahan agresif kebijakan luar negeri AS. Serangan berulang terhadap “kapal-kapal narkoba” Venezuela dan penyitaan kapal tanker minyak Venezuela yang hendak menuju Tiongkok seharusnya sudah menjadi sinyal terang bahwa era geopolitik baru telah dimulai.
Pukulan Langsung terhadap TiongkokPenjatuhan rezim pro-Tiongkok di Venezuela juga merupakan pukulan geopolitik, dagang, dan politik langsung terhadap Beijing.
Selama bertahun-tahun, jaringan kriminal Tiongkok beroperasi leluasa dari Venezuela—memfasilitasi penyelundupan narkoba, memperkuat kartel, hingga terlibat dalam perdagangan manusia dan kejahatan lintas negara lainnya yang menyasar Amerika Serikat.
Karena itu, bagi para analis di Beijing, tindakan Amerika terhadap Venezuela dipahami sebagai langkah strategis yang secara langsung menantang Tiongkok di berbagai lini.
Konteks Baru Perilaku Militer ASBagi Partai Komunis Tiongkok (PKT), operasi militer AS di kawasan Karibia tidak dipandang sekadar operasi anti-narkoba, melainkan sebagai model baru bagaimana Amerika membingkai legitimasi, mengelola eskalasi, dan menahan tekanan global.
Dengan kata lain, Beijing sedang mengamati dengan cermat respons dunia terhadap langkah Amerika di Venezuela.
PKT juga memahami bahwa taruhannya jauh melampaui Venezuela—menyentuh semua sekutu Tiongkok di kawasan dan bahkan di luar Amerika Latin.
Lebih dekat lagi, pengamat Tiongkok menafsirkan langkah AS sebagai uji coba jalur menuju reunifikasi militer Taiwan.
Venezuela sebagai “Studi Kasus” Perlawanan AS terhadap TiongkokSebelum menangkap Maduro, pemerintahan Trump menggabungkan serangan terhadap kapal-kapal yang dicurigai menyelundupkan narkoba dengan penegakan maritim agresif, termasuk penyitaan kapal tanker minyak lepas pantai Caracas.
Beijing mengecam keras langkah tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional dan ancaman bagi perdamaian regional.
Namun kecaman resmi itu menutup mata terhadap peran sentral Tiongkok dalam jaringan narkoba global, yang juga menjadi mesin finansial kartel narkoba yang mengacaukan—bahkan menguasai—pemerintahan kawasan. Beijing juga mengabaikan pengaruh ekonomi raksasanya di Amerika Latin: dari mineral tanah jarang di Argentina, kedelai Brasil, minyak dan narkoba Venezuela, potensi basis militer dekat Terusan Panama, hingga kartel dan elite bisnis-politik di Meksiko.
Reputasi Global Tiongkok DipertaruhkanSebagai kekuatan global yang menantang dominasi AS, Tiongkok ingin ditakuti dan dihormati oleh sekutu maupun rival. Bila Beijing membiarkan AS menghantam dan memblokade Venezuela tanpa konsekuensi berarti, sekutu-sekutu Tiongkok akan mulai bertanya: masihkah aman berlindung di bawah payung Beijing?
Lebih jauh, Beijing sedang mencermati bagaimana Washington mengelola eskalasi dan kritik global. Jika AS bisa melancarkan serangan, menahan tekanan diplomatik, dan tidak menuai konsekuensi nyata, PKT bisa menyimpulkan bahwa operasi militer terbatas dapat “diterima” selama dibingkai sebagai penegakan hukum atau pertahanan diri.
Hal ini sangat relevan dengan Taiwan, di mana Tiongkok kian mengaburkan batas antara tekanan masa damai dan postur perang melalui operasi abu-abu, pelanggaran wilayah udara, dan latihan blokade maritim.
Narasi Kedaulatan sebagai Senjata StrategisBeijing juga tengah memikirkan bagaimana memanfaatkan langkah AS demi kepentingannya sendiri. Dengan menuding tekanan militer AS di Venezuela sebagai bukti dunia membutuhkan alternatif dari dominasi geopolitik Amerika, Beijing memperkuat narasinya tentang “kedaulatan dan non-intervensi.”
Narasi ini langsung dipindahkan ke isu Taiwan—membingkai Taiwan sebagai urusan “internal Tiongkok,” bukan persoalan internasional.
Di sinilah letak bahayanya: legitimasi moral Amerika dapat terkikis, sementara Beijing memperoleh pembenaran retoris untuk memaksakan reunifikasi Taiwan.
Pada akhir Desember 2025, Tiongkok bahkan menggelar latihan militer besar-besaran di sekitar Taiwan—yang dapat ditafsirkan sebagai respons langsung terhadap kebijakan AS di Venezuela.
Taruhan TerakhirKehadiran militer besar AS di sekitar Venezuela—termasuk kapal induk dan ribuan tentara—berpotensi menguras sumber daya Amerika.
Jika Washington tampak memproyeksikan kekuatan secara geografis namun tidak merata, Beijing bisa menyimpulkan bahwa AS tidak mampu merespons secara kuat di semua medan secara bersamaan, dan hal ini bisa memberanikan Tiongkok untuk bergerak cepat di Taiwan.
Tak diragukan, PKT tengah mengamati ke mana Amerika memusatkan perhatian, sumber daya, dan modal politiknya—dan sedang menimbang langkah berikutnya.
Pandangan dalam artikel ini merupakan opini penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan The Epoch Times.





