Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menerima kunjungan dari jajaran direksi PT Pertamina (Persero) di Kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pada Jumat (9/1/2026).
Pertemuan itu membahas rencana penggabungan atau merger tiga subholding hilir migas dari perusahaan pelat merah tersebut. Adapun, ketiga subholding itu yakni PT Pertamina Patra Niaga (PPN), PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan PT Pertamina International Shipping (PIS).
"Menkeu Purbaya menerima jajaran direksi Pertamina di Kantor Kemenkeu sore ini. Integrasi bisnis hilir Pertamina menjadi topik pembahasan utama," demikian tulis akun Instagram resmi Purbaya, @menkeuri seperti dikutip Sabtu (10/1/2026).
Purbaya mengaku menyambut baik langkah-langkah yang dilakukan Pertamina, khususnya dalam menciptakan efisiensi bisnis, termasuk melalui integrasi bisnis hilir yang akan dilakukan.
"Dalam pertemuan tersebut, Menkeu Purbaya juga menyampaikan dukungan penuh bagi Pertamina untuk semakin berkontribusi mewujudkan ketahanan energi nasional," tulis akun tersebut.
Asal tahu saja, rencana merger tiga anak usaha hilir migas Pertamina mulanya direncanakan rampung pada 1 Januari 2026. Namun, hingga saat ini rencana itu belum terealisasi.
Pada akhir 202, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengatakan bahwa rencana merger tiga anak usaha tersebut sudah sampai di tahap finalisasi dan akan dilaporkan ke Badan Pengelola Investasi Danantara. Pelaporan ke Danantara, tutur Simon, bertujuan untuk memperoleh persetujuan.
"Kita sih kejarnya mudah-mudahan per 1 Januari 2026 sudah terlaksana [merger] gitu," ujar Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri, dikutip dari Antara, Selasa (11/11/2025) lalu.
Berdasarkan catatan Bisnis, rencana penggabungan ketiga anak usaha itu pertama kali Simon sampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI yang membidangi BUMN di Jakarta, Kamis (11/9/2025).
Langkah konsolidasi ini tak lepas dari tantangan global, seperti penurunan harga hingga permintaan minyak dunia, yang menekan kinerja subholding perseroan. Sebagai contohnya yang dialami KPI.
Simon mengungkapkan bahwa margin bisnis kilang semakin kecil seiring turunnya permintaan, sementara kapasitas produksi kilang global meningkat.
"Dengan marginnya semakin kecil, tentunya secara keseluruhan, secara konsolidasi kan akan berpengaruh kurang baik ke bottom line perusahaan. Dengan demikian, supaya lebih efektif memang ada beberapa kajian di kita untuk menggabungkan antara kilang, PIS, dan PPN," ujarnya.
Simon juga mengatakan bahwa langkah ini juga sebagai upaya penyelarasan strategi bisnis dengan pemegang saham baru, BPI Danantara.
"Dulu kan gini, dulu kan kita satu ini juga ya, antara hulu hilir, kemudian kita melakukan saat itu subholding, holdingisasi supaya bergerak lebih hijau. Tetapi sebagai organisasi, sebagai institusi yang tentunya terus berkembang, kita harus menyesuaikan juga perkembangan situasi," katanya.
Baca Juga
- Tok! Pertamina Jadi Offtaker Hilirisasi Batu Bara (DME)
- Daya Tarik Saham Pertamina Geothermal (PGEO) Awal 2026
- Skor ESG Terus Meningkat, Pertamina Kokoh di Peringkat 1 Global





