Rakyat Iran dengan Marah Merobek Potret Khamenei, Menghancurkan Patung Soleimani

erabaru.net
21 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Gelombang perlawanan rakyat Iran terhadap rezim Khamenei pada Kamis (8 Januari)  terus meluas. Pasukan keamanan bahkan menembaki massa untuk menindas protes. Namun, di banyak tempat muncul fenomena polisi berbalik arah atau bahkan mundur dari lokasi. 

Para pengunjuk rasa merobek bendera nasional, menurunkan dan menghancurkan potret diktator Ali Khamenei, serta merusak patung Qasem Soleimani—tokoh yang disebut sebagai pemimpin organisasi teroris. 

Saat ini, protes telah menyebar ke 31 provinsi, dengan sedikitnya 38 orang tewas dan lebih dari 2.200 orang ditangkap. Selain itu, Australia telah menutup kedutaannya, sementara India memperingatkan warganya agar segera meninggalkan Iran. Analisis di kalangan masyarakat menilai bahwa perubahan besar di Iran sudah di depan mata.

Gelombang Demonstrasi Menyapu Iran, Warga Murka Merobek Potret Diktator

Pada Rabu (7 Januari), di Karaj—kota terbesar keempat di Iran—warga yang marah terlibat bentrokan sengit dengan pasukan keamanan. Hingga larut malam, api masih berkobar di jalan-jalan, disertai suara ledakan keras yang terus terdengar.

Video lain memperlihatkan pasukan keamanan Iran melakukan penindasan brutal terhadap para demonstran dan langsung menembaki kerumunan. Suara tembakan bercampur dengan teriakan slogan para demonstran, suasananya bak medan perang.

Namun, pemandangan yang sangat berbeda terjadi di Provinsi Lorestan. Polisi terlihat melambaikan tangan kepada massa dan menarik diri sepenuhnya. Hingga kini, di berbagai wilayah Iran muncul kasus polisi menolak menindas rakyat, bahkan sebagian anggota pasukan keamanan berpihak dan bergabung dengan para demonstran.

Di Mashhad, kota terbesar kedua Iran, para demonstran yang marah menurunkan bendera nasional Iran dan merobeknya menjadi dua. Banyak yang meneriakkan slogan: “Robek bendera!” dan “Hidup Raja!”

Selain itu, warga yang marah menurunkan dan merobek potret diktator Iran, Ali Khamenei, yang dipasang di jalan-jalan.

Patung Qasem Soleimani, komandan Pasukan Quds yang tewas akibat serangan militer AS, juga ditarik roboh dan dihancurkan di tengah sorak-sorai massa.

Di Kota Rasht, Iran barat laut, massa besar turun ke jalan sambil meneriakkan: “Kita tidak perlu takut, kita bersatu!”

Menurut laporan US-based Human Rights Activists News Agency, hingga Rabu, gelombang protes yang telah berlangsung 11 hari ini telah menyebar ke 31 dari 34 provinsi Iran. Setidaknya 348 lokasi mengalami aksi protes, termasuk demonstrasi di 111 kota dan 45 universitas, disertai berbagai bentuk perlawanan seperti pawai, mogok kerja buruh, dan penutupan toko.

Saat ini, penindasan brutal oleh otoritas Iran telah menyebabkan sedikitnya 38 orang tewas dan lebih dari 2.200 orang ditangkap.

Pada Rabu, Reza Pahlavi, putra mahkota terakhir Dinasti Pahlavi yang hidup di pengasingan, menyampaikan pidato melalui media sosial. Ia mengatakan bahwa pemerintah Iran bersiap kembali memutus akses internet. Namun, karena layanan Starlink yang disediakan oleh Elon Musk telah beroperasi di Iran, pemerintah mungkin tidak dapat sepenuhnya mematikan jaringan.

Reza Pahlavi berkata: “Namun jika rezim ini bersikeras memutus internet, tindakan itu sendiri akan menjadi pemicu bagi rakyat untuk turun ke jalan melawan tirani. Dengan cara ini, kalian akan kembali memaku paku ke peti mati rezim ini. Kemenangan pasti milik kalian! Hidup Iran!”

Pada Rabu, demi meredam kemarahan publik, pemerintah Iran mengusulkan pemberian kupon subsidi sebesar 7 dolar AS per bulan kepada warga. Namun, aksi protes justru semakin meluas dan intens.

Kabar AS–Israel Siap Menyerang, Menlu Iran Berusaha Tenang: Kami Siap

Sumber-sumber menyebutkan bahwa Amerika Serikat dan Israel tengah bersiap melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap Iran. Puluhan pesawat pengisian bahan bakar udara dan pesawat angkut militer berat AS telah lepas landas dari wilayah Amerika dan pangkalan udara di Inggris untuk berkumpul di kawasan Timur Tengah. Namun, kabar ini belum dikonfirmasi secara resmi.

Menteri Luar Negeri Iran pada Kamis menyatakan bahwa, menghadapi kemungkinan serangan militer baru dari Israel dan AS, Iran telah siap menghadapi perang, namun tetap terbuka untuk perundingan.

Australia Tutup Kedutaan di Iran, Desak Warga Segera Evakuasi

Selain itu, pemerintah Australia mengumumkan bahwa Kedutaan Besar Australia di Iran telah menghentikan sementara operasinya dan mengimbau warganya untuk segera meninggalkan Iran. Pemerintah India juga mengeluarkan peringatan perjalanan dan menyarankan warganya untuk tidak bepergian ke Iran. (Hui)

Laporan komprehensif oleh reporter New Tang Dynasty Television, Zhao Fenghua


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Super League: Dihiasi 3 Kartu Merah, PSIM Bungkam Madura United
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
OTT KPK terkait Pengaturan Pajak di Sektor Pertambangan
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pembakaran, ledakan dilaporkan di provinsi perbatasan selatan Thailand
• 54 menit laluantaranews.com
thumb
Biasa Tampil Pede di TV, Alya Rohali Justru Ngaku Gemetar dan Grogi Saat Lakukan Hal Ini Demi Sang Putri
• 19 jam lalugrid.id
thumb
Polisi Selidiki Video Viral Dugaan Pencurian oleh Lansia di Tanah Abang
• 5 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.