Pencemaran Sungai Menjadi PR yang Panjang untuk Kita

kumparan.com
21 jam lalu
Cover Berita

Sungai memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Sungai menjadi sumber air, tempat hidup berbagai organisme, sekaligus penopang aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Secara khusus, di pulau Bali bahkan sungai memiliki nilai budaya dan spiritual yang kuat, terkait dengan konsep falsafah Hindu “Tri Hita Karana” yang menekankan 3 (tiga) hubungan manusia dalam kehidupan.

Ketiga hubungan tersebut meliputi hubungan dengan sesama manuia, hubungan dengan alam sekitar, dan hubungan dengan Tuhan. Di sisi lain, jika ditelusuri lebih jauh, saat ini banyak sungai yang telah mengalami pencemaran dan penurunan manfaat akibat perbuatan manusia itu sendiri.

Pencemaran sungai bukanlah isu yang baru terjadi di Indonesia. Berdasarkan hasil Pemantauan Mutu Air Semester I 2025 yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan 70,7% lokasi tercemar, dan hanya 29,3% memenuhi baku mutu. Pencemaran sungai yang terjadi disebabkan aktivitas pembuangan limbah tanpa pengolahan yang memadai yang berasal dari pemukiman, area pertanian, atau industri.

Sungai yang tercemar akhirnya mengalami perubahan menjadi keruh, berbau, bahkan tak jarang dipenuhi oleh sampah. Dampak lainnya yang lebih memprihatinkan adalah sungai kehilangan slogannya sebagai “Sungai Kita, Masa Depan Kita”, karena aktivitas pencemaran mengakibatkan kematian organisme akuatik, bahkan penurunan kemampuan bakteri pengurai.

Pencemaran sungai yang terjadi akibat akvitas manusia menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem yang menimbulkan dampak ekologi dan kesehatan. Zat pencemar seperti logam berat, deterjen, pestisida, dan mikroplastik yang bersifat toksik bagi organisme perairan sehingga menyebabkan gangguan reproduksi, fisiologis, hingga kematian pada organisme perairan.

Lebih jauh lagi, bahkan manusia yang mengonsumsi ikan atau memanfaatkan perairan sungai dalam kehidupan sehari-hari dapat terkontaminasi yang menyebabkan penyakit kulit, gangguan pencernaan, hingga potensi dampak kronis seperti gangguan hormon.

Dampak lain yang dirasakan akibat pencemaran sungai juga dapat dilihat secara nilai sosial dan ekonomi. Beberapa hal yang menjadi dampak terkait yaitu masyarakat yang menggantungkan kehidupannya melalui pemanfaatan air sungai sebagai sumber irigasi lahan pertanian, sumber pangan terbatas akibat penurunan populasi ikan, dan masyarakat akan kehilangan sumber air bersih.

Dilansir dari Waste4change.com, beberapa contoh sungai di Indonesia yang telah mengalami pencemaran adalah Sungai Ciliwung yang tercemar akibat aktivitas pertanian, limbah industri, dan peternakan. Bahkan sungai Ciliwung selalu dikaitkan menyebabkan bencana banjir yang terjadi di wilayah DKI Jakarta. Sungai Citarum akibat adanya kegiatan pembuangan limbah pabrik tekstil, kegiatan peternakan dan limbah rumah tangga. Sungai Citarum bahkan pernah dinobatkan sebagai salah satu wilayah paling tercemar di dunia. Limbah industri yang kerap dibuang ke perairan tanpa memperhatikan pengolahan limbah yang benar seringkali membuat perubahan warna air secara tiba-tiba dan menjadi sumber utama yang menyebabkan kontaminan perairan.

Di antara sungai-sungai besar di Indonesia yang telah mengalami pencemaran, tak luput dari pandangan kita bahwa lingkungan perairan sungai di sekitar kita juga saat ini telah mengalami pencemaran terutama akibat aktivitas pertanian, peternakan, limbah rumah tangga, dan perilaku membuang sampah sembarangan dengan menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan akhir bagi masyarakat yang tinggal dekat di Daerah Aliran Sungai (DAS).

Pada dasarnya manusia telah mengakui bahwa sungai memiliki nilai yang sangat berharga, tetapi kenyataanya pencemaran dan perusakan terus terjadi. Keadaan ini menimbulkan banyak pertanyaan.

Pencemaran sungai dan alam lainnya kerap terjadi akibat sifat buruk manusia sehingga menghasilkan ketidakseimbangan hubungan manusia dengan alam.

Pertama, sifat manusia yang tamak, rakus, eksploitatif, dan tidak bertanggungjawab akan pemanfaatan sungai. Tak sedikit masyarakat memiliki perilaku membuang sampah secara langsung ke aliran sungai. Minimnya pengetahuan akan lingkungan serta sikap yang apatis dari masyarakat seringkali menambah dampak buruk pencemaran yang telah terjadi.

Kedua, kesalahan pembangunan yang selalu mengorbankan lingkungan di sekitar sungai, tidak sesuai dengan pembangunan yang berkelanjutan.

Ketiga, kurangnya penegakan hukum dan perilaku Korupsi Kolusi dan Nepotisme yang menyebabkan izin eksploitasi tanpa memperhatikan kemampuan perairan sungai. Lemahnya pemberian sanksi dan kurang tegasnya pemerintah terhadap industri yang menjadi pelaku pelanggaran menyebabkan pencemaran sungai terjadi secara terus menerus.

Pencemaran sungai yang telah terjadi bukanlah hal yang tidak dapat diperbaiki. Untuk mengatasi permasalahan pencemaran sungai, diperlukan adanya perubahan perilaku dari masyarakat, penegakan pembangunan yang berkelanjutan termasuk dalam hal ekologi, kemudian perlu adanya komitmen moral antara individu, masyakarat, pelaku usaha, dan pemerintah.

Masyarakat perlu ditingkatkan rasa bertanggungjawab dan kepeduliannya terhadap alam melalui himbauan dan edukasi positif akan menjaga lingkungan sekitar. Seringkali perilaku membuang sampah sembarangan datangnya bukan secara disengaja, namun karena minimnya pengetahuan akan kelestarian alam. Selain itu, pemerintah juga harus hadir di tengah masyarakat dan menyediakan layanan pengambilan dan pengolahan sampah rumah tangga sehingga semakin mempermudah masyarakat dalam meninggalkan perilaku membuang sampah secara sembarangan.

Pemerintah sebagai pengawas dan pemegang kebijakan perlu melakukan adanya audit lingkungan terhadap pelaku usaha bidang industri untuk melihat kesesuai kegiatan industri dengan undang-undang dan kebijakan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Audit lingkungan adalah salah satu bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan dan kepada masyarakat sekitar.

Selain itu, pemerintah juga harus hadir dalam usaha memperbaiki lingkungan perairan sungai yang telah tercemar untuk mengembalikan fungsi dan kehidupan ekosistem sungai seperti sedia kala. Beberapa program sebenarnya yang telah dilakukan pemerintah untuk mewujudkan hal tersebut seperti Citarum Bestari dan Citarum Harum, namun program tersebut belum mampu meningkatkan kualitas perairan di salah satu sungai di Indonesia yang telah mengalami pencemaran tersebut.

Hal ini disebabkan akibat program yang dilakukan hanya fokus pada sebagian wilayah sungai, namun tidak mencakup keseluruhan, sehingga dampak yang dihasilkan kurang sesuai dengan tujuan. Pemerintah sebagai pemegang kebijakan tertinggi perlu lebih serius dalam merealisasikan program-program yang telah direncanakan, sehingga hasil akhir yang didapatkan lebih efektif. Selain itu, perlu adanya upaya dan kerja sama dari berbagai sektor untuk menghapuskan pencemaran yang terjadi dengan melibatkan masyarakat, pelaku industri, aktivis lingkungan, pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

Menjaga ekosistem sungai merupakan tanggungjawab seluruh pihak. Masyarakat diharapkan menekankan etika ekologi dalam mengelola dan memanfaatkan perairan sungai. Manusia adalah bagian dari alam, walaupun manusia dapat memanfaatkan alam sekitarnya, alam tetap harus dilestarikan dan tidak dikuasai. Masyarakat juga diharapkan mampu mengkritik sistem atau kebijakan pemerintah yang keliru dalam pengelolaan dan pemanfaatan perairan sungai.

Pada akhirnya, kondisi sungai adalah cermin relasi manusia dengan alam. Sungai yang tercemar menandakan kehidupan yang sedang terancam, bukan hanya bagi ikan dan organisme air, tetapi juga bagi manusia itu sendiri. Pilihannya jelas, terus membiarkan sungai menjadi korban, atau mulai menjaga dan memulihkannya sebagai sumber kehidupan. Masa depan kita mengalir bersama sungai dan apa yang kita buang ke dalamnya, pada akhirnya akan kembali kepada kita.

Penulis

I Putu Sukma Widiya Utama

Prodi Manajemen Sumber Daya Perairan

Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi

Universitas Warmadewa – Denpasar


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kepergok Saat Beraksi, Maling Motor di Palmerah Nekat Tembak Warga | GP
• 18 jam lalukompas.tv
thumb
Kepergok Curi Celana di Pasar Tanah Abang, Nenek Lansia Nyaris Dihajar Massa
• 17 jam lalurealita.co
thumb
Kesatria Bengawan Solo tanpa pemain asing pada laga pembuka IBL
• 16 jam laluantaranews.com
thumb
Roy Suryo Buka-bukaan Tunjukkan Ijazah S1 hingga S3 Miliknya: Silakan Diuji Apapun
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
Menko Pangan Tekankan SPPG Wajib Libatkan UMKM Lokal, Ancaman Evaluasi Jika Gandeng Pemasok Besar
• 20 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.