Iran masih diguncang demo besar pada Sabtu (10/1). Bahkan, eks putra mahkota Iran yang diasingkan ke Amerika Serikat (AS) meminta demonstran merebut kota-kota besar di negara itu.
Demo di Iran pecah sejak dua pekan lalu. Pemicu aksi adalah krisis ekonomi dan melonjaknya biaya hidup akibat merosotnya nilai mata uang rial.
Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada Jumat (9/1) menuding demo tersebut ditunggangi oleh AS.
Demi meredam aksi protes, otoritas Iran memutus akses internet dan jaringan telepon. Pada saat bersamaan, LSM pemantau HAM melaporkan puluhan demonstran tewas selama dua pekan unjuk rasa.
Laporan AFP menyebutkan, sejak Jumat kemarin warga memenuhi jalanan utama ibu kota Teheran. Demonstran bahkan meneriakkan slogan, “Mati Khamenei”.
Selain di Teheran, demo juga pecah di kota Mashhad dan Tabriz, yang berada di wilayah utara kota suci umat Syiah, Qom.
Sementara di kota Hamedan, demonstran mulai mengibarkan bendera Iran era Dinasti Pahlavi. Dinasti tersebut berakhir pada 1979 melalui Revolusi Republik Islam yang dipimpin ulama Syiah.
Ketika demo semakin membesar, Reza Pahlavi—putra mahkota terakhir Dinasti Pahlavi—mendorong warga menggelar protes yang lebih besar pada Sabtu hingga Minggu.
“Tujuan kami bukan cuma menguasai jalanan. Tujuan kami adalah bersiap merebut dan menguasai pusat-pusat kota,” ucap Pahlavi seperti dikutip AFP.
“Saya akan kembali ke tanah air saya, dan saya percaya waktunya sudah dekat,” sambungnya.




