Mahfuz Sidik Sekretaris Jenderal Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia mengatakan, pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan situasi politik global yang akhir-akhir ini semakin memanas.
“Dinamika politik global nampaknya akan semakin memanas. Banyak peristiwa tak terduga yang tidak pernah terpikirkan terjadi. Kita tidak tahu peristiwa tak terduga apalagi,” kata Mahfuz Sidik dalam keterangannya, Sabtu (10/1/2026).
Menurut Mahfuz, peristiwa tak terduga yang bakal terjadi diprediksi tidak berhenti pada peristiwa pengerahan tentara Amerika Serikat (AS) untuk menyerang Ibukota Venezuela, menculik dan menangkap Presiden Nicolas Maduro, serta istrinya dari sebuah negara berdaulat.
“Di Iran sekarang ada operasi untuk melakukan pergantian rezim. Fenomena demonstrasi makin meluas dan anarkis. Skenario pergantian rezim hanya tinggal menunggu waktu,” katanya.
Selain itu, AS berencana untuk menguasai Greenland, Denmark dalam rangka mengontrol wilayah utara dan arktik dari pengaruh Rusia dan China, setelah sukses mengamankan wilayah selatan, dengan menguasai Venezuela.
“Greenland ini pintu masuk ke Eropa untuk menghadang kekuatan militer Rusia dan China yang sedang membangun jalur sutranya di arktik” kata Mahfuz yang juga mantan Ketua Komisi I DPR bidang luar negeri ini.
Greenland, lanjut Mahfuz, akan dijadikan basis militer AS di Eropa untuk melemahkan kekuatan militer Rusia.
AS ingin melihat keruntuhan Rusia dengan menjadikan Ukraina seperti Afghanistan, ketika itu Uni Soviet perang kalah hingga bubar negara.
“Amerika saat ini tengah percaya diri karena pembelaan Rusia dan China terhadap para sekutunya tengah lemah. Tidak hanya ke Iran, tetapi juga ke yang lain, sehingga Venezuela bisa dikuasai dengan mudah,” ujarnya.
Donald Trump selaku Presiden AS, ingin mengembalikan kejayaan AS sebagai satu-satunya negara superpower dunia, yang tidak perlu taat pada aturan lembaga atau negara di dunia.
“Saya kira tindakan Trump yang keluar dari 66 lembaga global PBB ini harus dibaca sebagai pesan kuat bagi PBB,” katanya.
PBB dianggap sudah tidak punya makna lagi dan tidak punya otoritas untuk mengatur Amerika.
AS akan rekonstruksi tatanan global sesuai kebijakan politik luar negerinya, termasuk memerangi negara lain yang menjadi musuh mereka.
“Dalam bahasa Trump itu tidak ada negara non dan blok, tapi yang ada kawan atau lawan. Kalau anda kawan kami, maka kita kerjasama untuk kemakmuran bersama. Tetapi ketika ada lawan, maka kami lawan,” katanya.
Karena itu, PBB lanjutnya, harus segera mereformasi dirinya secara lebih fundamental.
Kemudian menciptakan satu tatanan dan aturan main global yang baru multipolarisme.
Mahfuz menegaskan, bahwa kebijakan domestik dan politik luar negeri AS yang diterapkan Trump sekarang seperti pengulangan sejarah pasca perang dunia (PD) I dan II yang diterapkan Presiden AS sebelumnya.
“Sehingga kita perlu mendiskusikan kembali kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat sekarang. Bagi kita ini mendesak, karena dalam konteks dinamika politik global nampaknya akan semakin memanas,” katanya.
Ia berharap agar negara-negara Islam perlu mencari format baru untuk menyatukan kekuatan politik Islam yang dinilai semakin melemah dari hari ke hari.
“Sekarang perlu kesadaran kolektif, bahwa umat Islam negara muslim harus bangun mengkonsolidasi kekuatannya untuk menghadapi dinamika politik global. Yakni untuk mengembalikan tren multi polarisme,” pungkas Mahfuz.(faz)



