JAKARTA, DISWAY.ID - Mantan ajudan Presiden Prabowo Subianto mendominasi jajaran Ring 1 Istana dan jajaran kabinet.
Koordinator Lembaga Advokasi Kebijakan Publik (LAKP) M. Adnan, mengkritik luasnya dominasi barisan mantan ajudan Presiden Prabowo Subianto.
BACA JUGA:SD Distrik Dekai Dibakar Habis TPNPB, Polres Yahukimo Bebaskan 6 Warga
BACA JUGA:Diduga Triliunan Aset Sitaan Koruptor Diobral, Ada Apa dengan Jampidsus?
Diketahui, banyak loyalis Prabowo yang kini menduduki posisi strategis dalam pemerintahan.
"Negara sebesar Indonesia tidak bisa dikelola dengan logika inner circle. Loyalitas memang penting, tetapi ia tidak pernah cukup untuk menggantikan kompetensi dan pengalaman. Ini akibat kesalahan para pembisik di sekitar Presiden," ujar Adnan di di Jakarta, Sabtu, 10 Januari 2026.
Adnan mengambil contoh kinerja Menteri Luar Negeri Sugiono, yang dinilai belum mampu memainkan peran strategis diplomasi Indonesia di panggung global. Ia menyebut, dalam praktiknya, Kementerian Luar Negeri terlihat lebih berfungsi ajudan Presiden untuk urusan luar negeri, alih-alih menjadi institusi diplomasi yang memiliki visi dan arah besar.
BACA JUGA:Seskab Teddy Ajak Media Sebarkan Narasi Positif Penanganan Bencana Sumatera
Keluhan dari para duta besar Indonesia di berbagai negara, lanjut Adnan, mencerminkan problem serius lemahnya koordinasi, minimnya arahan strategis, serta absennya grand design diplomasi.
Kritik juga diarahkan kepada Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi. Adnan menilai minimnya pengalaman politik dan birokrasi membuat Kementerian Sekretariat Negara gagal berperan sebagai pusat koordinasi lintas kementerian dan lembaga.
"Kemensesneg hari ini terlihat lebih mirip kepala urusan persuratan di kecamatan, bukan command center negara," sindirnya.
Adnan juga menyoroti luasnya peran Seskab Letkol Teddy. Meski diakui sebagai figur muda dengan latar belakang militer dan loyalitas tinggi, Adnan menilai beban jabatan Seskab terlalu besar untuk level pengalaman yang dimiliki.
Dengan status eselon III namun memikul tugas strategis setara menteri mulai dari koordinasi kabinet, sinkronisasi kebijakan, hingga monitoring program yang hasilnya dinilai jauh dari memuaskan.
BACA JUGA:Diduga Triliunan Aset Sitaan Koruptor Diobral, Ada Apa dengan Jampidsus?
BACA JUGA:Terungkap! OTT KPK di Kanwil Pajak Jakut Libatkan Perusahaan Tambang Swasta
- 1
- 2
- »




