Jakarta, ERANASIONAL.COM – Presenter dan pengusaha ternama Ruben Onsu mengungkap pengalaman kelam yang pernah dialaminya sebelum memutuskan hijrah dan memeluk agama Islam. Dalam pengakuannya, Ruben menyebut dirinya pernah mengalami serangkaian gangguan mistis dan dugaan serangan gaib, termasuk teror kepala babi dan ceceran darah yang dikirim ke tempat usahanya.
Kisah tersebut disampaikan Ruben dalam perbincangan bersama Ustaz Muhammad Faizar, yang diunggah melalui kanal YouTube Faizar, dan dikutip pada Sabtu (10/1/2026). Dalam perbincangan itu, Ruben secara terbuka menceritakan pengalaman spiritual yang ia sebut sebagai salah satu titik balik hidupnya.
Keputusan Ruben untuk menjadi mualaf disebut bukan keputusan yang datang secara tiba-tiba, melainkan hasil dari perjalanan panjang dalam mencari ketenangan batin setelah menghadapi berbagai tekanan, baik secara fisik maupun mental.
Ruben mengaku bahwa sebelum menemukan ketenangan, ia mengalami gangguan yang datang silih berganti. Gangguan tersebut tidak hanya menyerang kondisi fisiknya, tetapi juga memengaruhi lingkungan sekitar, termasuk bisnis yang telah ia bangun selama bertahun-tahun.
“Dari fisik kena, lingkungan kena, usaha kena,” ungkap Ruben.
Ia menuturkan bahwa awalnya dirinya adalah sosok yang sangat skeptis terhadap hal-hal mistis. Namun, pandangan itu perlahan berubah setelah ia mengalami sendiri kejadian-kejadian yang menurutnya berada di luar penjelasan logika.
“Ternyata dunia yang di balik kita itu ada dunia yang lain. Dari situ aku percaya,” ujar Ruben.
Setiap kali gangguan tersebut datang, Ruben mengaku memilih untuk menenangkan diri dengan salat. Menurutnya, setelah ia beribadah, gangguan-gangguan tersebut kerap berhenti secara tiba-tiba.
“Setiap kali datang, saya salat. Habis itu berhenti,” katanya.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Ruben merasa semakin dekat dengan nilai-nilai spiritual, hingga akhirnya mantap untuk hijrah.
Merasa ada hal yang tidak beres, Ruben sempat berkonsultasi dengan sejumlah orang pintar. Menariknya, beberapa di antaranya justru menyampaikan hal-hal tertentu tanpa Ruben lebih dulu bercerita.
“Dari sepuluh orang pintar yang saya datangi, tujuh orang jawabannya sama. Tiga orang beda,” ungkapnya.
Meski demikian, Ruben mengaku tidak sepenuhnya percaya dan tidak tahu mana yang benar. Ia memilih untuk tetap berpikir rasional dan menjaga kondisi mentalnya agar tidak semakin tertekan.
Untuk gangguan fisik, Ruben mengaku sempat mengalami sakit yang tidak terdeteksi secara medis. Namun ia berusaha keras untuk tidak berpikir negatif dan selalu menganggap keluhan tersebut sebagai penyakit biasa.
“Saya selalu ngomong, ‘oh ini mah medis.’ Menyenangkan hati, biar enggak tegang,” tuturnya.
Ustaz Faizar kemudian menjelaskan bahwa orang yang mengalami gangguan gaib umumnya memiliki pola keluhan tertentu, seperti sakit di kepala bagian belakang dan punggung.
Tanpa disangka, Ruben mengaku mengalami gejala yang sama, bahkan kondisinya sering memburuk pada waktu-waktu tertentu.
“Biasanya magrib ke atas. Kepala sama punggung sakit banget,” ujar Ruben.
Selain itu, ia juga mengalami insomnia dan kegelisahan, meskipun secara logika tidak ada masalah besar dalam pekerjaan maupun bisnisnya.
“Kerjaan aman-aman aja, tapi gelisah, enggak tahu mikirin apa,” katanya.
Karena sulit tidur di malam hari, Ruben sering memanfaatkan waktu perjalanan di mobil untuk sekadar memejamkan mata dan beristirahat sejenak.
Gangguan tidak hanya menyerang fisik Ruben, tetapi juga menyasar tempat usahanya. Diketahui, Ruben Onsu memiliki sekitar 170 outlet bisnis kuliner yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Menurut pengakuannya, beberapa outlet tersebut sempat mendapat kiriman teror yang tidak biasa.
“Banyak kejadian. Ada bungkusan kepala babi, ada kucuran darah di depan toko, ada bunga-bunga,” jelasnya.
Kepala babi tersebut dikirim dalam kondisi terbungkus, sebagian menggunakan kain kafan, sebagian lagi menggunakan kresek hitam, bahkan ada yang disertai bunga di dalamnya.
“Ada yang pakai kain, ada yang pakai kresek hitam. Dalamnya ada bunganya,” ungkap Ruben.
Alih-alih bereaksi dengan kemarahan atau ketakutan, Ruben memilih untuk menanggapi teror tersebut dengan humor dan pikiran positif. Menurutnya, respons tersebut sengaja dilakukan agar pengirim teror tidak mendapatkan kepuasan.
“Saya malah bercanda, ‘siapa ini bidadari cantik-cantik mandi bunga di sini?’” katanya sambil tersenyum.
Ia bahkan berusaha menertawakan situasi tersebut dengan logika sederhana.
“Saya mikir, ini babinya makan bunga terus mati kali,” ucap Ruben.
Meski mengakui bahwa berpikir positif dalam situasi seperti itu bukanlah hal mudah, Ruben menilai cara tersebut efektif untuk menjaga ketenangan batinnya.
Menanggapi kisah tersebut, Ustaz Faizar menjelaskan bahwa kepala babi sering digunakan sebagai media dalam praktik sihir, karena dianggap dapat menimbulkan rasa takut dan tekanan psikologis bagi penerimanya.
“Ini masuk ke media sihir. Karena misterius dan mencurigakan. Ngapain juga kepala babi ditaruh di situ?” jelasnya.
Di lingkungan sekitar, Ruben mengaku sempat mendengar berbagai spekulasi, termasuk dugaan bahwa teror tersebut dilakukan oleh pesaing bisnisnya. Namun ia memilih untuk tidak menggubris omongan tersebut.
“Kalau diturutin, malah stres,” ujarnya.
Setelah menghadapi gangguan demi gangguan, Ruben akhirnya memilih satu sikap: ikhlas dan pasrah. Ia menegaskan tidak pernah melakukan pembalasan dalam bentuk apa pun.
“Saya serahkan semuanya sama Tuhan,” kata Ruben.
Menariknya, setelah mengambil sikap tersebut, gangguan-gangguan yang ia alami perlahan menghilang dari kehidupannya.
“Gara-gara ‘ya udahlah’ dan pasrah, satu-satu rontok,” ungkapnya.
Kini, Ruben mengaku sudah tidak lagi mengalami teror mistis maupun gangguan gaib seperti sebelumnya. Ia merasa lebih tenang dan menjalani hidup dengan keyakinan spiritual yang lebih kuat.
“Syukurnya kata ikhlas itu dari dulu dekat sama saya. Ya udahlah, pasrah,” tutup Ruben.



