Bisnis.com, JAKARTA — PT Asuransi Asei Indonesia menilai strategi diversifikasi pasar ekspor Indonesia ke negara-negara non-tradisional dapat berdampak positif terhadap permintaan asuransi pengangkutan atau marine cargo.
Menurut Direktur Utama Asuransi Asei Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe, ekspor Indonesia kini mulai semakin aktif menjangkau negara-negara Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, Amerika Latin, dan negara berkembang dengan pertumbuhan permintaan komoditas yang relatif tinggi.
“Pergeseran ini berdampak positif terhadap potensi pertumbuhan premi marine cargo karena membuka peluang pengangkutan ke rute dan pasar baru,” ucapnya kepada Bisnis, dikutip pada Sabtu (10/1/2026).
Kendati demikian, dia menekankan bahwa pasar non-tradisional membawa karakteristik risiko yang berbeda. Pertama, infrastruktur pelabuhan dan logistik yang belum merata. Kedua, stabilitas politik dan regulasi yang bervariasi. Ketiga, keterbatasan data historis klaim untuk rute tertentu.
Kondisi tersebut, ujar Dody, menuntut perusahaan asuransi yang memiliki produk marine cargo melakukan penilaian risiko rute dan negara tujuan secara lebih mendalam, menyesuaikan klausul polis, termasuk klausul pengecualian, war risk, dan delay, serta mengelola akumulasi risiko lintas wilayah secara lebih disiplin.
Meski demikian, secara keseluruhan Asei memandang pergeseran tujuan ekspor ini menjadi peluang pertumbuhan premi marine cargo, khususnya untuk ekspor komoditas unggulan nasional.
Baca Juga
- Asei Ungkap 6 Cara Tekan Klaim Asuransi Kredit
- Asei Ungkap Empat Sektor Ekspor Unggulan Penopang Asuransi Marine Cargo
- Tiga Target Asuransi Asei 2026 meski Dibayangi Tekanan Pertumbuhan Premi
“Selain itu juga sekaligus tantangan dalam pengelolaan risiko, yang harus diimbangi dengan underwriting yang prudent, dukungan reasuransi yang memadai, serta pemanfaatan data risiko global,” tutur Dody.
Oleh karena itu, imbuhnya, perusahaan asuransi ke depannya harus menguatkan manajemen risiko dan underwriting berbasis rute dan komoditas, menyesuaikan struktur premi dan klausul pertanggungan, mengoptimalisasikan kerja sama reasuransi, serta memantau aktif terhadap dinamika perdagangan dan geopolitik global.
“Pendekatan ini diharapkan dapat menjaga keberlanjutan pertumbuhan marine cargo, sekaligus memastikan kinerja underwriting tetap terjaga di tengah lingkungan global yang semakin kompleks,” pungkasnya.
Senada, pengamat asuransi Wahyudin Rahman berpendapat pergeseran tujuan ekspor ke pasar non-tradisional, seperti Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika memang sudah terlihat.
“Ini meningkatkan kompleksitas risiko, mulai dari regulasi, pelabuhan, hingga stabilitas negara yang membuat peran asuransi marine cargo semakin strategis,” ucapnya.
Di lain sisi, dia turut menyoroti bahwa ketegangan geopolitik dapat mengubah peta perdagangan global. Menurutnya, rute pelayaran akan makin panjang, biaya logistik naik, dan risiko pengangkutan meningkat.
“Kondisi ini justru mendorong kebutuhan proteksi yang lebih komprehensif sehingga marine cargo tetap relevan meski volumenya fluktuatif,” tegasnya.
Sementara itu, pengamat asuransi Irvan Rahardjo memandang tantangan utama lini usaha marine cargo saat ini meliputi persaingan ketat, kompleksitas risiko seperti kapal tua dan rute berbahaya.
“Kemudian, tekanan tarif premi, gangguan rantai pasok global, adanya isu geopolitik, perubahan iklim, serta rendahnya literasi risiko,” ungkapnya.
Dalam catatan Bisnis, Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan memperluas perjanjian perdagangan bebas dengan menjangkau pasar ekspor hingga ke Amerika Selatan, seperti Peru. Langkah ini dilakukan untuk mempermudah akses pasar Indonesia ke luar negeri.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan, pemerintah akan memperluas pasar ekspor dengan negara non-tradisional, termasuk Peru di Amerika Selatan.
Budi mengklaim saat ini pemerintah tengah memproses perjanjian kerja sama ekonomi komprehensif alias comprehensive economic partnership agreement (CEPA) dengan Peru.
“Ke semua negara, itu kan negara-negara non-tradisional, ya. Kita mau masuk, sekarang Peru, Peru lagi proses penyusunan CEPA-nya. Terus ke negara-negara Eurasia,” kata Budi seusai acara peluncuran Gemini Academy Untuk UMKM Bisa Ekspor di Kantor Kemendag, Jakarta, Jumat (21/2/2025).



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5468585/original/034598300_1767959556-0S6A9595.jpg)

