SITUASI di Iran kian mencekam seiring meluasnya gelombang protes anti-pemerintah. Sejumlah tenaga medis di tiga rumah sakit berbeda mengungkapkan kepada BBC, fasilitas kesehatan mereka kini berada dalam kondisi kolaps akibat lonjakan korban jiwa dan luka-luka.
Seorang petugas medis di Teheran menggambarkan pemandangan yang sangat mengerikan di unit gawat darurat. Ia menyebut banyak korban usia muda, rata-rata 20 hingga 25 tahun, tiba dengan kondisi luka tembak fatal.
"Ada tembakan langsung ke kepala dan jantung anak-anak muda itu. Banyak dari mereka bahkan tidak sempat mencapai rumah sakit," ungkapnya.
Kondisi ruang jenazah pun dilaporkan telah melampaui kapasitas. Karena tidak ada lagi ruang tersisa, jenazah-jenazah terpaksa ditumpuk satu sama lain di dalam ruang salat atau ruang ibadah rumah sakit.
Krisis Medis di Tengah Pemutusan InternetLaporan serupa datang dari pusat spesialis mata utama di Teheran, Rumah Sakit Farabi. Seorang dokter yang berhasil terhubung melalui koneksi satelit Starlink menyebutkan rumah sakit tersebut telah masuk ke "mode krisis". Seluruh prosedur bedah non-darurat ditangguhkan demi menangani pasien dengan luka tembak peluru tajam maupun peluru pelet.
Di kota Rasht, BBC Persian memverifikasi adanya 70 jenazah yang dibawa ke Rumah Sakit Poursina dalam satu malam. Selain itu, sumber rumah sakit menyebutkan otoritas setempat diduga meminta bayaran sebesar 7 miliar rial (sekitar Rp92 juta) kepada keluarga korban sebagai syarat untuk menebus jenazah agar bisa dimakamkan.
Reaksi Internasional dan Ancaman MiliterPresiden AS, Donald Trump, melalui media sosial menyatakan dukungannya terhadap para demonstran. "Iran sedang menatap kebebasan, mungkin seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya. Amerika Serikat siap membantu!" tulisnya. Trump juga memperingatkan bahwa pembunuhan terhadap pengunjuk rasa akan ditanggapi secara keras oleh AS.
Di sisi lain, para pemimpin dunia termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer, dan Kanselir Jerman Friedrich Merz merilis pernyataan bersama. Mereka mendesak otoritas Iran untuk mengizinkan kebebasan berekspresi dan berkumpul secara damai tanpa rasa takut akan tindakan balasan.
Respons Keras Pemimpin Tertinggi IranMenanggapi tekanan tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tetap pada sikapnya yang menantang. Dalam pidato di televisi nasional, ia menegaskan bahwa Republik Islam tidak akan mundur menghadapi pihak-pihak yang ia sebut sebagai "elemen destruktif".
"Republik Islam berkuasa melalui darah beberapa ratus ribu orang yang terhormat, dan ia tidak akan mundur menghadapi mereka yang menyangkal hal ini," tegas Khamenei.
Sejauh ini, lembaga pemantau hak asasi manusia melaporkan sedikitnya 51 demonstran, termasuk anak-anak, telah tewas sejak protes pecah pada akhir Desember. Pihak berwenang Iran membantah ada korban jiwa di Teheran, meskipun mereka mengakui adanya puluhan gedung pemerintah yang dibakar oleh massa. (BBC/Z-2)




