TEHERAN, KOMPAS.TV - Kerusuhan di Iran terus berlanjut. Pengunjuk rasa kembali berkumpul di kawasan Sa'adat Abad, Teheran, meski pemerintah meningkatkan tindakan keras.
Protes yang hampir memasuki dua minggu terjadi di tengah pemadaman internet dan gangguan telepon sehingga sulit terpantau oleh siapa pun, baik dari dalam maupun luar negeri.
Data lembaga HAM menunjukkan 65 orang tewas dan lebih dari 2.300 orang ditahan.
Pemerintah Iran melalui siaran televisi negara menekankan pengetatan pantauan, sementara Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei menegaskan akan menindak tegas demonstran.
Pemimpin tertinggi Iran menanggapi kerusuhan yang muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dituduh memicu ketegangan.
Pemimpin tertinggi Iran mengecam aksi demonstran dan menyatakan tindakan mereka membahayakan keamanan nasional.
Media Iran menekankan setiap upaya provokasi asing akan mendapat tindakan tegas dari pihak berwenang.
Situasi ini menambah ketegangan di tengah protes yang terus berlangsung di beberapa kota besar Iran.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan pemerintah Iran untuk tidak menggunakan kekerasan terhadap demonstran saat protes anti-pemerintah menyebar di berbagai kota Iran.
Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Trump bilang Amerika Serikat memantau situasi Iran dengan seksama, siap membantu pengunjuk rasa, meski tidak dengan pasukan darat.
Protes di Iran muncul sejak akhir Desember di Teheran, dipicu memburuknya ekonomi dan merosotnya nilai mata uang nasional.
Baca Juga: Demo Memanas di Iran! Mobil dan Gedung Dibakar, Khamenei–Putra Mahkota Iran Angkat Bicara
#iran #demoricuh #trump
_
Sahabat KompasTV, apa pendapat kalian soal berita ini? Komentar di bawah ya!
Penulis : Aisha-Amalia-Putri
Sumber : Kompas TV
- demo iran
- ricuh demo iran
- teheran demo
- trump
- iran
- trump soal iran


