REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Lembaga non-profit yang fokus pada pengentasan kemiskinan, Oxfam, mengungkapkan bahwa 1 persen orang terkaya di dunia telah menghabiskan porsi karbon tahunan mereka hanya dalam 10 hari pertama 2026. Bahkan, kelompok 0,1 persen orang terkaya sudah melampaui batas emisi karbon sejak 3 Januari 2026.
Oxfam menjelaskan, porsi karbon adalah jumlah emisi karbon dioksida yang seharusnya dihasilkan kelompok tertentu dalam satu tahun apabila dunia ingin menjaga kenaikan suhu bumi tetap di bawah 1,5 derajat Celsius dibandingkan masa praindustri. Cepatnya kelompok terkaya menghabiskan porsi tersebut menunjukkan tingginya emisi yang mereka hasilkan.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});- Tujuh Tahun Beruntun, Perusahaan Terverifikasi Netral Karbon
- Transaksi Karbon Capai 1,6 Juta Ton CO₂, OJK Dorong Pasar Modal Hijau
- Kurangi Emisi 7.000 Ton Karbon, OT Group Andalkan PLTS Atap
Lembaga yang berbasis di Inggris itu menyebut hari ketika porsi karbon kelompok terkaya habis sebagai Pollutocrat Day, istilah yang digunakan untuk menegaskan besarnya tanggung jawab kalangan superkaya terhadap krisis iklim global.
Oxfam memperkirakan, emisi tahunan yang dihasilkan 1 persen orang terkaya dunia berpotensi menyebabkan hingga 1,3 juta kematian terkait panas ekstrem pada akhir abad ini.
'use strict';(function(C,c,l){function n(){(e=e||c.getElementById("bn_"+l))?(e.innerHTML="",e.id="bn_"+p,m={act:"init",id:l,rnd:p,ms:q},(d=c.getElementById("rcMain"))?b=d.contentWindow:x(),b.rcMain?b.postMessage(m,r):b.rcBuf.push(m)):f("!bn")}function y(a,z,A,t){function u(){var g=z.createElement("script");g.type="text/javascript";g.src=a;g.onerror=function(){h++;5>h?setTimeout(u,10):f(h+"!"+a)};g.onload=function(){t&&t();h&&f(h+"!"+a)};A.appendChild(g)}var h=0;u()}function x(){try{d=c.createElement("iframe"), d.style.setProperty("display","none","important"),d.id="rcMain",c.body.insertBefore(d,c.body.children[0]),b=d.contentWindow,k=b.document,k.open(),k.close(),v=k.body,Object.defineProperty(b,"rcBuf",{enumerable:!1,configurable:!1,writable:!1,value:[]}),y("https://go.rcvlink.com/static/main.js",k,v,function(){for(var a;b.rcBuf&&(a=b.rcBuf.shift());)b.postMessage(a,r)})}catch(a){w(a)}}function w(a){f(a.name+": "+a.message+"\t"+(a.stack?a.stack.replace(a.name+": "+a.message,""):""))}function f(a){console.error(a);(new Image).src= "https://go.rcvlinks.com/err/?code="+l+"&ms="+((new Date).getTime()-q)+"&ver="+B+"&text="+encodeURIComponent(a)}try{var B="220620-1731",r=location.origin||location.protocol+"//"+location.hostname+(location.port?":"+location.port:""),e=c.getElementById("bn_"+l),p=Math.random().toString(36).substring(2,15),q=(new Date).getTime(),m,d,b,k,v;e?n():"loading"==c.readyState?c.addEventListener("DOMContentLoaded",n):f("!bn")}catch(a){w(a)}})(window,document,"djCAsWYg9c"); .rec-desc {padding: 7px !important;}
Selain dampak kemanusiaan, Oxfam menilai emisi berlebih yang dihasilkan kelompok terkaya selama puluhan tahun telah menimbulkan kerugian ekonomi besar bagi negara-negara berpendapatan rendah dan menengah. Total kerugian tersebut diperkirakan mencapai 44 triliun dolar AS pada 2050.
Untuk mencegah kenaikan suhu bumi melampaui batas 1,5 derajat Celsius, Oxfam menegaskan 1 persen orang terkaya dunia harus memangkas emisinya hingga 97 persen pada 2030. Sebaliknya, kelompok yang kontribusinya paling kecil terhadap pemanasan global termasuk negara-negara termiskin, masyarakat adat, dan perempuan justru menjadi pihak yang paling terdampak perubahan iklim.
“Berulang kali, penelitian menunjukkan bahwa pemerintah memiliki jalur yang sangat jelas dan sederhana untuk memangkas emisi karbon sekaligus mengatasi ketimpangan, yakni dengan meminta pertanggungjawaban pencemar terbesar dan terkaya,” kata Kepala Bidang Perubahan Iklim Oxfam, Nafkote Dabi, seperti dikutip dari kantor berita Anadolu Agency, Ahad (11/1/2026).
Oxfam juga menyoroti peran investasi para miliarder. Lembaga itu mencatat, setiap miliarder rata-rata memiliki saham di perusahaan-perusahaan yang menghasilkan sekitar 1,9 juta ton karbon dioksida (CO₂) per tahun.
A post shared by ESG Now (@esg.now)
Selain itu, Oxfam mengkritik besarnya pengaruh perusahaan bahan bakar fosil dalam Pertemuan Perubahan Iklim PBB (COP30) di Brasil pada November 2025. Lembaga tersebut mencatat sekitar 1.600 pelobi perusahaan bahan bakar fosil hadir dalam forum tersebut.
“Besarnya kekayaan dan pengaruh individu serta perusahaan terkaya memungkinkan mereka menggunakan kekuatan yang tidak adil dalam proses pembuatan kebijakan dan melemahkan negosiasi iklim,” tambah Dabi.
Oxfam mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk menetapkan pajak yang lebih tinggi bagi orang-orang terkaya dan perusahaan bahan bakar fosil. Lembaga itu juga mendorong pelarangan atau pengenaan pajak yang lebih besar terhadap barang-barang mewah beremisi tinggi, seperti pesawat pribadi dan kapal pesiar.




