Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah mempertimbangkan rencana serangan militer terhadap Iran seiring gelombang protes besar-besaran yang makin meluas di negara itu.
Melansir Iran International, Minggu (11/1/2026), rencana itu masih belum final. Namun, opsi itu disebut sejumlah pejabat AS sedang dipelajari oleh pemerintahan Trump sebagai respons atas tindakan keras rezim Iran terhadap demonstran.
Menurut laporan yang sama, Trump telah menerima beberapa opsi serangan militer, termasuk kemungkinan serangan terhadap target nonmiliter di Teheran, ibu kota Iran.
Pilihan itu disiapkan sebagai bagian dari strategi menghadapi penindasan brutal terhadap protes nasional, tetapi belum ada keputusan resmi yang diambil hingga kini.
Situasi di Iran sendiri saat ini semakin memanas setelah aksi protes yang dipicu masalah ekonomi dan aspirasi politik berubah menjadi gerakan besar menentang pemerintahan teokratis di seluruh negeri.
Aparat keamanan Iran dilaporkan menanggapi demonstrasi tersebut dengan kekuatan mematikan, sementara pemerintah memberlakukan pemadaman internet hampir total untuk membatasi penyebaran informasi.
Protes yang berlangsung hampir dua minggu telah menyebabkan ratusan orang tewas dan ribuan ditangkap, menurut laporan organisasi pemantau hak asasi manusia.
Pemerintah Iran juga menuduh demonstran sebagai “pemberontak” dan memperingatkan tindakan keras lebih lanjut terhadap siapa pun yang menentang negara.
Trump sendiri sejak awal menyatakan dukungan kepada para pengunjuk rasa dan memperingatkan bahwa AS akan “ikut campur” jika Pemerintah Iran terus menggunakan kekerasan terhadap warganya.
Pernyataan Presiden AS yang juga mencakup ancaman militer, memperkuat sinyal opsi militer dapat digunakan.
Analis internasional memperingatkan, jika AS melancarkan serangan terhadap Iran, hal itu berpotensi memicu eskalasi ketegangan regional yang signifikan, karena hubungan kedua negara sudah berada pada titik yang sangat tegang dan kompleks.(bil/rid)



