MerahPutih.com - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkap alasan menarik di balik pembongkaran tiang monorel mangkrak di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan. Selain untuk penataan kota, langkah tersebut disebut Pramono sebagai bentuk penghormatan kepada mantan Gubernur Jakarta Sutiyoso atau akrab disapa Bang Yos.
Pramono menyebut pembongkaran tiang monorel yang telah berdiri sejak 2004 itu diharapkan dapat membuat Bang Yos “tidur lebih nyenyak”, mengingat proyek monorel tersebut merupakan peninggalan masa lalu yang tak kunjung tuntas.
“Saya akan melanjutkan hal-hal baik dari gubernur sebelumnya. Minggu depan ini, monorel yang sudah dibangun sejak tahun 2004 akan kita bongkar, dan saya berharap Bang Yos agar tidurnya bisa lebih nyenyak,” ujar Pramono saat menghadiri haul ke-85 Pahlawan Nasional Mohammad Husni (M.H.) Thamrin di TPU Karet Bivak, Jakarta Selatan, Minggu (11/1).
Baca juga:
Pemprov DKI Jakarta Beberkan Skema Pembongkaran Tiang Monorel di Kuningan
Pramono menambahkan, pihaknya akan mengundang langsung Bang Yos untuk menyaksikan proses pembongkaran tiang monorel yang selama lebih dari dua dekade terbengkalai tersebut.
“Minggu depan ini saya akan mengundang Bang Yos supaya monorel itu bisa kita bersihkan,” tuturnya.
Sebelumnya, Pramono Anung menghadiri acara haul ke-85 M.H. Thamrin yang digelar oleh Majelis Kaum Betawi di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat. Dalam kesempatan tersebut, Pramono menyampaikan harapannya agar Majelis Kaum Betawi dapat memperkuat persatuan dan kesatuan di internal masyarakat Betawi.
“Kalau hari ini kita memperingati haul M.H. Thamrin yang ke-85, saya sebagai Gubernur DKI Jakarta harapannya cuma satu, semoga Majelis Kaum Betawi ini segera bersatu,” kata Pramono di lokasi.
Baca juga:
Tak Hanya Bongkar Tiang Monorel, Pemprov DKI Utamakan Penataan Rasuna Said
Menurut Pramono, salah satu keunggulan masyarakat Betawi adalah sifatnya yang egaliter, tanpa sistem kerajaan atau kesultanan. Semua memiliki kedudukan yang setara, yang justru menjadi kekuatan besar apabila dapat dipersatukan.
“Orang Betawi itu egaliter, tidak punya raja, tidak punya sultan. Semua bisa menjadi raja dan menjadi sultan. Inilah kekuatan yang harus dipersatukan,” ujarnya.
Pramono juga menegaskan bahwa Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Daerah Khusus Jakarta secara jelas menyebutkan bahwa budaya utama Jakarta adalah budaya Betawi. Oleh karena itu, penguatan identitas Betawi akan terus menjadi bagian penting dalam arah pembangunan Jakarta ke depan. (Asp)





