Gelombang protes anti-pemerintah kembali terjadi di sejumlah kota Iran pada Minggu (11/1) dini hari, meski pemutusan internet nasional telah berlangsung lebih dari 60 jam. Kelompok hak asasi manusia (HAM) memperingatkan aparat keamanan melakukan tindakan mematikan untuk membungkam demonstrasi, seperti dikutip AFP.
“Langkah sensor ini menghadirkan ancaman langsung terhadap keselamatan dan kesejahteraan warga Iran di momen krusial bagi masa depan negara,” tulis pemantau internet Netblocks, seraya menegaskan pemutusan internet tersebut “kini telah melewati batas 60 jam”.
Meski akses komunikasi diblokir, video-video protes tetap beredar dan menunjukkan massa turun ke jalan di Teheran dan Mashhad. Dalam sejumlah rekaman, tampak kendaraan dibakar serta demonstran mengibarkan bendera lama Iran bergambar singa dan matahari—simbol monarki sebelum Revolusi Islam 1979.
Aksi ini disebut mengikuti seruan Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang hidup di pengasingan, yang mendorong demonstran menguasai ruang publik dan menggunakan simbol-simbol nasional pra-revolusi.
“Jangan tinggalkan jalanan. Hati saya bersama kalian. Saya tahu saya akan segera berada di sisi kalian,” ujar Pahlavi, sebagaimana dikutip AFP.
Sebelumnya, AP News melaporkan data aktivis HAM di AS mencatat sedikitnya 116 orang tewas terkait protes, termasuk 37 aparat keamanan. Namun aktivis menilai jumlah korban berpotensi lebih besar karena pemadaman internet membatasi arus informasi.
Pusat HAM di Iran (CHRI) menyebut menerima kesaksian langsung dan laporan kredibel yang mengindikasikan ratusan demonstran telah terbunuh selama pemadaman berlangsung, dengan rumah sakit dilaporkan kewalahan dan stok darah menipis.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni membantah tudingan tersebut. Dalam pernyataannya di televisi pemerintah, yang dikutip AFP, Momeni mengatakan aksi “vandalisme” menurun. Ia memperingatkan bahwa “mereka yang mengarahkan protes ke arah perusakan, kekacauan, dan aksi terorisme tidak membiarkan suara rakyat terdengar”.
Aksi protes yang bermula dari lonjakan biaya hidup itu kini berkembang menjadi tantangan langsung terhadap rezim teokrasi Iran yang berkuasa sejak 1979 dan menjadi salah satu ujian terberat bagi kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei.




