Menjawab Darurat Sampah Tangsel dengan Pilah Sampah dari Rumah

kompas.id
9 jam lalu
Cover Berita

Rinai hujan tidak menghalangi nasabah bank sampah Green Nuansa, Perumahan Nuansa Asri Cipadu, Rukun Tetangga 06 Rukun Warga 04, Kelurahan Jurang Mangu Timur, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten, keluar dari rumah, Minggu (11/1/2026) pagi. Mereka menyetor sampah yang sudah dipilah di rumah ke bank sampah.

Inisiatif warga memilah sampah dari rumah kini menjadi strategi penting di tengah darurat sampah Kota Tangsel. Aktivitas penimbangan sampah kering bank sampah Green Nuansa menjadi antitesis tumpukan sampah yang menghiasi jalanan kota beberapa pekan terakhir.

Aktivitas bank sampah Green Nuansa pagi itu jadi pelajaran penting. Perubahan perilaku mengurangi timbulan sampah bisa dimulai dari setiap keluarga. Warga antusias mengumpulkan kardus, kertas, kemasan air minum, hingga sampah elektronik, yang sudah dibersihkan, tertata rapi menanti ditimbang petugas bank sampah.

Interaksi antara petugas bank sampah, yang merupakan ibu-ibu warga RT 06 RW 04, dan warga pun lebih edukatif. Hal ini tampak ketika orang nasabah membawa kardus berisi barang bekas campuran plastik dan kaleng. Alih-alih menolak, Siti Kastamah (45), petugas bank sampah, dengan sigap namun santun memberikan edukasi langsung di tempat.

"Ini beda jenis, ya, Pak. Nanti dipisahin. Kaleng sama plastik beda. Bapak belajar juga bisa," ujar petugas sembari membantu memilah barang bekas yang disetorkan. Interaksi ini menunjukkan memilah sampah mudah dengan kemauan memulai dan belajar.

Baca JugaSampah, Bom Waktu yang Hantui Tangerang Selatan

Kepercayaan warga tumbuh karena sistem yang transparan. Timbangan digital menunjukkan angka yang bisa dilihat langsung penyetor, seperti angka 0,75 kilogram, yang tertera saat setoran kardus ditimbang. Di sebelahnya, Sintha (45), petugas bank sampah, dengan cekatan memasukkan data ke laptop.

Semua tercatat digital. Botol-botol plastik jenis Polyethylene Terephthalate (PET) terlihat bersih dari label dan tutupnya dipisahkan, menandakan proses pemilahan di rumah warga sudah mencapai tahap lanjut. Mereka tidak lagi menyetor sampah, tetapi menyetor bahan baku industri sirkular.

Digitalisasi memanfaatkan aplikasi yang dikembangkan oleh usaha rintisan (startup), PT Sirkular Sampah Kemasan (Sirsak). Sirsak merupakan perusahaan teknologi hijau (green-tech), yang mengisi celah kosong dalam rantai pasok daur ulang. Calvin Rudolf, Head of Operation Sirsak, menjelaskan Sirsak merevolusi cara bank sampah bekerja melalui digitalisasi dan manajemen rantai pasok presisi.

Berbeda dengan pemain daur ulang konvensional yang berebut botol plastik bening (PET) bernilai tinggi, Sirsak justru masuk ke ceruk yang dihindari banyak pihak. "Fokus kita menampung sampah-sampah yang tertolak, kategorinya biasanya sampah kemasan atau multi-layer plastic (MLP)," ungkap Calvin.

Sirsak fokus sampah kemasan karena menjadi masalah krusial penanganan sampah rumah tangga di manapun. Sampah kemasan dari rumah tangga adalah salah satu penyumbang volume terbesar namun tersulit didaur ulang.

Baca JugaTangsel Lirik Budidaya ”Maggot” untuk Solusi Atasi Sampah Organik

Peran sebagai pembeli siaga untuk sampah kemasan membuat Sirsak memudahkan bank sampah. Saat ini, Sirsak bermitra dengan sedikitnya 400 bank sampah di Tangerang Raya, Jakarta Barat, hingga Kabupaten Tangerang. Volume yang dikelola pun tidak main-main. Khusus untuk kemasan saset saja, Sirsak mampu mengumpulkan 3 ton hingga 4 ton per bulan.

Dalam praktik di lapangan, Sirsak tetap menemukan sejumlah kendala. "Masalahnya bukan soal harga, tapi soal pendataan. Sumber sampahnya dari lapak mana, materialnya apa aja, bahasanya beda-beda di tiap lapak," jelas Calvin.

Dukungan digitalisasi

Inovasi utama Sirsak terletak pada integrasi Internet of Things (IoT) dalam mendukung operasional bank sampah. Mereka mengembangkan aplikasi yang terkoneksi langsung dengan timbangan digital.

"Kita mencoba bikin aplikasi dikoneksikan dengan timbangan. Jadi ketika sudah menimbang, hasilnya langsung tercatat masuk ke sistem," papar Calvin.

Inovasi ini memangkas waktu operasional bank sampah. Penimbangan sampah yang biasanya memakan waktu dari pagi hingga sore hari terpangkas menjadi 6 jam saja. Teknologi ini memangkas waktu kerja petugas bank sampah hingga separuhnya, mengurangi kesalahan pencatatan data, dan menciptakan basis data yang valid terkini.

Baca JugaBank Sampah Masih Menggeliat di Tangsel

Bank sampah Green Nuansa telah dua kali menggunakan aplikasi digital Sirsak. Ketua Bank Sampah Green Nuansa Sinekensana mengungkapkan, aplikasi tersebut sangat memudahkan petugas dalam menerima setoran sampah warga.

”Kami jadi bisa menerima nasabah baru lebih banyak lagi. Warga dari RT lain yang mau menjadi nasabah Green Nuansa pun bisa kami terima,” ujar Sinekensana.

Semangat warga menabung sampah di Green Nuansa menjadi asa bagi Tangsel. Lurah Jurangmangu Timur Ahmad Ghozali menargetkan, setiap RW memiliki minimal satu bank sampah.

"Ayo semua kita buat satu RW minimal satu bank sampah," ujarnya.

Saat ini, sudah ada RW 02, RW 04, RW 05, dan RW 12 memiliki bank sampah. Ghozali terus mendorong seluruh ketua RW berkolaborasi dengan warga untuk mendirikan bank sampah di lingkungan masing-masing.

Koordinator Forum Bank Sampah Pondok Aren Dasuki mengungkapkan, kini ada 47 bank sampah yang tersebar di 9 kelurahan dari 11 kelurahan di Pondok Aren. ”Kami terus mengedukasi warga Pondok Aren agar lebih banyak bank sampah di setiap RW,” ujar Dasuki.

Edukasi lima warna

Untuk mempercepat replikasi kesuksesan bank sampah Green Nuansa ke RW lain, standar edukasi mulai digencarkan. Pemerintah Kota Tangsel menyosialisasikan metode "Lima Warna" agar warga tidak bingung saat memilah sampah di rumah mereka.

Baca JugaSampah Indonesia Paling Menakutkan di Dunia?

Wadah hijau untuk sampah organik, seperti sisa makanan, kulit buah, dan daun. Sampah ini didorong untuk diselesaikan di rumah menjadi kompos. Wadah kuning untuk botol plastik dan kaleng minuman, yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Wadah biru untuk kardus, koran, dan kertas yang bisa didaur ulang. Wadah merah yang masuk kategori berbahaya, seperti baterai bekas dan bohlam lampu yang tidak boleh tercampur. Ada juga wadah hitam untuk sampah yang sulit didaur ulang, seperti styrofoam dan popok.

Pilah sampah dari rumah merupakan kampanye penting di Tangsel. Kota berpenduduk 1,4 juta jiwa yang tersebar di 7 kecamatan sesuai data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Tangsel pada Semester I-2025, membuat volume timbulan sampah terus bertambah.

Sebanyak 44 persen penduduk Tangsel terkonsentrasi di Kecamatan Pamulang dan Pondok Aren. Perkembangan pesat perumahan-perumahan membuat kebutuhan infrastruktur pengolahan sampah rumah tangga pun meningkat.

Dalam rapat koordinasi penanggulangan sampah Kota Tangsel dipimpin Wakil Wali Kota Tangsel Pillar Saga Ichsan, Jumat (9/1/2026), seluruh wilayah Tangsel wajib menangani penanggulangan sampah dari tingkat mikro. Pillar meminta dukungan aparat penegak hukum dalam upaya mencegah orang membuang sampah di tempat umum.

Langkah tegas ini diambil karena Kota Tangsel sedang darurat sampah. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional Kementerian Lingkungan Hidup, timbulan sampah Tangsel sedikitnya 1.000 ton per hari dengan 77 persen di antaranya merupakan sampah rumah tangga. Volume tersebut melampaui daya tampung Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cipeucang hanya 300 ton–400 ton per hari.

Baca JugaKrisis Sampah Tangsel, Cermin Lambatnya Transformasi Tata Kelola Sampah di Tingkat Kota

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq mengambil langkah drastis dengan menghentikan sementara operasional TPA Cipeucang hingga Juni 2026 karena kondisinya yang telah mencemari Sungai Cisadane (Kompas, 9/1/2026). Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie juga telah menandatangani Keputusan Wali Kota Nomor 600.1.17.3/Kep.460-Huk/2025 tentang Tim Percepatan Pengelolaan Sampah pada 1 Desember 2025.

Keputusan ini mengubah struktur sosial kemasyarakatan menjadi mesin pengelolaan sampah yang wajib berjalan. Seluruh camat, lurah, ketua RW, dan ketua RT pun mendapat mandat untuk mendorong pengelolaan sampah rumah tangga dari warga melalui pembentukan bank sampah dan pendataan penanganan sampah tingkat warga.

Warga Jurangmangu Timur telah membuktikan bahwa memilah sampah dari rumah mampu menghasilkan nilai ekonomi sirkular. Mereka mengubah masalah menjadi berkah, mengubah sampah menjadi rupiah. Mari kita semua memilah sampah dari rumah.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Diduga Pengemudi Mengantuk, 2 Minibus Tabrakan di Cengkareng | SAPA PAGI
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
DPRD Jabar: Kendaraan Listrik Gerus PAD, APBD Masih Bergantung PKB
• 7 jam laluviva.co.id
thumb
Purbaya Pastikan Pegawai Pajak yang Kena OTT KPK Dapat Pendampingan Hukum: Bukan Intervensi
• 16 jam lalukompas.com
thumb
Tekanan Pasar Otomotif 2026: Daya Beli Kelas Menengah Jadi Kunci
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Kebiasaan Buruk yang Harus Ditinggalkan di Usia 40-an agar Tetap Awet Muda dan Sehat
• 6 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.