Jakarta, tvOnenews.com - Investasi global di sektor energi bersih terus menunjukkan lonjakan signifikan sepanjang 2025. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat total investasi energi bersih dunia mencapai rekor baru sebesar USD2,2 triliun, menegaskan bahwa transisi global dari energi fosil menuju energi terbarukan semakin tak terhindarkan.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyampaikan hal tersebut dalam pidato virtualnya pada Sidang Majelis ke-16 International Renewable Energy Agency (IRENA) yang digelar di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Minggu (11/1). Ia menyebut angka investasi tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan investasi global di sektor energi fosil.“Transisi energi bersih tidak dapat dihentikan dan tidak bisa diputar balik,” tegas Guterres di hadapan para delegasi.
Menurut Guterres, lonjakan investasi ini didorong oleh kemajuan teknologi energi terbarukan yang semakin pesat serta penurunan biaya di berbagai sektor, mulai dari pembangkit listrik tenaga surya, angin, hingga teknologi penyimpanan energi. Kondisi tersebut membuat energi bersih semakin kompetitif dibandingkan energi berbasis bahan bakar fosil.
Namun di balik tren positif tersebut, Guterres mengingatkan masih adanya tantangan serius yang berpotensi memperlambat laju transisi energi. Salah satu persoalan utama adalah pembangunan infrastruktur yang belum sejalan dengan kecepatan inovasi teknologi.
Ia mengungkapkan, pada 2024 dunia menggelontorkan sekitar USD1 triliun untuk pembangkit listrik bersih. Namun, investasi pada jaringan listrik dan infrastruktur pendukung lainnya tercatat kurang dari setengah angka tersebut. Ketimpangan ini dinilai berisiko menghambat distribusi energi bersih secara optimal.
“Teknologi bergerak cepat, tetapi infrastruktur tertinggal,” ujar Guterres.
Selain itu, PBB juga menyoroti berbagai hambatan struktural yang masih dihadapi banyak negara, seperti proses perizinan yang panjang, keterbatasan kapasitas jaringan listrik, hambatan rantai pasok, serta meningkatnya tekanan terhadap pasar mineral kritis yang dibutuhkan untuk teknologi energi bersih.
Guterres secara khusus menyinggung kondisi negara berkembang, terutama di Afrika, yang masih menghadapi kesulitan besar dalam mengakses pembiayaan dengan biaya terjangkau. Padahal, kawasan tersebut memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar, baik dari tenaga surya, angin, maupun air.




