Denpasar (ANTARA) - Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) membuka lebar penelitian, salah satunya terkait hubungan musik dan otak karena belum ada penelitian serupa di Indonesia.
"Bukan kurang lagi penelitian musik dan otak, tapi belum ada penelitiannya," kata Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie di sela lokakarya ketiga terkait musik dan otak di Denpasar, Bali, Minggu.
Selain penelitian terkait otak dan musik masih belum ada di Tanah Air, lanjut dia, masih banyak pendalaman yang bisa dilakukan untuk meneliti hubungan keduanya.
Di sisi lain, kata dia, pemerintah menyediakan dana hibah untuk riset yang dalam satu tahun terakhir dinaikkan menjadi 218 persen.
Baca juga: Stella Christie: Indonesia sangat membutuhkan industri berbasis sains
Adapun anggaran riset pada 2025 mencapai Rp3,2 triliun atau naik 218 dibandingkan tahun 2024 yang mencapai Rp1,4 triliun.
Selain itu, lanjut dia, ada insentif kepada dosen yang memenangkan dana hibah penelitian dari Kemdiktisaintek sebesar 25 persen dari besaran dana riset yang diberikan.
"Di Indonesia kami punya dosen yang mumpuni. Kami ciptakan ekosistem, menciptakan pendanaan. Makanya dana riset hibah di Indonesia dalam satu tahun ini naik 218 persen," ucap Wamendiktisaintek Stella Christie.
Wamendiktisaintek menambahkan bidang yang dieksplorasi untuk riset, khususnya terkait musik dan otak di Indonesia juga terbuka lebar, salah satunya kebudayaan daerah yang kaya dengan musik, seperti gamelan dan instrumen musik tradisional dan musik tren kekinian.
Baca juga: Kemdiktisaintek buka peluang riset efek pengganda ekonomi kreatif
Sementara itu lokakarya musik dan otak itu diadakan Kemdiktisaintek bersama Tsinghua University dan Tsinghua South East Asia Center di Kampus United in Diversity (UID) Bali di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura, Serangan, Denpasar, Bali.
Lokakarya ketiga dalam tiga tahun terakhir di Bali itu menjadi ajang berbagi pengetahuan para profesor dan komunitas seni dari mancanegara tentang pengaruh musik terhadap kecerdasan otak, salah satunya menghadirkan Prof Charles Limb dari University of California, San Francisco (UCSF), Amerika Serikat (AS).
Dari penelitian Prof Limb disebutkan bahwa ketika melakukan improvisasi dalam bermusik, dibandingkan penampilan yang sudah baku, khususnya pada anak-anak usia sekitar 7-10 tahun, area yang membawa kesenangan dan kebahagiaan di seluruh bagian otak itu menjadi lebih aktif.
Baca juga: Luhut harap BGS-I jadi terobosan Indonesia bidang riset kesehatan
"Bukan kurang lagi penelitian musik dan otak, tapi belum ada penelitiannya," kata Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie di sela lokakarya ketiga terkait musik dan otak di Denpasar, Bali, Minggu.
Selain penelitian terkait otak dan musik masih belum ada di Tanah Air, lanjut dia, masih banyak pendalaman yang bisa dilakukan untuk meneliti hubungan keduanya.
Di sisi lain, kata dia, pemerintah menyediakan dana hibah untuk riset yang dalam satu tahun terakhir dinaikkan menjadi 218 persen.
Baca juga: Stella Christie: Indonesia sangat membutuhkan industri berbasis sains
Adapun anggaran riset pada 2025 mencapai Rp3,2 triliun atau naik 218 dibandingkan tahun 2024 yang mencapai Rp1,4 triliun.
Selain itu, lanjut dia, ada insentif kepada dosen yang memenangkan dana hibah penelitian dari Kemdiktisaintek sebesar 25 persen dari besaran dana riset yang diberikan.
"Di Indonesia kami punya dosen yang mumpuni. Kami ciptakan ekosistem, menciptakan pendanaan. Makanya dana riset hibah di Indonesia dalam satu tahun ini naik 218 persen," ucap Wamendiktisaintek Stella Christie.
Wamendiktisaintek menambahkan bidang yang dieksplorasi untuk riset, khususnya terkait musik dan otak di Indonesia juga terbuka lebar, salah satunya kebudayaan daerah yang kaya dengan musik, seperti gamelan dan instrumen musik tradisional dan musik tren kekinian.
Baca juga: Kemdiktisaintek buka peluang riset efek pengganda ekonomi kreatif
Sementara itu lokakarya musik dan otak itu diadakan Kemdiktisaintek bersama Tsinghua University dan Tsinghua South East Asia Center di Kampus United in Diversity (UID) Bali di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura, Serangan, Denpasar, Bali.
Lokakarya ketiga dalam tiga tahun terakhir di Bali itu menjadi ajang berbagi pengetahuan para profesor dan komunitas seni dari mancanegara tentang pengaruh musik terhadap kecerdasan otak, salah satunya menghadirkan Prof Charles Limb dari University of California, San Francisco (UCSF), Amerika Serikat (AS).
Dari penelitian Prof Limb disebutkan bahwa ketika melakukan improvisasi dalam bermusik, dibandingkan penampilan yang sudah baku, khususnya pada anak-anak usia sekitar 7-10 tahun, area yang membawa kesenangan dan kebahagiaan di seluruh bagian otak itu menjadi lebih aktif.
Baca juga: Luhut harap BGS-I jadi terobosan Indonesia bidang riset kesehatan


