Jakarta, VIVA – Podcaster sekaligus komika ternama Raditya Dika kembali mencuri perhatian. Kali ini lewat obrolan santai namun berbobot soal investasi dan pengelolaan keuangan.
Dalam podcast milik Timothy Ronald bertajuk “Bahas Investasi Bareng Raditya Dika”, Radit membagikan sudut pandang realistis tentang cara memandang uang, kekayaan, dan masa depan finansial—jauh dari narasi instan cepat kaya yang kerap digaungkan. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Dalam perbincangan tersebut, Raditya Dika secara terbuka mengungkapkan bahwa investasi bukanlah sumber utama pembentukan kekayaannya. Ia menegaskan bahwa kekayaan sejatinya lahir dari proses bekerja dan menciptakan nilai, bukan dari spekulasi atau harapan keuntungan instan.
“Kalau buat gua, kaya itu dari pekerjaan, dari value creation gua. Investasi gua itu untuk membantu tujuan keuangan,” ujar Radit, dikutip Minggu 11 Januari 2026.
Pernyataan ini menjadi penekanan penting di tengah tren masyarakat yang kerap menempatkan investasi sebagai mesin utama untuk meraih kekayaan. Menurut Radit, pola pikir tersebut justru berisiko menjerumuskan seseorang ke keputusan finansial yang keliru, apalagi jika dibarengi ekspektasi berlebihan terhadap imbal hasil.
Radit mengaku sejak awal kariernya memandang investasi sebagai alat pendukung, bukan tumpuan utama. Mindset itu ia bangun seiring bertambahnya kesadaran akan pentingnya perencanaan jangka panjang, termasuk kesiapan menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian. Baginya, investasi berfungsi sebagai penjaga nilai dan penopang tujuan keuangan, bukan jalan pintas untuk melonjakkan kekayaan dalam waktu singkat.
Dalam diskusi tersebut, Radit juga menyoroti bahaya mentalitas ingin cepat kaya. Ia menilai obsesi terhadap keuntungan besar dalam waktu singkat kerap membuat orang abai terhadap risiko, bahkan mengabaikan logika dan disiplin finansial. Tak sedikit yang akhirnya terjebak investasi bodong atau keputusan spekulatif karena tergiur janji manis.
Lebih lanjut, Radit menegaskan fokus utamanya selama ini adalah memperbesar penghasilan melalui pekerjaan utama dan berbagai sumber pendapatan lain. Setelah arus kas terbentuk secara stabil dan kebiasaan mengelola uang terbangun dengan disiplin, barulah investasi mengambil peran yang lebih strategis dalam hidupnya.




