Saat Rial Runtuh dan Teheran Membara

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Di gang-gang sempit Grand Bazaar Teheran, jantung ekonomi tradisional Iran yang biasanya bising dengan tawar-menawar, keheningan mencekam menyelimuti udara pada akhir Desember lalu.

Namun, keheningan itu bukanlah tanda kedamaian; itu adalah "calm before the storm". Ketika para pedagang mulai menurunkan pintu besi toko mereka secara massal pada 28 Desember 2025, dunia menyadari bahwa Republik Islam Iran sedang memasuki salah satu periode paling berbahaya dalam sejarah modernnya.

Hari ini, 9 Januari 2026, kerusuhan telah memasuki hari ke-13. Apa yang dimulai sebagai protes atas harga roti dan jatuhnya nilai mata uang, kini telah bertransformasi menjadi pemberontakan nasional yang mengancam fondasi kekuasaan teokrasi di Iran.

Pemicu: Runtuhnya Rial dan Paradoks Subsidi

Krisis ini berakar pada angka-angka yang mengerikan. Pada penutupan pasar gelap minggu lalu, mata uang Iran, Rial, terjun bebas hingga menyentuh angka 1,45 juta Rial per 1 Dolar AS. Bagi warga Teheran, ini bukan sekadar statistik; ini adalah vonis kemiskinan instan.

Pemerintah Presiden Masoud Pezeshkian, yang awalnya diharapkan membawa moderasi, terjepit dalam posisi mustahil. Defisit anggaran yang membengkak akibat sanksi internasional yang kian mencekik, ditambah beban biaya militer pasca-konflik terbuka dengan Israel pada pertengahan 2025, memaksa Teheran menghentikan subsidi mata uang untuk impor pangan. Akibatnya, harga barang kebutuhan pokok seperti daging, minyak goreng, dan gandum melonjak hingga 300% dalam hitungan hari. Inflasi tahunan kini dilaporkan melampaui 52%, menciptakan situasi di mana kelas menengah Iran secara resmi telah lenyap.

Kronologi Eskalasi: Dari "Roti" ke "Revolusi"

Sejak letupan pertama di Teheran, gelombang protes menyebar seperti api di padang rumput kering. Berdasarkan data pemantauan hingga hari ini:

* Cakupan Geografis: Aksi protes telah dilaporkan di lebih dari 285 lokasi yang mencakup seluruh 31 provinsi. Kota-kota besar seperti Mashhad, Isfahan, dan Tabriz menjadi medan tempur antara pengunjuk rasa dan polisi anti-huru-hara.

* Pergeseran Narasi: Jika pada hari-hari awal slogan yang terdengar adalah "Kami lapar!", kini teriakan di jalanan telah berubah menjadi "Mati bagi diktator!" dan dukungan terbuka bagi tokoh oposisi di pengasingan. Mahasiswa di Universitas Teheran telah bergabung dengan para buruh minyak di wilayah selatan, menciptakan aliansi lintas kelas yang jarang terjadi.

* Korban Jiwa: Lembaga hak asasi manusia internasional melaporkan sedikitnya 45 orang tewas, termasuk anak-anak dan personel keamanan. Ribuan orang lainnya telah ditahan dalam penggerebekan malam hari.

Bayang-bayang Trump dan "Maximum Pressure 2.0"

Situasi domestik Iran tidak bisa dilepaskan dari dinamika global. Kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih membawa kebijakan "Maximum Pressure 2.0" yang jauh lebih agresif.

Dalam pernyataan terbarunya dari Air Force One, Trump memberikan peringatan keras: "Kami memantau setiap langkah Teheran. Jika mereka terus membantai rakyatnya sendiri, Amerika tidak akan tinggal diam dan akan memberikan pukulan yang sangat keras." Pernyataan ini dipandang oleh Teheran sebagai bentuk provokasi dan intervensi langsung, namun bagi para demonstran, ini memberikan harapan, sekaligus risiko, bahwa gerakan mereka memiliki momentum internasional.

Respon Teheran: Tangan Besi di Tengah Keretakan internal

Pemerintah Iran merespon dengan pola yang familiar namun dengan intensitas yang lebih tinggi. Sejak 8 Januari, pemutusan koneksi internet total dilakukan untuk memutus rantai koordinasi massa. Di saat yang sama, Garda Revolusi (IRGC) mulai dikerahkan ke titik-titik vital.

Namun, ada indikasi keretakan di internal pemerintahan. Sementara Jaksa Agung Mohammad Movahedi-Azad menginstruksikan tindakan tanpa kompromi terhadap "perusuh", Presiden Pezeshkian secara terbuka mengakui bahwa banyak dari tuntutan rakyat adalah "sah dan berdasar". Dualisme ini menunjukkan adanya perdebatan di koridor kekuasaan: apakah akan menindas total seperti tahun 2022, atau memberikan konsesi ekonomi yang saat ini hampir mustahil dilakukan karena kas negara yang kosong.

Analisis Akhir: Akankah Rezim Bertahan?

Iran berada di persimpangan jalan. Berbeda dengan protes Woman, Life, Freedom tahun 2022 yang didorong oleh isu sosial-budaya, kerusuhan 2026 ini didorong oleh perut yang lapar. Sejarah menunjukkan bahwa revolusi yang dipicu oleh krisis pangan jauh lebih sulit dipadamkan hanya dengan kekerasan senjata.

Jika Teheran tidak mampu menstabilkan Rial dalam waktu dekat atau mendapatkan bantuan luar negeri (mungkin dari blok ekonomi timur), maka "Januari Berdarah" ini bisa menjadi awal dari keruntuhan sistemik yang telah bertahan selama hampir setengah abad.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Rupiah Tak Berdaya Lawan Ringgit Selama 2025, Begini Penjelasannya!
• 1 menit lalucnbcindonesia.com
thumb
Hangtuah bangkit, tekuk Pacific 98-78
• 5 jam laluantaranews.com
thumb
Begini Kesaksian Ketua RT soal Pelaku Curanmor Tembak Warga di Palmerah | SAPA PAGI
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Polisi Telusuri Pria Terekam CCTV Kasus Tewasnya Perempuan di Kos Bekasi
• 10 jam laluidntimes.com
thumb
OTT di Jakut, KPK Tahan Lima Tersangka Suap Pemeriksaan Pajak
• 23 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.