PENELITIAN ilmiah terbaru menunjukkan bahwa rumput laut memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida (CO2) jauh lebih cepat dibandingkan hutan daratan. Temuan ini menempatkan ekosistem laut, khususnya hutan rumput laut atau seaweed forests,sebagai komponen penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim global.
Rumput laut, termasuk jenis makroalga seperti kelp dan sargassum, tumbuh dengan laju yang sangat cepat. Dalam kondisi optimal, beberapa spesies rumput laut dapat tumbuh hingga puluhan sentimeter per hari. Laju pertumbuhan ini memungkinkan penyerapan karbon yang tinggi melalui proses fotosintesis, di mana CO2 dari atmosfer dan perairan diubah menjadi biomassa.
Studi yang dipublikasikan dalam Nature Geoscience menunjukkan bahwa makroalga global berpotensi menyerap ratusan juta ton karbon setiap tahun. Sebagian karbon tersebut tersimpan dalam jaringan rumput laut, sementara sebagian lainnya tenggelam ke dasar laut dalam bentuk partikel organik, sehingga terisolasi dari atmosfer dalam jangka waktu yang panjang.
Berbeda dengan hutan daratan yang penyimpanan karbonnya dapat kembali terlepas melalui kebakaran, deforestasi, atau degradasi lahan, karbon yang tersimpan di laut dalam relatif lebih stabil. Proses ini dikenal sebagai blue carbon, yakni mekanisme penyimpanan karbon oleh ekosistem pesisir dan laut.
Penelitian dari Frontiers in Marine Science menyebutkan bahwa produktivitas primer rumput laut dapat melampaui hutan tropis dalam satuan luas tertentu. Hal ini disebabkan oleh efisiensi fotosintesis rumput laut serta ketersediaan nutrien di perairan pesisir.
Selain menyerap karbon, ekosistem rumput laut juga memberikan manfaat ekologis lain, seperti melindungi keanekaragaman hayati laut, menstabilkan garis pantai, dan mendukung perikanan. Namun, potensi ini masih belum sepenuhnya dimanfaatkan dalam kebijakan iklim global.
Para ilmuwan menekankan bahwa rumput laut bukan pengganti hutan, melainkan pelengkap dalam strategi mitigasi perubahan iklim. Perlindungan ekosistem laut dan pengembangan budidaya rumput laut berkelanjutan dinilai dapat menjadi solusi berbasis alam yang efektif, terutama bagi negara kepulauan seperti Indonesia.
Dengan meningkatnya tekanan akibat pemanasan global, pemanfaatan potensi rumput laut sebagai penyerap karbon alami menjadi semakin relevan dan mendesak untuk dipertimbangkan dalam kebijakan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. (Nature Geoscience, Frontiers in Marine Sciences Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), Food and Agriculture Organization/H-4)




