Bisnis.com, JAKARTA — Saham emiten-emiten emas di dalam negeri diproyeksikan mendapatkan angin segar dari tren kenaikan harga emas dunia.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Miftahul Khaer memperkirakan prospek harga emas sepanjang tahun ini masih berada dalam tren yang konstruktif di tengah meningkatnya eskalasi geopolitik global serta tingginya permintaan dari bank sentral.
Kondisi tersebut memperkuat posisi emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
"Meningkatnya risiko fragmentasi ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik hingga ketegangan perdagangan antarnegara, secara historis kerap mendorong minat investor terhadap emas," ujarnya, dikutip Minggu (11/1/2026).
Dia melanjutkan ketidakpastian tersebut membuat investor cenderung mencari aset yang dinilai lebih aman dan stabil dalam menjaga nilai kekayaan.
"Dibandingkan logam lain emas kami kira cenderung lebih defensif dan stabil karena lebih didorong faktor makro, inflasi, suku bunga riil, serta sentimen risiko global," imbuhnya.
Baca Juga
- IHSG Hari Ini (30/12) Dibuka Melemah Tertekan Emiten Emas Cs
- Saham Emiten Emas HRTA, BRMS, MDKA hingga ANTM Kompak Melejit
- Analis Ungkap Sentimen Penguat Emiten Emas, ARCI, HRTA, BRMS Cs
Kondisi ini, lanjutnya, dinilai memberikan angin segar bagi emiten-emiten emas di dalam negeri. Eksposur terhadap harga emas yang masih solid berpotensi menjadi tulang punggung kinerja perusahaan, baik melalui peningkatan harga jual, kenaikan volume produksi dan penjualan, maupun perbaikan margin keuntungan.
"Oleh karena itu eksposur harga emas ini bisa menjadi salah satu backbone untuk kinerja dari emiten-emiten emas, baik melalui peningkatan harga jual, peningkat volume ataupun perbaikan margin," tekannya.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga emas dunia pada Senin (12/1/2026) bergerak naik, mencapai US$4.550 per troy ons.
Tak hanya itu, harga emas Antam apabila bergerak naik mencapai Rp2.630.000 per gram.
Sebaliknya, jika harga emas dunia diperkirakan bergerak turun, pada Senin berada dalam rentang US$4.418 - 4.472 per troy ons. Untuk logam mulia juga bisa terkoreksi Rp30.000 atau pada rentang Rp2.501.000 - Rp 2.570.000 per gram.
Sejumlah faktor yang akan memengaruhi harga emas dunia adalah kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat hingga data tenaga kerja di Amerika Serikat yang kenaikannya tak sesuai dengan ekspektasi.
Selanjutnya yakni tensi geopolitik AS dengan Venezuela yang mereda, tetapi demonstrasi besar di Iran menambah gejolak. Ketegangan di Eropa Timur juga berisiko meluas setelah serangan Ukraina terhadap kediaman Presiden Putin di Moskow.
Sisi lain Presiden AS Donald Trump menyatakan keinginan menguasai lebih dari setengah produksi minyak dunia bila berhasil dapat akses ke industri perminyakan Venezuela. Sehingga harga minyak dapat ditekan sampai US$50 per barel.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5469657/original/068496700_1768147545-AP26011539438626.jpg)

