TABLOIDBINTANG.COM - Tidak semua tempat meninggalkan kesan mendalam hingga membuat orang ingin kembali. Namun, Gereja Puhsarang di Kabupaten Kediri menjadi salah satu pengecualian. Berada di kaki Gunung Wilis dan jauh dari hiruk-pikuk kota, kawasan ini menawarkan ketenangan yang sulit dijelaskan dengan logika, tetapi sangat mudah dirasakan oleh siapa pun yang datang.
Gereja Puhsarang bukan sekadar destinasi wisata religi, melainkan ruang pengalaman batin. Banyak pengunjung mengaku datang tanpa ekspektasi khusus, hanya dilandasi rasa penasaran. Namun saat pulang, mereka membawa perasaan berbeda, lebih tenang, lebih ringan, dan lebih dekat dengan diri sendiri.
Begitu memasuki kawasan Puhsarang, suasana seolah mengajak setiap orang memperlambat langkah. Jalan setapak yang menanjak, pepohonan rindang, serta bangunan yang menyatu dengan alam menciptakan ritme yang menenangkan. Tidak ada paksaan untuk berdoa atau tuntutan memahami simbol-simbol religius secara mendalam. Pengunjung bebas duduk hening di depan Gua Maria, berjalan menyusuri Jalan Salib Bukit Golgota, atau sekadar menikmati hamparan hijau di lereng Gunung Wilis.
Hal lain yang membuat Gereja Puhsarang membekas adalah rasa diterima. Meski merupakan tempat ibadah Katolik, kawasan ini terbuka bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang agama maupun budaya. Tidak ada kesan menghakimi. Semua hadir sebagai manusia yang sama-sama mencari ketenangan, harapan, atau jeda dari rutinitas. Anak-anak, orang tua, peziarah, hingga wisatawan umum berbaur tanpa sekat.
Nuansa budaya Jawa semakin memperkuat karakter Puhsarang. Kompleks ini dirancang dengan sentuhan arsitektur bercorak Majapahit, seperti punden berundak dan bangunan bergaya candi Jawa. Unsur tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap budaya lokal yang hidup berdampingan dengan nilai-nilai religius.
Ketua Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia, Ninie Susanti Tedjowasono, menjelaskan bahwa Gereja Puhsarang memiliki banyak keunikan. Gereja yang usianya hampir satu abad ini dinilainya menyimpan nilai budaya dan toleransi yang tinggi. "Gereja ini tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga merupakan contoh arsitektur yang menggabungkan budaya lokal dan Eropa," kata Ninie.
Menurutnya, arsitektur yang membumi, penggunaan simbol-simbol lokal, serta tata ruang yang mengikuti kontur alam menjadikan Puhsarang berbeda dan sarat pesan toleransi. Tak sedikit pengunjung non-Katolik merasa nyaman berada di kawasan ini, menikmati suasana tanpa rasa canggung. Di sinilah perjumpaan antara iman dan budaya menghadirkan dialog yang sunyi, hangat, dan saling menghormati.
Nilai religius di Puhsarang tidak tampil sebagai sesuatu yang eksklusif, melainkan hidup berdampingan dengan tradisi dan keseharian masyarakat sekitar. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam mengembangkan potensi budaya dan pariwisata.
Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, menyampaikan bahwa Kabupaten Kediri memiliki banyak situs penting yang akan terus dikembangkan. Pemerintah daerah, menurutnya, siap mendukung penuh pembangunan infrastruktur. "Ke depan kami juga akan mendorong pariwisata di Kabupaten Kediri dan menguatkan tagline Kediri Berbudaya," kata dia.
Ia juga menambahkan bahwa akses menuju Kediri kini semakin mudah dengan beroperasinya Dhoho International Airport sebagai pintu gerbang baru. Dari bandara, perjalanan menuju Gereja Puhsarang hanya memerlukan waktu sekitar 30–40 menit dengan akses jalan yang sudah terhubung dengan baik.
Pada akhirnya, daya tarik Gereja Puhsarang bukan terletak pada kemegahan, melainkan pada kesederhanaan yang tulus. Tempat ini tidak menawarkan keramaian, tetapi ruang sunyi. Tidak menjanjikan jawaban instan, namun memberi kesempatan bagi setiap orang untuk mendengarkan suara hatinya sendiri. Mungkin karena itulah, banyak pengunjung memilih kembali, untuk mengulang pengalaman yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, tetapi nyata terasa di dalam batin.




