Lebih dari 500 Orang Tewas dan 10.000 Ditahan di Iran Setelah Rezim Khamenei Meluncurkan Penumpasan Gerakan Aksi Protes

erabaru.net
8 jam lalu
Cover Berita

Sekitar 10.600 orang telah ditahan, menurut laporan sebuah kelompok hak asasi manusia berbasis di Amerika Serikat, yang menyatakan bahwa jumlah korban tewas dan penangkapan kemungkinan besar akan terus bertambah setelah rezim Khamenei muluncurkan penumpasan terhadap demonstran 

Etindonesia. Sejumlah kelompok HAM menyebut bahwa ratusan orang telah tewas dalam demonstrasi massal yang mengguncang Iran dalam beberapa pekan terakhir, sementara ribuan lainnya ditahan.

Setidaknya 192 demonstran tewas sejak gelombang protes massal dimulai, menurut kelompok Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia pada 11 Januari. Kelompok ini menyatakan bahwa berdasarkan “laporan-laporan yang belum terverifikasi”, jumlah korban tewas bisa mencapai ratusan, bahkan lebih dari 2.000 orang sejauh ini.

“Akibat internet mati total dan pembatasan ketat terhadap akses informasi, verifikasi independen menjadi tantangan yang sangat serius dalam situasi saat ini,” kata organisasi tersebut.

Sementara itu, kelompok berbasis di Amerika Serikat Human Rights Activists News Agency (HRANA) melaporkan pada 11 Januari bahwa sedikitnya 538 orang telah tewas dalam penindasan pemerintah terhadap protes nasional. 

Dari jumlah itu, 490 korban adalah demonstran dan 48 lainnya anggota pasukan keamanan rezim. Sekitar 10.600 orang telah ditahan, dan HRANA menegaskan bahwa angka korban tewas dan penangkapan masih akan meningkat.

The Epoch Times menyatakan belum dapat memverifikasi laporan-laporan tersebut secara independen. Hingga kini, rezim Iran belum merilis angka resmi mengenai jumlah korban tewas maupun mereka yang ditahan.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada 11 Januari menuduh kelompok-kelompok luar negeri telah menghasut perpecahan, memfasilitasi kerusuhan, dan mendorong kekacauan umum di dalam negeri. Ia juga mengklaim memberikan sinyal bahwa rezim bersedia berbicara dengan sebagian demonstran.

“Kami telah mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah mereka dengan segala pendekatan yang memungkinkan… itulah sebabnya kami melakukan pembicaraan dengan mereka setiap hari,” ujar Pezeshkian, menurut kantor berita pemerintah Tasnim.

Dalam pidatonya kepada generasi muda Iran, Pezeshkian memperingatkan agar mereka “tidak tertipu oleh para perusuh dan teroris ini”, seraya mengatakan bahwa individu-individu tersebut “telah dilatih”, sebagaimana dikutip media pemerintah PressTV.

Terdapat laporan dari dalam negeri bahwa sejumlah bangunan, termasuk masjid dan gedung pengadilan, dibakar di tengah kerusuhan. Namun The Epoch Times juga belum dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen.

Protes dimulai pada 28 Desember 2025, dipicu oleh runtuhnya nilai rial Iran yang kini diperdagangkan di atas 1,4 juta rial per 1 dolar AS, ketika perekonomian Iran terjepit oleh sanksi internasional, sebagian diberlakukan karena program nuklirnya. Protes kemudian meningkat dan berkembang menjadi seruan langsung yang menantang rezim teokratis Iran.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan dukungannya kepada para demonstran melalui media sosial:

“Iran sedang menatap KEBEBASAN, mungkin seperti belum pernah sebelumnya. Amerika Serikat siap membantu!!!”

“Iran berada dalam masalah besar,” kata Trump kepada wartawan pada 9 Januari.
“Sepertinya rakyat telah mengambil alih sejumlah kota—sesuatu yang bahkan beberapa minggu lalu dianggap mustahil. Kami mengamati situasi ini dengan sangat cermat.

“Saya telah menyatakan dengan sangat tegas bahwa jika mereka mulai membunuh rakyat seperti yang pernah mereka lakukan di masa lalu, kami akan terlibat… Itu tidak berarti mengirim pasukan darat, tetapi berarti memukul mereka sangat keras di titik yang paling menyakitkan.”

Pernyataan Trump disampaikan sekitar sepekan setelah militer AS melancarkan operasi di Venezuela, sekutu Iran, yang menangkap pemimpin Venezuela Nicolás Maduro atas tuduhan perdagangan narkoba.

Sekitar enam tahun lalu, Trump memerintahkan serangan militer AS yang menewaskan komandan tinggi Iran Qassem Soleimani, yang oleh pemerintahannya disebut sebagai pendukung utama serangan terhadap pasukan AS di Timur Tengah.

Pada musim panas lalu, militer AS dan Israel juga melancarkan serangan terhadap fasilitas-fasilitas yang terkait dengan program nuklir Iran, yang kemudian dibalas Iran dengan rentetan rudal ke pangkalan udara AS di Qatar, tanpa korban jiwa.

Sejumlah pejabat Iran kemudian menyatakan bahwa Iran dapat menyerang Israel atau Amerika Serikat. Dalam pidato parlemen, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf bahkan melontarkan ancaman langsung terhadap kedua negara tersebut.

“Jika terjadi serangan terhadap Iran, maka wilayah pendudukan dan seluruh pusat militer Amerika—pangkalan dan kapal-kapalnya di kawasan—akan menjadi target sah kami,” ujar Qalibaf.

“Kami tidak membatasi diri untuk hanya bereaksi setelah serangan terjadi, dan akan bertindak berdasarkan setiap tanda objektif ancaman.”

Associated Press turut berkontribusi dalam laporan ini.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Imbas Hujan dan Genangan, Ini Daftar Koridor Transjakarta yang Alami Keterlambatan
• 6 jam laluviva.co.id
thumb
Cuaca Buruk, Kapal Feri Tertahan di Lintasan Situbondo-Madura
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
Menakar Daya Tarik Saham BUMN 2026 di Tengah Reformasi Danantara
• 9 jam lalubisnis.com
thumb
Laga Persib vs Persija Diserbu Penonton,Wali Kota Bandung Siapkan Transportasi hingga Nonton Bareng
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
KPK Beberkan Peran Yaqut dan Gus Alex di Kasus Kuota Haji, Ungkap Adanya Aliran Kickback
• 22 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.