Pemerintahan Trump terus menargetkan kapal-kapal tanker minyak yang dikenai sanksi dan beroperasi bolak-balik ke Venezuela. Komando Selatan Militer AS pada Jumat (9/1/2025) mengumumkan bahwa di perairan internasional Laut Karibia, mereka kembali menahan sebuah kapal tanker minyak. Ini merupakan kapal tanker kelima yang dicegat militer AS, sekaligus kapal ketiga dari apa yang disebut “armada hantu” yang disita dalam tiga hari terakhir. Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Kristi Noem, menegaskan bahwa Penjaga Pantai AS akan terus menyita kapal tanker yang terkena sanksi guna memutus sumber pendanaan aktivitas ilegal, termasuk terorisme dan perdagangan narkoba.
EtIndonesia. Pada Jumat (12/1/2026), Komando Selatan Militer AS mengumumkan bahwa Angkatan Laut AS telah menaiki sebuah kapal tanker minyak yang dikenai sanksi di Laut Karibia. Pihak AS juga merilis video operasi penahanan kapal tanker yang dimaksud.
Dalam pernyataan yang diunggah di media sosial X, Komando Selatan AS menyebutkan:
“Dalam operasi sebelum fajar, Marinir dan pelaut dari Satuan Tugas Gabungan ‘Southern Spear’, bekerja sama dengan personel Departemen Keamanan Dalam Negeri, berangkat dari kapal induk USS Gerald R. Ford dan berhasil mencegat kapal tanker Olina di Laut Karibia.”
Pernyataan tersebut menambahkan bahwa operasi penangkapan ini didukung sepenuhnya oleh kelompok tempur kapal amfibi Angkatan Laut AS, termasuk tiga kapal perang USS Iwo Jima, USS San Antonio, dan USS Fort Lauderdale, yang dilengkapi dengan platform tempur respons cepat dan daya serang mematikan.
Komando Selatan AS menegaskan: “Operasi gabungan lintas lembaga ini kembali mengirimkan pesan yang jelas: para penjahat tidak memiliki tempat untuk bersembunyi.”
“Misi Operasi Southern Spear tetap teguh, berkomitmen mengakhiri aktivitas ilegal dan memulihkan keamanan di Belahan Barat demi melindungi tanah air kami.”
Kapal tanker Olina merupakan kapal tanker kelima yang dicegat militer AS dan kapal ketiga dari “armada hantu” yang disita dalam tiga hari terakhir.
Menteri Keamanan Dalam Negeri Noem mengungkapkan di media sosial X bahwa:
“Sebagai kapal tanker ‘armada hantu’ lain yang diduga mengangkut minyak yang dikenai embargo, Olina berusaha menghindari pengejaran militer AS setelah berlayar dari Venezuela.”
“Departemen Keamanan Dalam Negeri, melalui koordinasi erat dengan Departemen Pertahanan, Departemen Luar Negeri, dan Departemen Kehakiman, memastikan bahwa operasi naik kapal dilakukan secara aman, efektif, dan sesuai dengan prosedur hukum. Armada hantu tidak dapat menghindari keadilan, juga tidak bisa menyembunyikan jejaknya dengan menggunakan kebangsaan palsu,” ujarnya.
Ia menegaskan kembali bahwa Penjaga Pantai AS akan terus menyita kapal tanker yang dikenai sanksi, menegakkan hukum AS dan hukum internasional, serta memutus sumber pendanaan aktivitas ilegal, termasuk terorisme dan perdagangan narkoba. (Hui)
Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Zhao Fenghua.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5240149/original/046320500_1748875276-20250602_171723.jpg)



