Video tentang Larangan Beijing terhadap Drone Memicu Sindiran Netizen Daratan Tiongkok  : “Mereka Takut dengan Delta Force!” 

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

Otoritas Beijing melarang penerbangan drone. Beberapa hari lalu, seorang warganet yang sedang berada di jalanan Beijing diperiksa kartu identitasnya. Setelah nomor identitas dimasukkan, sistem langsung menampilkan bahwa ia memiliki drone. 

Polisi memperingatkannya bahwa drone hanya boleh dibawa dalam keadaan mati dan sama sekali tidak boleh diterbangkan di wilayah Beijing. Banyak warganet daratan kemudian mengejek PKT dengan komentar seperti “ketakutan oleh pasukan Delta” dan “takut setengah mati, khawatir diseret keluar dari selimut”.

EtIndonesia. Seorang blogger daratan Tiongkok mengunggah video yang menunjukkan dirinya dihentikan polisi di jalanan Beijing untuk pemeriksaan KTP. Setelah nomor identitas dimasukkan, langsung muncul data bahwa ia memiliki drone. Polisi PKT memperingatkan bahwa drone hanya boleh dibawa dalam kondisi mati dan tidak boleh diterbangkan di Beijing.

有网友在北京街头被查身份证,被输入身份证号码后直接显示其拥有无人机。警察警告:可关机携带但不能飞。众网友评:让三角洲吓着了。 pic.twitter.com/Btwo9dT0CK

— ying tang (@yingtan04410735) January 8, 2026

Video tersebut memicu perbincangan hangat. Banyak warganet daratan menyindir kebijakan larangan drone di Beijing, antara lain:

“Benar-benar ketakutan oleh pasukan Delta.”
“Efek samping Delta masih akan terus ada.”
“Delta itu naik helikopter Chinook, bukan drone.”
“Takut pasukan Delta datang menangkap.”

(Tangkapan layar Douyin) (Tangkapan layar Douyin)

“Tegang setengah mati, takut dibawa pergi dari dalam selimut.”
“Karena ketakutan, ‘Matahari’ (sindiran untuk Xi Jinping) harus pindah tempat tidur setiap malam.”

Ada pula blogger yang mengunggah video mengaku membeli sebuah drone DJI, lalu menerima telepon dari instansi pemerintah yang memintanya datang untuk mendaftar dan menandatangani perjanjian. Karena tak punya pilihan, ia akhirnya menjual drone tersebut.

“Pengawasan di Beijing sangat ketat, seluruh wilayah Beijing adalah zona larangan terbang,” ujar blogger itu sambil memegang drone di depan kamera. “Selama saya masih tinggal di Beijing, saya sama sekali tidak akan membeli benda ini lagi.”

2026年1月7日,北京市禁飛,無人機不能飛。市民無奈把無人機賣掉。網友嘲諷:被三角洲嚇到了。 pic.twitter.com/MRNIcMSELA

— ying tang (@yingtan04410735) January 8, 2026

Banyak warganet daratan berkomentar dengan nada mengejek:

“Apakah helikopter Chinook pasukan Delta juga perlu lapor?”
“Tengah malam, tanpa mengganggu warga atau melukai tentara, diam-diam mereka menangkapmu. Menurutmu takut atau tidak? Tidur malam harus di ruang aman baja, kalau sampai tertangkap diam-diam, tamatlah.”
“Takut, ya?”
“Sekalian saja seluruh rumahmu diangkat pergi.”
“Sepertinya sekarang tidur malam pun tidak bisa nyenyak.”

“Takut drone kalian juga dipasangi petasan.”
“DJI: tak menyangka malah diboikot di dalam negeri.”

Video larangan drone di Beijing juga memicu perbincangan hangat di platform X (Twitter) luar negeri. Banyak warganet menyindir :

“Ah, jadi pemimpin Partai Komunis juga tidak mudah, selalu waswas. Sepertinya mereka tahu betul betapa besar dosa mereka.”

“Xi kecil ketakutan sampai tak bisa makan dan tidur beberapa hari ini. Saat tidur pun harus dikelilingi 200 ‘anjing hitam’ (polisi), takut pasukan Delta turun dari langit.”

“Zhongnanhai di malam hari sekarang paling takut mendengar suara helikopter. Tidak percaya? Coba putar suara serupa dengan pengeras suara di sekitar sana, bisa ketakutan setengah mati.”

“Mungkin takut pengintaian drone tahap awal.”
“Runtuhnya PKT sudah di depan mata dan tak terelakkan.”

Pada 3 Januari 2026, militer AS melancarkan serangan mendadak ke kediaman Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Hanya dalam beberapa jam, Maduro dan istrinya ditangkap hidup-hidup dan diterbangkan ke Amerika Serikat untuk diadili. Operasi ini melibatkan pasukan Delta AS, helikopter Chinook, pesawat tempur F-22, serta drone RQ-170, dan juga menyerang Pelabuhan La Guaira serta Pangkalan Fort Tiuna, menghancurkan sistem pertahanan udara Venezuela.

Beberapa jam sebelum ditangkap, Maduro sempat bertemu dengan utusan khusus PKT, Qiu Xiaoqi, beserta rombongan. Dalam pertemuan itu, Maduro menyebut pemimpin PKT Xi Jinping sebagai “kakak besar”, dan kedua pihak dikabarkan menandatangani 600 perjanjian kerja sama. Namun, sebelum delegasi Tiongkok meninggalkan Venezuela, mereka menyaksikan langsung penangkapan Maduro.

Berita penangkapan hidup-hidup Maduro oleh militer AS mengguncang dunia. Banyak warganet Tiongkok juga berharap militer AS segera menangkap diktator PKT Xi Jinping:
“Rakyat Tiongkok sudah antre terlalu lama sampai kaki pegal. Amerika, tolong bergerak lebih cepat!”

Laporan gabungan oleh reporter Luo Tingting / Wen Hui


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kalah di Kandang Persib Bandung, Pelatih Persija: Pertandingan yang Sangat Lemah
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
BNN Kabupaten Sintang Buka Lowongan Kerja 2026, Ini 3 Posisi dan Syaratnya
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Bantah Biaya Bongkar Tiang Monorel Rp 100 Miliar, Pramono: Untuk Perbaikan Jalan
• 14 jam lalukompas.com
thumb
Pramono Ajukan RS Sumber Waras Jadi PSN: Tinggal Tunggu Persetujuan Presiden
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Logika KPK: Staf Tak Mungkin Punya Rp4 M, Direksi Wanatiara Otak Suap Pajak?
• 16 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.