Liputan6.com, Jakarta - Hujan deras masih mengguyur ketika Rudi Juliansyah menstarter motornya, Senin pagi itu. Dari rumah kontrakannya di kawasan Cipayung, Jakarta Timur, ia berangkat lebih awal dari biasanya.
Jam di ponselnya baru menunjukkan pukul 05.30 WIB, tak lama setelah azan Subuh berkumandang. Namun sejak dinihari, hujan turun tanpa jeda, membuat firasat Rudi pagi itu terasa berbeda.
Advertisement
Rudi bekerja di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Dalam kondisi normal, perjalanan dari rumah menuju kantor hanya memakan waktu sekitar satu jam. Jalur yang sudah ia hafal betul itu biasanya masih cukup bersahabat di pagi hari. Namun pagi itu, genangan air mulai terlihat bahkan sebelum ia benar-benar meninggalkan lingkungan rumah.
“Biasanya jam segini masih lancar. Tapi ini baru keluar gang saja sudah kelihatan berat,” ujar Rudi mengenang awal perjalanannya.
Memasuki jalur arteri utama, harapannya sempat muncul bahwa lalu lintas akan sedikit lebih longgar. Namun harapan itu pupus ketika ia tiba di Jalan TB Simatupang.
Hujan seolah menjadi isyarat bagi kemacetan untuk tumbuh lebih panjang dan lebih rapat dari hari-hari biasa.



