Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi semata tidak cukup jika tidak disertai keberanian untuk menilai apakah hasilnya dirasakan oleh rakyat kecil.
Hal itu disampaikan Prabowo saat berpidato dalam peresmian 166 Sekolah Rakyat di 34 provinsi yang digelar di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS), Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1).
"Kemudian kita bangun, bagus pertumbuhan, ternyata kalau kita hanya mengejar pertumbuhan dan tidak melihat, tidak berani melihat pertumbuhan ini benar-benar dirasakan enggak oleh rakyat yang paling bawah? Di situ, di situ tugas para pemimpin. Kita harus berani melihat, Kita harus berani melihat kekurangan kita, dan kita harus ambil langkah, langkah kita harus berani," kata Prabowo.
Dalam pidatonya, Prabowo juga menyoroti cara berpikir konvensional dalam bernegara yang menurutnya masih dipengaruhi pemikiran neoliberal.
"Jadi saudara-saudara! Cara berpikir dan cara berpikir tentang bernegara, cara berpikir tentang pembangunan yang konvensional yang normatif adalah membangun pertumbuhan dan ada pemikiran selama ini ya, pemikiran neoliberal biar yang kaya biarin aja 0,1% lama-lama menurut teori ini karena pertumbuhan, kekayaan menumpuk nggak papa menumpuk di atas lama-lama akan menetes ke bawah," ujar dia.
Namun, Prabowo meragukan efektivitas teori tersebut dalam konteks Indonesia. Ia mempertanyakan kapan kesejahteraan itu benar-benar dirasakan rakyat bawah.
"Ah ini teori, tapi nyatanya netesnya kapan sampai ke bawah, jangan-jangan netesnya 300 tahun, kita sudah mati semua. Ini menurut saya tidak tepat untuk kita, untuk negara seperti kita yang pernah dijajah, yang merdeka karena perjuangan merdeka karena ratusan tahun perjuangan, di mana waktu kita merdeka ya sebagian besar rakyat kita ia tidak punya apa-apa," ucap dia.
Ia pun menekankan pentingnya pemerataan sebagai bagian tak terpisahkan dari pembangunan.
"Saudara-saudara! Pertumbuhan harus disertai oleh pemerataan. Suatu sistem yang tidak cepat mengusahakan, mengupayakan pemerataan, sistem itu kurang bermanfaat bagi sebuah bangsa," tandasnya.





