Megawati, Bahaya Nasionalisme Jingo dan Krisis Ekologis

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

MELALUI pidato di pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) pada 10 Januari 2026, Megawati Soekarnoputri mengingatkan kembali bahaya nasionalisme jingo (chauvinisme), yang pernah diingat-ingatkan ayahandanya, Bung Karno. Megawati sekaligus memberikan konteks baru.

Apa bahaya nasionalisme jingo? Bung Karno menjelaskan, bentuk nasionalisme yang arogan, agresif, dan memandang rendah bangsa lain itu membuahkan kolonialisme/imperialisme yang berakibat pada kesengsaraan sebagian besar manusia di bumi ini.

Karena itu, Bung Karno menyerukan penolakan bentuk nasionalisme yang menjajah itu. Bung Karno mengajarkan prinsip kebangsaan baru, kebangsaan yang inklusif, kebangsaan berperikemanusiaan.

Nasionalisme akan semena-mena, akan menyerang dan menjajah, menurut Bung Karno, bila tanpa didasari kemanusiaan (humanisme).

Maka, Bung Karno menawarkan bentuk nasionalisme yang ramah, saling tolong-menolong, welas-asih. Bung Karno menyebutnya “sosionasionalisme”.

Baca juga: HUT ke-53 PDI-P: Partai Wong Cilik yang Kesepian

var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=Megawati Soekarnoputri, krisis ekologis&post-url=aHR0cHM6Ly9uYXNpb25hbC5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8xMi8xMzQ5NTY3MS9tZWdhd2F0aS1iYWhheWEtbmFzaW9uYWxpc21lLWppbmdvLWRhbi1rcmlzaXMtZWtvbG9naXM=&q=Megawati, Bahaya Nasionalisme Jingo dan Krisis Ekologis§ion=Nasional' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `
${response.judul}
Artikel Kompas.id
`; document.querySelector('.kompasidRec').innerHTML = htmlString; } else { document.querySelector(".kompasidRec").remove(); } } else { document.querySelector(".kompasidRec").remove(); } } }); xhr.open("GET", endpoint); xhr.send();

Sang proklamator itu meyakini bahwa nasionalisme tidak dapat tumbuh subur, kalau tidak hidup dalam tamansarinya internasionalisme.

Pun sebaliknya, internasionalisme tidak dapat hidup subur bila tidak berakar di dalam buminya nasionalisme.

Megawati mengingatkan kembali bahaya nasionalisme jingo itu. Ia memulai pidatonya dengan mengecam tindakan anarkis Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Venezuela.

Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya melalui aksi militer AS dipandang sebagai bentuk neokolonialisme dan imperialisme modern.

Aksi Trump dinilai bertentangan dengan prinsip dasar hubungan antarbangsa, sekaligus mengancam kedaulatan bangsa lain.

Bangsa Indonesia, kata Megawati, menolak tatanan dunia yang membenarkan kesewenang-wenangan atas kedaulatan suatu bangsa.

Dunia memang dibuat geleng-geleng kepala oleh tindakan Presiden AS Donald Trump di awal 2026. Arogansinya mengusik eksistensi dan hubungan antarbangsa.

Trump bukan hanya menangkap secara brutal seorang pemimpin negara berdaulat yang dilindungi hukum internasional, melainkan juga menebar ancaman bagi negara berdaulat lain.

Trump dengan pongah menyatakan tak butuh hukum internasional. Ia hanya tunduk pada pikirannya sendiri, moralitasnya sendiri (Kompas.com, 10/01/2026).

googletag.cmd.push(function() { googletag.display('div-gpt-for-outstream'); });
.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }
LazyLoadSlot("div-gpt-ad-Zone_OSM", "/31800665/KOMPAS.COM/news", [[300,250], [1,1], [384, 100]], "zone_osm", "zone_osm"); /** Init div-gpt-ad-Zone_OSM **/ function LazyLoadSlot(divGptSlot, adUnitName, sizeSlot, posName, posName_kg){ var observerAds = new IntersectionObserver(function(entires){ entires.forEach(function(entry) { if(entry.intersectionRatio > 0){ showAds(entry.target) } }); }, { threshold: 0 }); observerAds.observe(document.getElementById('wrap_lazy_'+divGptSlot)); function showAds(element){ console.log('show_ads lazy : '+divGptSlot); observerAds.unobserve(element); observerAds.disconnect(); googletag.cmd.push(function() { var slotOsm = googletag.defineSlot(adUnitName, sizeSlot, divGptSlot) .setTargeting('Pos',[posName]) .setTargeting('kg_pos',[posName_kg]) .addService(googletag.pubads()); googletag.display(divGptSlot); googletag.pubads().refresh([slotOsm]); }); } }

Sungguh chauvinistik, arogan kuadrat. Bangsa dan negara lain, meski berdaulat dan dilindungi hukum internasional, dianggap bisa diserang, diinvasi, dipaksa untuk mengikuti kemauan Trump dengan mengatasnamakan kepentingan nasional AS.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kanada lanjutkan program perlindungan perempuan dan anak Lombok Timur
• 9 jam laluantaranews.com
thumb
Starlink Diblokir di Negara Ini untuk Pertama Kalinya
• 1 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Megawati Disambut Cucu di Arena Rakernas, Ada Momen Gandeng Tangan
• 1 jam lalujpnn.com
thumb
Kabel Menjuntai Bikin Tiang Listrik Patah di Ciputat, Warga Minta Ditata Ulang
• 19 jam lalukompas.com
thumb
Banjir Rendam 10 RT di Cilandak Timur
• 52 menit laludetik.com
Berhasil disimpan.