EtIndonesia. Situasi di Iran dalam dua hari terakhir hanya dapat digambarkan dengan satu kenyataan pahit: sebuah rezim sedang menghadapi ancaman runtuh dari akar-akarnya. Gelombang perlawanan rakyat yang meletus sejak awal Januari kini telah berkembang menjadi revolusi nasional terbuka, dengan skala, intensitas, dan keberanian yang belum pernah terlihat sepanjang 46 tahun kekuasaan rezim teokrasi Iran.
Api yang menyala di tanah Persia bukan lagi sekadar simbol kemarahan—dia telah menjelma menjadi titik balik sejarah. Bagi sebagian pengamat, ini adalah akhir sebuah zaman. Bagi yang lain, inilah kelahiran kembali peradaban Persia yang lama terkungkung.
Gelombang Nasional: 1,8 Juta Warga Turun ke Jalan di 180 Kota
Menurut data lapangan yang masih terus diverifikasi, dalam satu malam pada 8 Januari 2026, sekitar 1,8 juta warga Iran turun ke jalan di sekitar 180 kota, mencakup seluruh 31 provinsi. Aksi yang sebelumnya disebut “demonstrasi” kini secara terbuka dinamai oleh rakyat Iran sendiri sebagai “Revolusi Nasional Iran”.
Di ibu kota Teheran, pemandangan dari udara memperlihatkan kota yang nyaris diliputi cahaya api. Gedung-gedung pemerintahan dibakar, simbol-simbol kekuasaan rezim dihancurkan, bahkan masjid-masjid yang selama puluhan tahun menjadi pilar legitimasi politik rezim agama ikut menjadi sasaran amuk massa.
Media resmi Iran mengonfirmasi bahwa setidaknya 25 masjid dibakar di Teheran hanya dalam satu malam.
Masjid Al-Rasul Dibakar: Simbol Titik Tanpa Jalan Mundur
Peristiwa paling mengguncang terjadi di Masjid Al-Rasul, sebuah masjid besar dan bersejarah di wilayah barat laut Teheran. Bangunan ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan simbol langsung kekuasaan ideologis rezim teokrasi.
Pembakaran masjid tersebut dipandang sebagai pesan paling tegas dari rakyat: tidak ada lagi kompromi, tidak ada lagi jalan kembali.
Slogan yang menggema di berbagai kota pun terdengar seragam dan terang-terangan: “Gulingkan Khamenei!”
Represi Berdarah: Ratusan Korban, Rumah Sakit Lumpuh
Sejarah mencatat bahwa rezim otoriter yang mendekati kejatuhan sering kali menjadi semakin brutal—dan Iran kini menunjukkan pola yang sama.
Seorang dokter di Teheran, yang berbicara dengan mempertaruhkan nyawanya, mengungkapkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, hanya di enam rumah sakit ibu kota, dia menyaksikan setidaknya 217 demonstran tewas.
Sebagian besar korban meninggal akibat luka tembak, dengan kondisi yang digambarkan para tenaga medis sebagai “sangat mengerikan”. Para dokter dan perawat mengakui bahwa angka kematian sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi dibandingkan data yang dirilis organisasi HAM.
Rumah sakit dilaporkan kewalahan, kekurangan ruang, dan nyaris lumpuh.
Sebuah rekaman yang beredar luas memperlihatkan jenazah para demonstran diangkut dan ditumpuk dalam kantong plastik hitam, dipindahkan secara senyap ke sebuah gedung di Teheran—sebuah pemandangan yang memperkuat tuduhan pembantaian tersembunyi.
Keberanian di Hadapan Senjata: Aparat Mulai Ragu
Di tengah laras senjata, rakyat Iran justru menunjukkan keberanian yang mencengangkan. Mereka tidak mundur—sebaliknya, semakin banyak warga berdiri menghadapi aparat dengan kepala tegak.
Sebuah video viral memperlihatkan sepasang pria dan wanita, diduga pasangan kekasih, bergandengan tangan, merentangkan kedua lengan, dan berjalan lurus menuju barisan senjata aparat. Adegan ini mengguncang dunia.
Menurut informasi yang beredar, aparat tidak menembak, bahkan sebagian dilaporkan menurunkan senjata mereka.
Fenomena ini memunculkan tanda-tanda serius bahwa mesin represi rezim mulai retak dari dalam.
Aparat Menghilang, Kota Dikuasai Massa
Hingga malam 8 Januari, di sebagian besar wilayah Teheran, kehadiran polisi dan militer tiba-tiba menghilang. Militer bahkan menyerukan warga sipil untuk “membantu menggagalkan konspirasi musuh”—sebuah sinyal bahwa kendali lapangan mulai lepas.
Lapangan, jalan utama, dan kawasan pemukiman dipenuhi lautan manusia. Di saat yang sama, elite pendukung Ali Khamenei dilaporkan mulai meninggalkan posisi mereka.
Mashhad Jatuh: Media Negara Direbut Massa
Di Mashhad, kota terbesar ketiga Iran, demonstran menurunkan dan merobek bendera besar Republik Islam Iran, lalu mengambil alih kantor pusat televisi dan radio nasional setempat—sebuah langkah simbolik dan strategis yang menunjukkan runtuhnya kontrol narasi rezim.
Perlawanan terhadap Teknologi Represi: Kamera Buatan Tiongkok Dihancurkan
Fenomena mencolok lain dalam revolusi ini adalah penghancuran massal kamera pengawas buatan Tiongkok, khususnya merek Hikvision, yang selama bertahun-tahun digunakan rezim untuk memantau dan mengidentifikasi demonstran.
Di kota-kota besar maupun kecil, warga menggunakan tangga, batu, dan alat seadanya untuk menghancurkan kamera-kamera tersebut.
Slogan yang diteriakkan berbunyi: “Jika kalian melarang kami bersuara, kami akan mencungkil mata kalian!”
Selongsong gas air mata bertuliskan “Made in China” ditemukan di jalanan Teheran, bahkan di stasiun metro, tempat gas air mata tetap digunakan meski ruang tertutup dan berisiko mematikan.
Internet Diputus, Starlink Menjadi Penyelamat
Pada 8 Januari, pemerintah Iran memberlakukan pemutusan internet nasional, bahkan memutus jaringan telepon kabel di sejumlah wilayah. Namun langkah ini gagal total.
Jaringan Starlink milik Elon Musk kembali menjadi jalur komunikasi vital. Foto-foto warga Iran memegang perangkat Starlink menyebar ke seluruh dunia.
Melalui sinyal ini, dunia menyaksikan perempuan Iran membakar jilbab, demonstran membakar foto Khamenei, gedung pemerintah dilalap api, dan bendera Singa dan Matahari era Dinasti Pahlavi dikibarkan di jalanan.
Simbolisme Global: X Ganti Bendera Iran
Pada 9 Januari 2026, platform X mengambil langkah simbolis yang mengejutkan: mengganti ikon bendera Iran. Simbol Republik Islam digantikan oleh bendera Singa dan Matahari.
Langkah ini dipandang sebagai pukulan simbolik langsung terhadap legitimasi rezim Teheran di panggung media global.
Ironisnya, Ali Khamenei sendiri memiliki akun di X. Tak lama setelah perubahan tersebut, dia menghapus simbol bendera Iran dari profilnya, seolah menyadari bahwa simbol itu tak lagi dapat dia pertahankan.
Elite Kabur, Listrik Dipadamkan
Ketika internet gagal dihentikan, rezim beralih ke pemadaman listrik di sejumlah wilayah Teheran. Namun para demonstran menyalakan lampu ponsel, mengubah kegelapan menjadi simbol kekuatan massa.
Sementara itu, laporan menyebutkan elite penguasa mulai melarikan diri. Menteri Luar Negeri Iran, Aragchi, dilaporkan membawa keluarganya ke Beirut, Lebanon. Keluarga Ketua Parlemen Ghalibaf disebut telah mengajukan visa ke Prancis.
Sikap AS Berubah: Tekanan Maksimum Kembali Diterapkan
Pada 9 Januari 2026, Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan peringatan keras terakhir kepada rezim Iran, menegaskan bahwa Teheran tidak boleh menguji tekad Amerika Serikat.
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Iran sedang menuju kebebasan terbesar dalam sejarahnya, dan AS siap membantu.
Media AS melaporkan bahwa kabinet Trump menggelar rapat darurat, membahas opsi serangan udara besar-besaran terhadap target militer Iran.
Senator Lindsey Graham menyampaikan pesan terbuka kepada rakyat Iran: “Mimpi buruk panjang kalian hampir berakhir. Keberanian kalian telah diperhatikan. Tuhan memberkati kalian—bantuan sedang menuju ke sana.”
Penutup: Kebangkitan Persia di Ambang Sejarah
Iran kini berdiri di persimpangan sejarah. Rezim ingin menyeret negara itu ke Abad Pertengahan, tetapi rakyatnya menyambut kebebasan dengan darah, api, dan keberanian.
Ketika demonstran Iran menurunkan bendera rezim di Kedutaan Besar Iran di London dan mengibarkan bendera Singa dan Matahari, banyak yang percaya bahwa secara spiritual dan historis, era teokrasi Iran telah berakhir—meski pertarungan terakhir masih berlangsung.
Dunia sedang menyaksikan: bukan sekadar protes, melainkan kebangkitan sebuah peradaban.


.jpg)

