Pemerintah mengakui belum ada investor asing yang masuk dalam industri sapi perah sepanjang 2025 saat kebutuhan program makan bergizi gratis melonjak. Lokasi lahan dan luas hijauan ternak diduga menjadi dua faktor yang menahan realisasi investasi para investor asing.
Walau demikian, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan minat investor asing untuk masuk ke industri sapi perah masih tinggi. Sebab, dia telah mendampingi beberapa investor asing dalam mengunjungi lokasi yang telah disediakan pemerintah.
"Ada beberapa perusahaan yang berencana mendatangkan sapi perah dalam volume besar. Namun kembali lagi, semangat investasi tersebut masih belum direalisasikan karena lokasi yang tersedia dinilai belum ideal," kata Sudaryono kepada Katadata.co.id, Senin (12/1).
Badan Gizi Nasional menyatakan program MBG membutuhkan produksi susu segar dari 1,55 juta ekor sapi perah. Di sisi lain, Badan Pusat Statistik mendata populasi sapi perah di dalam negeri hanya sejumlah 485.809 ekor.
Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia atau APSPI mendata kontribusi susu segar lokal dalam pemenuhan permintaan nasional susut dari 18% pada 2024 menjadi 15% pada tahun lalu. Hampir seluruh peningkatan permintaan oleh program MBG dipasok oleh susu impor.
Ketua Umum APSPI Agus Warsito mendata realisasi impor sapi perah hidup sepanjang 2025 hanya sekitar 11 ribu ekor. Rendahnya realisasi impor sapi perah hidup disebabkan minimnya dukungan pemerintah.
Animo peternak sapi perah lokal untuk mendukung program swasembada sapi perah terus tinggi sampai akhir tahun lalu. Namun interaksi peternak sapi perah lokal dengan Kementerian Pertanian terhenti sejak Maret 2025.
Agus menilai tingginya animo mengimpor sapi perah hidup tertahan oleh ketatnya penyaluran kredit dari pihak perbankan. Bank masih menilai sektor peternakan sapi perah berisiko tinggi walaupun telah ada program swasembada pangan.
"Akses kami untuk mendapatkan Kredit Usaha Rakyat saja susah karena bank menilai potensi gagal usaha sapi perah masih tinggi. Hasilnya, dana impor sapi perah hidup sekitar 11 ribu ekor tahun lalu hanya berasal dari modal para peternak," ujarnya.
Karena itu, Agus mendorong pemerintah untuk memberikan penugasan bagi bank milik negara untuk menyalurkan kredit murah bagi peternak. Halini penting untuk menjaga keseimbangan usaha dan peningkatan populasi sapi nasional.
Ia mengusulkan agar bunga kredit untuk peternak sapi perah beraad di kisaran 3% untuk tenor lima tahun. Selain itu, perbankan harus memberikan fitur penundaan pembayaran atau grace period selama 12 bulan.
"Karena tidak ada penugasan khusus ke bank, pengadaan sapi perah impor selama ini masih omon-omon," katanya.



