Bisnis.com, JAKARTA — Dibalik pertumbuhan ekonomi Indonesia, terdapat deretan sosok yang membangun kekayaannya bukan hanya dari angka di layar bursa, melainkan dari deru mesin pabrik.
Dalam daftar Forbes 2026, terdapat 6 pengusaha terkaya di sektor manufaktur dari pengolahan sawit hingga petrokimia, para konglomerat ini telah mengubah bahan mentah menjadi produk yang mengisi kehidupan sehari-hari masyarakat global.
Kesuksesan para tokoh ini berakar pada kemampuan melakukan proses nilai tambah. Konglomerat itu tak sekadar menjual komoditas mentah, melainkan membangun infrastruktur manufaktur untuk mengolahnya.
Berikut Profil 6 Konglomerat Manufaktur Indonesia 1. Michael Hartono (Grup Djarum - Polytron)Salah satu orang terkaya RI dengan kekayaan US$21,5 miliar atau setara Rp362 triliun itu tak hanya dikenal sebagai pemilik BCA, Michael dan adiknya, Robert Budi Hartono, adalah pewaris tahta Djarum, produsen rokok kretek yang menjadi basis manufaktur utama mereka.
Melalui PT Hartono Istana Teknologi, mereka juga menguasai brand Polytron, satu-satunya produsen elektronik lokal yang mampu bersaing dengan merek Jepang dan Korea di pasar dalam negeri.
2. Sri Prakash Lohia (Indorama Corporation)Orang terkaya di RI ke-5 ini memiliki kekayaan: US$8,5 miliar. Sosoknya juga dikenal sebagai raja petrokimia ini adalah contoh sukses integrasi manufaktur global.
Baca Juga
- Profil Melanie Perkins, Satu-satunya Wanita dalam 10 Besar Orang Terkaya 40 Under 40 Forbes 2025
- Intip Kekayaan Beyonce yang Resmi Jadi Miliarder dalam Daftar Forbes
- Coco Gauff Pimpin Daftar Atlet Wanita Berpenghasilan Tertinggi Versi Forbes 2025
Memulai dari pabrik benang pintal di Purwakarta pada tahun 1970-an, Lohia mengembangkan Indorama menjadi raksasa polimer dan serat poliester terbesar di dunia. Produknya adalah bahan baku utama pembuat botol plastik (PET) dan pakaian yang digunakan di seluruh dunia.
3. Martua Sitorus (Wilmar International)Pendiri Wilmar ini disebut memiliki kekayaan hingga US$3,5 Miliar. Dikenal sebagai "Raja Sawit", Martua mendirikan Wilmar yang kini menjadi penyuling minyak sawit terbesar di dunia.
Keunggulan manufakturnya terletak pada integrasi vertikal yang mengontrol proses dari perkebunan hingga menjadi minyak goreng bermerek (Sania, Fortune). Kini dia juga merambah manufaktur semen melalui KPN Corporation (Semen Merah Putih).
4. Hermanto Tanoko (Avia Avian & Tancorp)Hermanto adalah sosok di balik sukses Avian Brands, produsen cat lokal yang berhasil mengalahkan dominasi merek asing di Indonesia. Kekayannya ditaksir mencapai US$1,9 miliar atau setara Rp32 triliun.
Melalui grup Tancorp, dia mengelola ekosistem manufaktur yang beragam, mulai dari air minum dalam kemasan (Cleo), pipa PVC, hingga produk kosmetik dan keramik.
5. Bachtiar Karim & Saudara (Musim Mas)Keluarga Karim menjalankan Musim Mas, salah satu grup manufaktur sawit paling tertutup namun paling berpengaruh di dunia. Kekayaan Bachtiar mencapai US$1,8 miliar, sementara saudaranya Bahari dan Burhan, masing-masing memiliki US$1,5 miliar.
Mereka mengoperasikan kilang minyak sawit pertama di Indonesia (sejak 1970) dan memproduksi berbagai turunan sawit, mulai dari sabun batangan legendaris hingga bahan kimia oleokimia yang digunakan industri global.
6. Wirastuty Fangiono (FAP Agri & First Resources)Sosoknya masuk dalam daftar wanita terkaya di Indonesia dengan kekayaan: US$1,2 miliar. Hartanya tak luput dari bisnis yang digelutinya. Mewakili generasi baru dan figur perempuan di industri berat, Wirastuty mengendalikan FAP Agri.
Keluarganya adalah kekuatan besar di balik First Resources, perusahaan yang tercatat di bursa Singapura dengan fokus pada ekstraksi dan pengolahan minyak nabati berkelanjutan.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/3938374/original/017867600_1645165607-20220218-Waspada_Cuaca_Ekstrem_di_Jakarta-5.jpg)

