13 Hari Rakyat Melawan, Iran Tak Bisa Kembali Seperti Dulu, Dunia Bertanya: Siapa Selanjutnya?

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Gelombang aksi protes besar-besaran di Iran telah memasuki hari ke-13 berturut-turut pada Jumat, 10 Januari 2026. Meski menghadapi penindasan aparat keamanan dan pemutusan jaringan internet secara nasional, rakyat Iran tetap turun ke jalan pada Jumat malam, menggelar demonstrasi serentak di berbagai kota, termasuk ibu kota Teheran.

Militer Iran Klaim Lindungi Infrastruktur, Rakyat Tetap Melawan

Pada 10 Januari, militer Iran mengeluarkan pernyataan resmi yang menyebutkan bahwa mereka tengah “melindungi infrastruktur vital negara” dan menyerukan masyarakat untuk menggagalkan apa yang mereka sebut sebagai “konspirasi musuh”. Namun di lapangan, pernyataan tersebut tidak menghentikan laju demonstrasi.

Di sejumlah wilayah Teheran, termasuk Lapangan Heravi, massa berkumpul rapat bahu-membahu sambil meneriakkan slogan: “Ini untuk Iran, bukan untuk rezim!”

Laporan dari dalam negeri Iran menyebutkan bahwa sejumlah masjid dibakar atau dirusak oleh massa di berbagai daerah. Aksi tersebut dipandang sebagai simbol penolakan terbuka terhadap legitimasi rezim ulama yang telah berkuasa selama lebih dari empat dekade.

Pemadaman Listrik Gagal Redam Aksi

Masih pada 10 Januari, pemerintah Iran dilaporkan memutus aliran listrik di beberapa wilayah Teheran dalam upaya menekan demonstrasi. Namun langkah ini justru memunculkan pemandangan simbolik: para demonstran menyalakan lampu kilat ponsel, menerangi jalan-jalan kota yang gelap, menciptakan suasana perlawanan yang menggugah emosi.

Di berbagai kota, sebagian demonstran bahkan memanjat tiang listrik untuk mencopot dan menghancurkan kamera pengawas jalanan, yang diketahui merupakan produk perusahaan asal Tiongkok yang dijual ke Iran.

Aksi Solidaritas di Luar Negeri

Di luar negeri, aksi simbolik juga terjadi. Sejumlah demonstran Iran dilaporkan memanjat Kedutaan Besar Iran di London, menurunkan bendera resmi rezim, dan menggantinya dengan bendera nasional Iran Singa dan Matahari, simbol Iran pra-revolusi 1979.

Pesan perlawanan kini menyebar luas, dari Iran bagian utara hingga wilayah selatan yang didominasi kelas pekerja. Banyak pengamat menilai bahwa demonstrasi telah berubah dari aksi protes sporadis menjadi seruan nasional untuk “Iran yang baru”.

Amerika Serikat Kirim Dukungan Terbuka

Pada hari yang sama, Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, menyatakan bahwa rakyat Iran mendambakan kebebasan dan menegaskan bahwa Amerika Serikat siap memberikan bantuan kapan pun diperlukan.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menulis di platform X bahwa AS mendukung rakyat Iran yang berani. Senator Lindsey Graham juga menyatakan bahwa rakyat Iran “tidak sendirian” dan sedang mendapatkan dukungan internasional.

Sementara itu, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth membagikan ulang pernyataan Trump di media sosial, menegaskan kembali kesiapan Amerika Serikat untuk bertindak kapan saja.

Peringatan Keras untuk Para Diktator

Masih pada 10 Januari, Departemen Luar Negeri AS merilis sebuah video berisi pernyataan keras dari Menlu Rubio yang ditujukan kepada para pemimpin otoriter di seluruh dunia. 

Rubio memperingatkan: “Jangan bermain-main dengan presiden ini. Dia bukan sedang berakting. Setiap janji akan diwujudkan.”

Isu Retaknya Elite Kekuasaan Iran

Di media sosial, beredar klaim bahwa Presiden Iran, Masoud Pezeshkian telah mengajukan pengunduran diri kepada Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.

Pezeshkian sebelumnya dilaporkan sempat memerintahkan militer untuk tidak menembaki warga sipil, yang memicu ketegangan serius dengan Khamenei. Namun hingga kini, klaim pengunduran diri tersebut belum dikonfirmasi secara resmi.

AS Bahas Opsi Militer terhadap Iran

Media Israel pada 10 Januari mengutip laporan The Wall Street Journal yang menyebutkan bahwa seorang pejabat AS anonim mengungkapkan pemerintahan Trump sedang membahas berbagai opsi terhadap Iran, termasuk rencana awal serangan udara besar-besaran terhadap target militer Iran.

Di media sosial, muncul pula perdebatan publik, mulai dari usulan menjatuhkan senjata ke Iran melalui udara, hingga pendapat bahwa membiarkan elite rezim melarikan diri adalah cara terbaik menghadapi para diktator.

Operasi Militer AS di Suriah: Sinyal Global

Masih pada 10 Januari 2026 siang waktu Pantai Timur AS, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa militer AS bersama pasukan sekutu melancarkan serangan udara besar terhadap kelompok ekstremis di Suriah dalam kelanjutan Operasi Eagle Eye.

Operasi ini melibatkan:

Serangan ini merupakan respons atas penyergapan di dekat Palmyra pada akhir 2025, yang menewaskan dua prajurit Garda Nasional AS dari Iowa dan seorang penerjemah sipil Amerika.

Dimensi Global: Rusia, Ukraina, dan Venezuela

Dalam wawancara terbaru, Presiden Trump menyatakan bahwa Vladimir Putin “tidak takut pada Eropa, tetapi hanya pada Amerika Serikat”. Pernyataan ini memicu kekhawatiran di kalangan sekutu Eropa.

Sementara itu, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy mengungkapkan bahwa Kyiv dan Washington hampir setiap hari berkomunikasi dan tengah menjajaki perjanjian perdagangan bebas. Menurut The Daily Telegraph, AS dan Ukraina menargetkan Perjanjian Kemakmuran senilai 800 miliar dolar AS untuk rekonstruksi Ukraina dalam 10 tahun ke depan, dengan keterlibatan BlackRock.

Di sisi lain, Rusia terus meningkatkan eskalasi militer, termasuk peluncuran rudal balistik hipersonik berkemampuan nuklir ke wilayah Ukraina yang dekat dengan perbatasan Polandia.

Langkah Darurat AS atas Minyak Venezuela

Pada 10 Januari, Presiden Trump juga menandatangani perintah eksekutif darurat yang menetapkan status darurat nasional untuk melindungi pendapatan minyak Venezuela yang disimpan di AS. Seluruh aset dan pendapatan minyak Venezuela di AS akan dikonsolidasikan dalam dana perwalian yang dikelola pemerintah AS.

Menurut data OPEC, Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, lebih dari 300 miliar barel, namun produksinya masih terbatas akibat sanksi dan minim investasi.

Penutup

Pengamat internasional menilai bahwa rangkaian peristiwa ini menunjukkan satu tren global yang semakin jelas: rezim-rezim otoriter yang dibangun di atas represi dan sentimen anti-Amerika kini menghadapi tekanan serius, baik dari dalam negeri maupun dari dinamika geopolitik global.

Seperti yang diungkapkan jurnalis senior Akio Yaita, situasi Iran saat ini memancarkan “aroma sejarah”—sebuah tanda bahwa perubahan besar mungkin sedang berlangsung.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Banjir Jakarta, Motor Diizinkan Masuk Tol Sunter hingga Angke
• 5 jam lalugenpi.co
thumb
PDIP Desak Transformasi Polri: Hapus Dwifungsi, Jauhkan dari Politik
• 5 jam laluidntimes.com
thumb
Rahasia Bandung bjb Tandamata Libas Jakarta Livin Mandiri di Proliga 2026
• 2 jam lalukatadata.co.id
thumb
Rakernas PDIP: Megawati Foto Bareng Wartawan, Lalu Dapat Kecupan dari Dua Anaknya
• 23 jam lalujpnn.com
thumb
Honda Masih Tahan Diri Jual Mobil Listrik, Fokus Hybrid untuk Pasar Indonesia
• 15 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.