Purbaya Kaji Aturan Penyelesaian Pelanggaran Cukai

wartaekonomi.co.id
2 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berencana mengkaji ulang penerapan prinsip ultimum remedium dalam penanganan pelanggaran di bidang cukai. Evaluasi tersebut dilakukan untuk memastikan kebijakan itu tidak dimaknai sebagai bentuk pemutihan atau kelonggaran yang justru mendorong pelanggaran hukum cukai, terutama melalui penyelesaian perkara tanpa proses pidana.

Purbaya menyampaikan rencana evaluasi tersebut setelah mendalami mekanisme ultimum remedium yang saat ini diterapkan dalam penegakan hukum cukai. Ia mengaku baru memahami secara menyeluruh kebijakan tersebut sejak menjabat sebagai menteri keuangan dan menilai perlu ada peninjauan agar implementasinya tidak menimbulkan salah tafsir.

Ultimum remedium itu memang agak aneh buat saya. Saya kan menteri baru jadi baru liat, oh ada seperti itu. Kita akan pelajari itu undang-undang atau PMK aja. Kalau PMK, saya akan evaluasi ke depan,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita di Jakarta, dikutip Senin (12/1/2025).

Baca Juga: Pejabat Pajak Kena OTT KPK, Purbaya Sebut Kemenkeu Akan Terima Apapun Putusan Hukum

Saat ini, penyelesaian perkara di bidang cukai diatur melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 96 Tahun 2025 tentang Perubahan atas PMK Nomor 237/PMK.04/2022 mengenai Penelitian Dugaan Pelanggaran di Bidang Cukai. Regulasi tersebut tetap mengedepankan prinsip ultimum remedium, yakni menjadikan sanksi pidana sebagai upaya terakhir setelah instrumen administrasi.

Namun, Purbaya menegaskan bahwa mekanisme penyelesaian perkara tanpa penyidikan tidak boleh dimaknai sebagai toleransi terhadap pelanggaran. Menurutnya, kebijakan tersebut harus tetap memberikan efek jera dan tidak menciptakan insentif bagi pelaku untuk berspekulasi melanggar aturan.

“Kita pelajari ke depan seperti apa, bisa enggak kita adjust, bisa enggak pendapat kita maksimum tanpa mendorong orang melakukan itu sebagai jaga-jaga kalau enggak ketauan syukur, ketauan bayar,” ucap Purbaya.

Baca Juga: Purbaya Ngaku Belum Ada Pengajuan Diskon Tarif Listrik Bagi Korban Bencana

Sementara itu, Direktur Jenderal Bea dan Cukai Djaka Budi Utama menjelaskan bahwa PMK Nomor 96 Tahun 2025 memang memberikan ruang penyelesaian perkara cukai tanpa penyidikan dalam kondisi tertentu. Salah satunya apabila nilai cukai yang terutang dapat dihitung secara pasti dan tidak ditemukan unsur pelanggaran di bidang kepabeanan.

“Melalui aturan ini, penyelesaian perkara tentu dapat dilakukan tanpa penyidikan, seperti nilai cukai yang terutang dapat dihitung dan tidak terdapat pelanggaran kepabeanan,” jelas Djaka.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Hujan Deras Kepung Jakarta Utara, Ini 20 Ruas Jalan yang Terendam Banjir Senin Pagi
• 9 jam lalukompas.tv
thumb
Lamongan Kembali Dikepung Banjir
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
SPinjam Luncurkan JELAS TANPA JEBAKAN, Anda Bisa Pilih Pinjaman Daring Bunga Rendah dan Transparan
• 13 jam lalusuara.com
thumb
Cuaca Jakarta Senin Ini Rata Hujan, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Hujan Petir
• 15 jam laludisway.id
thumb
Beri Dukungan ke Aurelie Moeremans, Hesti Purwadinata dan Suami Dapat Ancaman
• 13 jam laluinsertlive.com
Berhasil disimpan.