Harga Minyak Naik ke Level Tertinggi 7 Pekan, Kekhawatiran Ekspor Iran Menguat

idxchannel.com
13 jam lalu
Cover Berita

Harga minyak ditutup pada level tertinggi dalam tujuh pekan pada Senin (12/1/2026), dipicu kekhawatiran bahwa ekspor Iran dapat menurun.

Harga Minyak Naik ke Level Tertinggi 7 Pekan, Kekhawatiran Ekspor Iran Menguat. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Harga minyak ditutup pada level tertinggi dalam tujuh pekan pada Senin (12/1/2026), dipicu kekhawatiran bahwa ekspor Iran dapat menurun setelah anggota OPEC yang berada di bawah sanksi itu memperketat penindakan terhadap demonstrasi anti-pemerintah.

Kenaikan harga tertahan oleh ekspektasi bahwa pasokan berpotensi meningkat dari Venezuela, anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) lain yang juga tengah dikenai sanksi.

Baca Juga:
Wall Street Berpesta, S&P 500 dan Dow Jones Cetak Rekor Penutupan Tertinggi

Kontrak berjangka (futures) Brent naik 0,8 persen dan ditutup di USD63,87 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 38 sen atau 0,6 persen ke USD59,50 per barel.

Penutupan tersebut menjadi yang tertinggi bagi Brent sejak 18 November dan bagi WTI sejak 5 Desember.

Baca Juga:
SMR Utama (SMRU) Kehilangan Kontrak Tambang Batu Bara dari Titan Group

Melansir dari Reuters, Iran menyatakan tetap membuka jalur komunikasi dengan Washington, di tengah Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan respons atas penindakan mematikan terhadap aksi protes nasional, salah satu tantangan terkeras terhadap pemerintahan ulama sejak Revolusi Islam 1979.

Pada Minggu, Trump mengatakan AS mungkin bertemu dengan pejabat Iran. Dia juga mengancam kemungkinan aksi militer menyusul kekerasan mematikan terhadap para pengunjuk rasa.

Baca Juga:
Harga Emas Tembus USD4.600, Ketidakpastian The Fed Picu Aksi Buru Safe Haven

Iran saat ini memiliki jumlah minyak di laut pada level rekor, setara sekitar 50 hari produksi. Data Kpler dan Vortexa menunjukkan China membeli lebih sedikit minyak Iran, sementara Teheran berupaya melindungi pasokannya dari risiko serangan AS.

Venezuela diperkirakan segera melanjutkan ekspor minyak setelah pencopotan Presiden Nicolas Maduro.

Trump pekan lalu mengatakan pemerintah di Caracas siap menyerahkan hingga 50 juta barel minyak yang dikenai sanksi kepada AS.

Sejumlah perusahaan minyak berlomba mencari kapal tanker dan menyiapkan operasi pengapalan minyak mentah secara aman, menurut empat sumber yang memahami proses tersebut.

Dalam pertemuan di Gedung Putih pada Jumat, perusahaan komoditas multinasional Trafigura menyebut kapal pertamanya diperkirakan mulai memuat kargo pada pekan depan.

Dua kapal supertanker berbendera China yang sebelumnya berlayar menuju Venezuela untuk mengambil kargo minyak sebagai pembayaran utang selama embargo minyak AS terhadap negara anggota OPEC itu, berbalik arah dan kini menuju kembali ke Asia, menurut data pelayaran LSEG pada Senin.

Investor juga mencermati risiko gangguan pasokan dari Rusia, menyusul serangan Ukraina yang menargetkan fasilitas energi, serta prospek sanksi AS yang lebih ketat terhadap sektor energi Moskow.

Di Azerbaijan, ekspor minyak turun menjadi 23,1 juta ton pada 2025 dari 24,4 juta ton pada 2024, demikian pernyataan kementerian energi pada Senin.

Rusia dan Azerbaijan sama-sama anggota OPEC+, yang mencakup OPEC dan negara produsen sekutu.

Di Norwegia, pemerintah menyatakan akan menyampaikan dokumen kebijakan kepada parlemen tahun depan terkait masa depan industri minyak dan gas, termasuk akses perusahaan terhadap wilayah eksplorasi.

“Industri minyak dan gas sangat penting bagi Norwegia dan harus dikembangkan, bukan dihentikan,” kata Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Stoere dalam sebuah pidato.

Sementara itu, bank AS Goldman Sachs menyatakan dalam catatannya bahwa harga minyak diperkirakan bergerak lebih rendah tahun ini seiring hadirnya pasokan baru yang menciptakan surplus pasar.

Meski demikian, risiko geopolitik yang terkait dengan Rusia, Venezuela, dan Iran akan tetap memicu volatilitas.

Langkah pemerintahan Trump membuka penyelidikan pidana terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell meningkatkan tekanan Trump terhadap bank sentral. Powell menyebut langkah tersebut sebagai ‘dalih’ untuk memengaruhi kebijakan suku bunga.

Mantan pimpinan The Fed serta sejumlah tokoh penting Partai Republik juga mengkritik penyelidikan itu.

Suku bunga yang lebih rendah berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi dan permintaan minyak dengan menekan biaya pinjaman, namun di sisi lain dapat menyulitkan upaya bank sentral dalam mengendalikan inflasi. (Aldo Fernando)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kapolda Metro dan Pangdam Jaya Tinjau Pengungsi Banjir di Cilincing Jakut
• 21 jam laludetik.com
thumb
Mulai Rp1,4 Juta, Ini Penampakan Emas Antam Edisi Imlek 2026
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Grok, Sisi Gelap Inovasi Teknologi dan Dehumanisasi Perempuan
• 3 jam lalukompas.id
thumb
Tak Pernah Direnovasi Puluhan Tahun, Atap Rumah Warga Ciracas Ambruk
• 5 jam lalukompas.com
thumb
Atlet NPC Kalimantan Selatan Perkuat Kontingen Indonesia di ASEAN Para Games 2026 Thailand
• 9 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.