Harga minyak mentah dunia menguat dan mencatat penutupan tertinggi dalam tujuh pekan pada perdagangan di Senin (12/1). Kenaikan dipicu oleh kekhawatiran pasar akan kemungkinan penurunan ekspor minyak seiring meningkatnya aksi protes anti-pemerintah di Iran.
Dilansir dari Reuters, Selasa (13/1), Brent futures naik 0,8% ke US$63,87. Sementara West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) bertambah 0,6% ke US$59,50.
Baca Juga: Habiskan Rp123 Triliun, Kilang Minyak Terbesar RI Akhirnya Diresmikan Prabowo
Kekhawatiran pasokan datang di tengah protes besar di Iran. Iran menyatakan tetap membuka komunikasi dengan Washington. Namun Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mempertimbangkan respons terhadap kekerasan yang terjadi di negara tersebut.
Kenaikan harga juga terbatas oleh ekspektasi peningkatan pasokan dari Venezuela. Ia diperkirakan akan kembali mengekspor minyak setelah penggulingan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. AS bahkan menyatakan siap menerima hingga lima puluh juta barel minyak dari Venezuela.
Investor juga tetap memperhatikan risiko gangguan pasokan lain, termasuk serangan terhadap fasilitas energi dari Rusia.
Baca Juga: Lifting Minyak Bumi 2025 Diklaim Lampaui Target, Pakar Soroti Anomali Data
Adapun Goldman Sachs memperkirakan bahwa harga minyak cenderung turun pada tahun ini akibat kelebihan pasokan global, meskipun terdapat risiko geopolitik dari Rusia, Venezuela dan Iran.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5470802/original/074611900_1768233850-SnapInsta.to_612580495_18311244286270592_6441819611277000218_n.jpg)



