Rupiah Dibuka Lesu ke Level Rp16.874 Hari Ini (13/1), Dolar AS Perkasa

bisnis.com
9 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah ke posisi Rp16.874 pada hari ini, Selasa (12/1/2026). Pada saat bersamaan, greenback terpantau mengalami kontraksi. 

Mengutip Bloomberg hingga pukul 09.05 WIB, rupiah dibuka melemah sebesar 19 poin atau 0,11% menuju level Rp16.874 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS mengalami apresiasi sebesar 0,10% menuju posisi 98,95.

Adapun, mayoritas mata uang di Asia dibuka melemah. Yen Jepang melemah 0,22% bersama won Korea sebesar 0,31%. Selanjutnya, baht Thailand dan dolar Singapura terdepresiasi masing-masing sebesar 0,42% dan 0,04% terhadap dolar AS.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pergerakan rupiah di pasar keuangan dipengaruhi sejumlah sentimen pasar. 

googletag.cmd.push(function() { googletag.display("div-gpt-ad-parallax"); });

Dari sisi global, eskalasi konflik geopolitik antara Iran dan AS terus memanas. Selain itu, ketidakpastian politik di Washington meningkat setelah Departemen Kehakiman AS mengancam The Fed dengan kemungkinan dakwaan pidana. 

"Ini langkah yang mengguncang pasar dan menghidupkan kembali kekhawatiran tentang independensi bank sentral," ujar Ibrahim, Senin (12/1/2026).

Baca Juga : Arah IHSG Usai Tergelincir Imbas Jebloknya Saham Konglomerat BREN, BUMI, hingga PANI

Di dalam negeri, pasar menyoroti laporan Bank Indonesia (BI) yang mencatat pertumbuhan penjualan eceran sebesar 1,5% secara bulanan (MtM) pada November 2025, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yakni 0,6% MtM. 

Sementara itu, Trading Economics mencatat rupiah berada pada posisi terlemahnya sejak April 2025. Tekanan negatif muncul dari prospek pelonggaran moneter lebih lanjut, data indeks keyakinan konsumen (IKK) yang mengalami penurunan, serta defisit APBN 2025 sebesar 2,92% terhadap PDB. 

“Namun, tekanan terhadap rupiah dibatasi oleh posisi eksternal Indonesia yang lebih kuat, dengan cadangan devisa mencapai level tertinggi dalam sembilan bulan pada Desember 2025,” tulis Trading Economics.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Sejumlah Wilayah di Lima Kabupaten Jatim Masih Terendam Banjir Hingga Hari Ini
• 4 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Prabowo Takjub Lihat Anak Cleaning Service dan Ojol Orasi 4 Bahasa Asing
• 8 jam lalurctiplus.com
thumb
3 Gedung Baru Sekolah Rakyat akan Dibangun di DIY, Target 1 Sekolah Rampung Juli
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Tuntutan Suporter Timnas Indonesia, Keistimewaan bagi John Herdman
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
KPK Sita 8 Ribu Dolar Singapura dari Geledah Kantor Pelayanan Pajak Jakut
• 5 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.