JAKARTA, KOMPAS — Peta pergerakan wisatawan mancanegara atau wisman di ASEAN telah berubah. Jika Thailand selama ini menjadi magnet utama wisatawan, sekarang magnet utamanya bergeser ke Malaysia. Indonesia perlu membuat gebrakan dan perubahan agar bisa bersaing dengan negara-negara tetangganya.
”Saat ini yang memimpin tourist arrival di ASEAN, kan, Malaysia. Dia berhasil menggeser Thailand. Jadi, pekerjaan rumah besarnya (untuk Indonesia) bagaimana menarik kunjungan wisatawan yang ke Malaysia untuk juga liburan, melakukan meeting di Indonesia,” tutur Vice President Brand & Communication Panorama Group, AB Sadewa, saat dihubungi di Jakarta, Selasa (13/1/2026).
Berdasarkan data Pemerintah Malaysia, jumlah pelancong ke negeri itu mencapai 28 juta orang pada Januari-Agustus 2025. Salah satu kuncinya karena negeri jiran itu berhasil menerapkan relaksasi campuran untuk visa, memperbarui infrastruktur, serta membuat promosi yang lebih tepat sasaran. Pemerintah proaktif menarik para pengunjung dari pasar-pasar utama, demikian dikutip dari Sinar Daily.
Sementara itu, Kementerian Pariwisata dan Olahraga Thailand melaporkan, Thailand menyambut 27,59 juta pelancong selama 1 Januari-9 November 2025. Angkanya turun 7,14 persen dibandingkan pada tahun 2024 dalam periode yang sama.
”Persaingan antarnegara dalam promosi wisata juga makin ketat, tetapi pada akhirnya traveler memilih destinasi yang sudah dikenal. Namun, (mereka) mencari hidden gem baru di destinasi tersebut,” kata Sadewa.
Pasar-pasar baru pariwisata akan bermunculan disokong perekonomian negara terkait yang tumbuh positif, seperti India dan Vietnam. Hal ini menjadi katalis bagi industri pariwisata di destinasi-destinasi dunia.
”Kita harus tetap waspada dengan potensi perlambatan ekonomi yang bisa menekan segmen corporate travel dan juga retail market, khususnya kelas menengah yang tidak mendapat insentif fiskal,” ujarnya.
Guna menjawab isu tersebut, lanjut Sadewa, pemangku kepentingan lain perlu terlibat dengan menambah frekuensi penerbangan dan memberi harga kompetitif bagi maskapai penerbangan untuk mendarat, mengisi avtur, dan parkir pesawat di bandara-bandara Indonesia. Dengan adanya penerbangan, operator tur perjalanan, hotel, dan transportasi lokal mampu memberikan penawaran secara ideal.
”Untuk outbound (wisatawan ke luar negeri), menurut saya, ini resiprokal dengan inbound (wisatawan masuk ke dalam negeri). Artinya, kita harus menangkap peluang untuk mengisi seat capacity pesawat yang keluar,” ujar Sadewa.
Ragam pameran dan ajang internasional lain perlu aktif diikuti karena transaksi besar masih disumbang sisi business to business (b2b). Dari sisi moneter, pemerintah perlu lebih banyak mendorong standar nasional kode QR (QRIS) agar dapat digunakan di negara-negara favorit wisatawan Indonesia. Tujuannya agar pergerakan outbound tidak selalu dianggap membuang devisa.
Secara terpisah, Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Budi Ardiansjah mengemukakan, belum ada pembenahan signifikan pada destinasi-destinasi wisata Indonesia. Akses menuju destinasi tertentu juga masih minim.
Isu pergerakan wisatawan domestik juga masih berkutat pada harga tiket pesawat yang tinggi. Stimulus yang selama ini diberikan saat masa berlibur tidak begitu efektif karena tidak menuntaskan akar masalah.
Ia berharap usaha-usaha pemerintah untuk mempromosikan pariwisata bisa terus dilakukan. Dengan begitu, setidaknya kunjungan wisman dapat tercapai sesuai target. Pemerintah juga perlu membuat gebrakan yang bisa mendongkrak mobilitas wisatawan dalam negeri.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pergerakan wisman ke Indonesia sepanjang Januari-November 2025 mencapai 13,98 juta kunjungan. Angka itu tumbuh 10,44 persen dibandingkan tahun sebelumnya pada periode yang sama.
Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara telah tembus 1,09 miliar perjalanan pada Januari-November 2025. Pergerakannya tumbuh 18,95 persen dibandingkan periode sama pada 2024. Proyeksi realisasi pada 2025 mencapai 1,2 miliar pergerakan.
Pemerintah baru saja mengadakan rapat koordinasi nasional atau rakornas kepariwisataan pada 2026 pada Senin (12/1/2026). Pertemuan itu dipimpin Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang dihadiri sejumlah pejabat antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, dan Wakil Menteri Perhubungan Suntana.
Dalam konferensi pers yang diadakan, Airlangga menyebut, kontribusi produk domestik bruto (PDB) sektor pariwisata mendekati 4 persen hingga triwulan III-2025. Target kunjungan 15 juta wisman pada 2025 diharapkan tercapai.
Pada 2026, pemerintah menargetkan 16 juta hingga 17,6 juta kunjungan wisman. Pergerakan wisman ke Indonesia diperkirakan mencapai 22-24,7 miliar dolar AS dengan kontribusi terhadap PDB yang terkerek naik menjadi 4,5-4,7 persen.
“Akselerasi daripada infrastruktur dan konektivitas di mana konektivitas antarbandara yang mulai dibuka perlu didorong, ditambah dengan program yang harus dilakukan bersama pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Kedua, masalah keselamatan itu juga penting dan jadi catatan pada 2026 ,” tutur Airlangga.
Ia menggarisbawahi, pemerintah akan mempersiapkan program yang dilaksanakan jelang hari raya Lebaran. Beberapa di antaranya adalah insentif tiket transportasi dan program belanja yang sudah pernah diterapkan pada periode berlibur sebelumnya.




