Bahlil Pastikan Pertamina Lanjutkan RDMP di Kilang Dumai, Bakal Gaet Swasta

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memastikan PT Pertamina (Persero) akan melanjutkan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) pada Refinery Unit (RU) II atau Kilang Dumai.

Bahlil mengungkapkan Pertamina sudah menentukan rencana peningkatan kualitas dan kuantitas pada kilang yang dikelolanya, setelah RDMP Balikpapan diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada Senin (12/1). Total investasi yang digelontorkan untuk mega proyek ini mencapai USD 7,4 miliar atau setara Rp 123 triliun.

Dengan diresmikannya proyek ini, Kilang Balikpapan saat ini menjadi kilang terbesar di Indonesia, dengan kapasitas pengolahan naik dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari.

"Semalam saya rapat sama teman-teman Pertamina sampai jam 2 subuh. Kita memang selain di sini, kita akan mengembangkan untuk storage dan kapasitas-kapasitas RDMP lain seperti di Dumai," ungkap Bahlil saat ditemui di Kilang Balikpapan, dikutip pada Selasa (13/1).

Bahlil mengatakan Pertamina akan bekerja sama dengan perusahaan swasta untuk menggarap RDMP Dumai dengan saling menguntungkan. Sehingga negara juga bisa meningkatkan ketahanan energi.

"Kita akan melakukan join, kerja sama dengan swasta yang saling menguntungkan. Tujuannya apa? Pertamina dapat untung, negara punya ketahanan energi ada, swasta juga bisa mendapat kerja sama yang baik, yang saling menguntungkan," jelas Bahlil.

Setop Impor Solar Tahun Ini

Bahlil juga menegaskan pemerintah tidak akan mengeluarkan izin impor solar dengan cetane number (CN) 48 mulai awal 2026 dan solar CN 51 pada semester II 2026.

Dia merinci kebutuhan solar nasional saat ini mencapai sekitar 38 juta kiloliter per tahun. Kebutuhan tersebut telah ditopang oleh implementasi program biodiesel B40 dan B60, serta tambahan produksi hampir 5 juta kiloliter dari RDMP Balikpapan.

Dengan kondisi itu, sisa impor solar yang sebelumnya sekitar 5 juta kiloliter dinilai telah tertutupi, bahkan menciptakan surplus sekitar 1,4 juta kiloliter untuk CN 48. Sementara impor Solar CN 51 disebut tinggal sekitar 600 ribu kiloliter.

"Nanti di semester kedua Pertamina saya minta untuk membangun (kapasitas) agar kita tidak impor (solar lagi)," lanjut Bahlil dalam sambutannya saat peresmian RDMP Balikpapan.

Bahlil menyatakan setelah impor solar dihentikan, pemerintah menargetkan langkah serupa diterapkan pada avtur mulai 2027. Ke depan, Indonesia hanya akan mengimpor minyak mentah (crude), sementara pengolahan dan pemenuhan kebutuhan bahan bakar dilakukan di dalam negeri.

"Jadi avtur juga 2027 insyaallah tidak lagi kita melakukan impor. Ke depan kita akan dorong atas perintah Bapak Presiden kita hanya mengimpor crude (minyak mentah) saja. Kalau ini mampu kita lakukan maka gerakan-gerakan tambahan ini semakin tipis," tutur Bahlil.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Jaga Ketepatan Waktu Perjalanan, KAI Divre III Palembang Imbau Penumpang Datang Lebih Awal ke Stasiun Kertapati
• 18 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Kode Redeem FC Mobile 13 Januari 2026, Ada Icon OVR 108+ dan Ribuan Gems
• 8 jam lalumedcom.id
thumb
Kuasa Hukum Nadiem Ancam tak Hadiri Sidang Jika Audit BPKP tak Diserahkan Jaksa
• 23 jam lalurepublika.co.id
thumb
Siapa Clare Herdman? Istri Cantik Pelatih Baru Timnas Indonesia yang Rela Ikut Pindah ke Tanah Air
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
Aurelie Moeremans Merasa Senang Kisahnya di Buku Broken Strings Mendapat Dukungan Besar
• 5 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.