Kebohongan, Kekuasaan, dan Luka Batin Kepemimpinan

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Sejarah bangsa-bangsa menunjukkan satu pelajaran yang berulang: peradaban jarang runtuh karena kekurangan kecerdasan, tetapi sering hancur karena krisis kejujuran. Kekuasaan tidak selalu jatuh oleh serangan dari luar. Ia lebih sering lapuk dari dalam—oleh kebohongan yang mula-mula kecil, lalu dibiarkan, kemudian dianggap perlu, dan akhirnya dipertahankan.

Pada tahap itulah kebohongan berubah watak. Ia tidak lagi sekadar kesalahan moral individual, melainkan menjadi struktur. Bahasa resmi menjadi semakin rapi, sementara kenyataan hidup rakyat terasa semakin kasar. Negara tetap berjalan, upacara tetap berlangsung, statistik tetap disajikan, tetapi ada sesuatu yang terlepas: perasaan bahwa kata-kata masih memiliki hubungan dengan kebenaran.

Fenomena ini hari ini dapat dibaca dengan jujur melalui ruang yang tidak selalu dianggap “serius”: kebudayaan populer. Ketika kritik rasional sulit menembus tembok kekuasaan, humor sering kali menjadi jalan terakhir akal sehat. Pertunjukan stand-up "Mens Rea" karya Panji Pragiwaksono menarik bukan karena kelucuannya semata, melainkan karena ia berfungsi sebagai cermin sosial. Di sana, rakyat tidak sedang menertawakan negara. Mereka sedang menertawakan absurditas: ketika niat, tanggung jawab, dan akal sehat seolah kehilangan tempat dalam praktik kekuasaan.

Di titik ini, kritik tidak lagi datang dari podium akademik atau ruang parlemen, melainkan dari panggung komedi. Ini bukan kemunduran budaya. Justru ini penanda yang jujur: ada jarak yang semakin lebar antara bahasa kekuasaan dan pengalaman hidup sehari-hari. Ketika humor menjadi medium kritik yang paling diterima, itu menandakan bahwa rasionalitas publik sedang mencari ruang bernapas.

Kekuasaan yang Menipu

Al-Qur’an telah lama mengurai pola batin ini. QS. Al-Baqarah Ayat 9 menyatakan bahwa mereka yang menipu Allah dan orang-orang beriman sesungguhnya sedang menipu diri mereka sendiri, tanpa mereka sadari. Ayat ini tidak sedang berbicara tentang kecerdikan politik. Ia sedang membongkar ilusi eksistensial manusia yang merasa berkuasa atas kebenaran.

Dalam tafsir kepemimpinan, “menipu orang-orang beriman” dapat dimaknai sebagai mengkhianati kepercayaan publik. Rakyat mungkin tidak memahami seluruh detail kebijakan, tetapi mereka memiliki intuisi moral yang tajam. Mereka tahu kapan sebuah pernyataan selaras dengan realitas, dan kapan ia sekadar kosmetik. Ketika kepercayaan itu disalahgunakan, yang terluka bukan hanya relasi politik, melainkan martabat manusia sebagai subjek yang diharapkan percaya.

Al-Qur’an melanjutkan diagnosisnya dengan kalimat yang lebih dalam: “Dalam hati mereka ada penyakit.” Di sinilah kebohongan menemukan akarnya. Kebohongan bukan pertama-tama soal data yang salah, melainkan soal batin yang tidak lagi jujur pada dirinya sendiri. Ketakutan kehilangan kuasa, kecanduan pengaruh, dan rasa superioritas moral perlahan menggerogoti keberanian untuk berkata benar. Pada tahap ini, kekuasaan tidak lagi melayani kebenaran. Kekuasaan menuntut kebenaran agar menyesuaikan diri dengannya.

Nabi Muhammad SAW mempertegas persoalan ini melalui konsep amanah. Kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar posisi, melainkan titipan. Dalam hadis tentang pemimpin yang menipu rakyatnya, ancaman ukhrawinya sangat keras. Namun pesan terdalamnya bersifat antropologis: pengkhianatan terhadap amanah publik merusak jiwa pelakunya sebelum merusak masyarakat. Pemimpin boleh lolos dari pengadilan dunia, tetapi ia tidak bisa melarikan diri dari keretakan batinnya sendiri.

Penyakit Kepemimpinan

Di sinilah kita dapat memahami apa yang sering disebut sebagai “penyakit kepemimpinan”. Penyakit ini tidak selalu tampil sebagai skandal besar. Ia sering hadir sebagai kelelahan moral, kegelisahan tersembunyi, dan kebutuhan terus-menerus untuk membenarkan diri. Pemimpin yang terjebak di dalamnya akan dikelilingi oleh laporan yang menenangkan, pujian yang terkurasi, dan kritik yang disingkirkan. Organisasi menjadi ruang gema, bukan ruang koreksi.

Penyakit ini menular. Dari batin pemimpin, ia mengalir ke struktur birokrasi, lalu ke masyarakat. Ketika rakyat melihat bahwa kejujuran justru menjadi beban, mereka belajar beradaptasi. Pada tahap ini, kebohongan tidak lagi dianggap menyimpang. Ia dianggap realistis. Inilah momen paling berbahaya dalam perjalanan sebuah bangsa.

Konsep yang kerap disebut sebagai “Qur’an medis” dapat dipahami di sini secara jernih. Al-Qur’an bukan buku kedokteran, tetapi ia mengobati pusat kendali manusia: hati. Ketika Al-Qur’an menyebut dirinya sebagai penyembuh bagi apa yang ada di dalam dada, ia sedang menjelaskan hukum moral yang bersifat universal. Kerusakan batin akan menjelma menjadi kerusakan sosial. Kebohongan yang menetap melahirkan kegelisahan. Kegelisahan yang kronis melemahkan daya hidup. Negara pun mengalami hal yang sama. Negara yang kehilangan kejujuran kehilangan sistem imunnya.

Indonesia hari ini berdiri di persimpangan ini. Bukan karena rakyatnya tidak cerdas, bukan karena budayanya miskin nilai, melainkan karena kejujuran sedang diuji dalam praktik kekuasaan. Banyak warga tidak lagi marah. Mereka lelah. Dan kelelahan publik adalah tanda bahwa kepercayaan sedang terkikis perlahan.

Penutup: Kejujuran Awal Pemulihan

Pemulihan selalu bermula dari satu hal yang sederhana tetapi berat: kejujuran. Kejujuran untuk mengakui keterbatasan dan kejujuran untuk menerima kritik. Kejujuran untuk menempatkan amanah di atas panggung. Tanpa itu, semua reformasi hanya akan menjadi dekorasi.

QS. Al-Baqarah Ayat 9 meninggalkan peringatan yang sunyi tetapi menentukan: kebohongan tidak pernah benar-benar menipu orang lain, selalu kembali kepada pelakunya. Bangsa ini tidak membutuhkan pemimpin yang sempurna tetapi membutuhkan pemimpin yang jujur pada kebenaran dan berani menanggung konsekuensinya. Kejujuran mungkin tidak selalu membawa tepuk tangan, tetapi tanpanya, sejarah hanya akan mencatat kita sebagai generasi yang pandai berbicara, namun lupa mendengar suara nurani.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Get The Look: Modest Look ala Moon Chae Won Pakai Brand Lokal
• 2 jam lalubeautynesia.id
thumb
Riset Ungkap Restless Legs Syndrome Bisa Tingkatkan Risiko Parkinson
• 2 jam lalumediaindonesia.com
thumb
KPK Geledah Kantor Pelayanan Pajak Madya Jakut: Sita Rekaman CCTV, Laptop, Uang
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Seskab: RDMP Pertamina Balikpapan hasilkan BBM standar Euro 5
• 14 jam laluantaranews.com
thumb
Media Spanyol Bingung usai Alvaro Arbeloa Ditunjuk sebagai Pelatih Real Madrid Gantikan Xabi Alonso
• 6 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.