Liputan6.com, Jakarta - Sektor perkebunan merupakan salah satu tulang punggu perekonomian nasional, baik dari sisi sosial atau pun devisa. Karena lebih dari 10,8 juta rumah tangga yang didominasikan oleh petani kecil, menggantungkan hidup mereka pada usaha perkebunan.
Kontribusi sektor tersebut pada ekspor pertanian sangatlah dominan. Sampai pada tahun 2022, nilai ekspor pertanian yang mencapai Rp 640,56 triliun, sebagian besar (97,16 persen) berasal dari sektor perkebunan, dilansir dari Antara, Selasa (13/1/2026).
Advertisement
Penymbang terbesar adalah kelapa sawit dengan nilai sekitar Rp 468,64 triliun atau sekitar 75 persen ekspor dari pertanian, disusul dengan kopi, kako, serta komoditas lainnya, seperti, kelapa, karet, lada, pala, dan jambu mete.
Di tengah dinamika global yang tidak menentu, sektor perkebunan mempunyai potensi besar pada topangan ekonomi yang di tangguh di tahun 2026 dan seterusnya.
Permintaan dunia pada produk pangan, minuman, rempah, dan juga bahan baku industri tetaplah tinggi, namun perlu dijawab dengan strategis yang kuat dan menyeluruh.
Hilirisasi industri adalah kunci peningkatan nilai tambah dan penciptaan lapangan kerja, bersamaan dengan penguatan petani melalui peningkatan produktivitas dan kemitraan usaha.
Penerapan prinsip keberlanjutan dan standar internasional akan terus menjaga akses pasar serta kelestarian sumber daya.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5113102/original/000948300_1738211828-20250130-Banjir_Jalan_Kamal-ANG_4.jpg)


