PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump telah menerima pengarahan komprehensif mengenai berbagai instrumen militer dan operasi rahasia yang dapat digunakan terhadap Iran. Berdasarkan informasi dari pejabat Departemen Pertahanan AS, opsi ini disiapkan sebagai respons atas tindakan keras pemerintah Iran terhadap gelombang protes yang telah menelan ratusan korban jiwa.
Meskipun serangan rudal jarak jauh tetap menjadi opsi utama, Pentagon juga menyodorkan strategi alternatif berupa operasi siber dan kampanye psikologis. Tim keamanan nasional AS dijadwalkan mengadakan pertemuan krusial di Gedung Putih, Selasa (13/1) guna membahas langkah-langkah konkret tersebut.
Presiden Trump sebelumnya menegaskan bahwa militernya sedang menimbang "opsi yang sangat kuat" untuk melakukan intervensi jika pembunuhan terhadap pengunjuk rasa terus berlanjut. "Para pemimpin Iran menelepon saya untuk bernegosiasi, tetapi kita mungkin harus bertindak sebelum pertemuan terjadi," ujar Trump.
Tekanan Ekonomi dan Tarif GlobalSelain opsi militer, Trump telah mengumumkan kebijakan ekonomi yang agresif. Melalui platform Truth Social, ia menyatakan pemberlakuan tarif 25% bagi barang-barang dari negara mana pun yang masih menjalin hubungan komersial dengan Teheran.
"Perintah ini bersifat final dan mutlak," tegas Trump tanpa merinci teknis pelaksanaannya. Langkah ini diprediksi akan memperparah kondisi ekonomi Iran yang saat ini dihantam inflasi harga pangan hingga 70% dan anjloknya nilai mata uang. China, Irak, Uni Emirat Arab, dan Turki sebagai mitra dagang utama Iran diperkirakan akan terkena dampak signifikan dari kebijakan ini.
Diplomasi di Balik LayarDi tengah retorika perang, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengungkapkan adanya perbedaan antara sikap publik Iran dengan pesan yang mereka kirimkan secara rahasia. Ia menyebut pejabat Iran telah menghubungi utusan khusus Steve Witkoff.
"Apa yang Anda dengar secara publik dari rezim Iran cukup berbeda dari pesan yang diterima pemerintah secara pribadi," kata Leavitt. Namun, ia mengingatkan bahwa Trump "tidak takut menggunakan opsi militer jika dan ketika dia menganggapnya perlu."
Korban Jiwa Terus BerjatuhanKrisis legitimasi Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, semakin memuncak seiring laporan dari organisasi HAM Iran Human Rights (IHRNGO) yang menyebut sedikitnya 648 pengunjuk rasa telah tewas, termasuk sembilan anak-anak.
Di sisi lain, Khamenei menuduh AS melakukan "penipuan" dan mengandalkan "tentara bayaran yang berkhianat." Ia justru memuji unjuk rasa tandingan propemerintah yang dikoordinasikan oleh negara.
Sementara itu, putra mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, mendesak Trump untuk segera bertindak guna membatasi jumlah kematian. Pahlavi memperingatkan dunia agar tidak tertipu oleh taktik negosiasi Teheran. "Saya pikir Presiden (Trump) harus membuat keputusan dalam waktu dekat," tuturnya.
Saat ini, warga AS di Iran telah dihimbau untuk segera meninggalkan negara tersebut seiring dengan semakin sulitnya akses informasi akibat pemutusan jaringan internet secara total oleh otoritas Iran. (BBC/Z-2)


.jpg)